Jumat, 11 Desember 2009

afiksasi ism dalam bahasa Arab

AFIKSASI (HARF ZIYĀDAH) PADA NOMINA DALAM BAHASA ARAB
bint_elrasyid@yahoo.com

ABSTRACT
Affixation in Arabic can be formed from the verb stem fi’l by adding prefix (as-sābiq), infix (az-ziyādah) and confix (as-sābiq wa al-lāhiq). Prefix and infix which are used ti form noun ism from the verb stem fi’l consist of prefix mim and infix alif, and confix mim and ta’, confix mim and waw and confix mim and alif.
Adding affix from the adjective stem which consist of prefix hamzah and infix alif while adding affix ahruf-l- ziyādah from the noun stem ism consist of sufix ya syaddah, confix alif and nun, waw and nun, ya and nun, and alif and ta’. Noun in Arabic can be formed from the verb and adjective stem by adding affix. Affix ahruf ziyādah can be added from the verb and adjective stem or noun stem itself. The grammatical meaning of the process of affixation from the verb stem fi’l has 5 (five) points, they are (1). Noun of person (ism fā’il), (2). Noun of object (ism maf’ūl), (3. noun of place (ism makān), (4).noun of time (ism zamān), and (5) noun of thing (ism alat).
The grammatical meaning of infix alif has 2 (two) points, they are (1). Reciprocal, and (2).noun of person. The grammatical of confix mim and ta’ marbūţah states the tool. The grammatical meaning of confix mim and alif states the tool. The grammatical meaning of adding an affix of stem of adjective, that is prefix hamzah has three points, they are ; (1). Transitive, (2). Intensive, (3). Comparative. While the grammatical meaning of infix alif states the person, an adding affixes which based on ism, nouns themselves, those are alif and nun state the dual muśannā, confix waw and nun state the meaning many for masculine (jamak muźakkar)and confix alif and ta state the meaning many for feminine (jamak muannaś).

Keywords: affixation, prefix (as-sābiq), infix (az-ziyādah), confix (as-sābiq wa al-lāhiq), grammatical meaning (ġardun ma’nawī).


Pendahuluan
Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan gagasan, fikiran, dan perasaan. Selain itu, bahasa juga merupakan alat integrasi dan adaptasi sosial sehingga individu dapat saling mengadakan pendekatan baik antar warga yang satu dengan warga yang lainnya maupun terhadap lingkungan sosialnya. Sebagai alat komunikasi, bahasa berperan untuk mengadakan kontrol sosial sehingga setiap individu dapat mempengaruhi individu lainnya melalui keahlian berbicara, menulis dan lain sebagainya. Oleh karena itu, peranan bahasa tersebut begitu besar dalam kehidupan manusia.(Alwi, 1988 : 3).
Bahasa manusia jauh berbeda dengan bahasa makhluk lainnya, karena manusia memiliki bentuk bahasa yang unik. Keunikan bahasa manusia dapat dilihat dari keragamannya. Antara satu kelompok dengan dengan kelompok lainnya memiliki bahasa yang berbeda. Perbedaaan tersebut kemudian menjadi problem dalam berinteraksi satu sama lainnya. Seiring dengan itu, muncul pemikiran untuk mencari persamaan-persamaan universal yang terdapat pada semua bahasa.
Bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan secara luas di planet ini. Bahasa Arab merupakan bahasa utama dari 22 negara seperti Kuwait, Saudi Arabia, Irak, Yordania, Mesir, Sudan dan lain – lain.. Bahasa ini juga merupakan bahasa kedua pada negara-negara Islam karena dianggap sebagai bahasa spiritual Islam. Bahasa Arab tergolong ke dalam rumpun bahasa Semit( Semitic Language) dan memiliki jumlah penutur yang terbanyak di antara bahasa – bahasa Semit lainnya. Pada mulanya Bahasa Arab hanyalah alat komunikasi di antara Bangsa Arab dan kemudian menjadi bahasa agama di dunia Islam setelah turunnya Alquran. Bahasa ini terus mengalami perkembangan dan sejak tahun 1973 di pergunakan sebagai bahasa resmi ke enam di Perserikatan Bangsa-Bangsa di samping bahasa Inggris, Perancis, Rusia, Spanyol, dan Cina (Sumardi, dkk 1974 : 86). Akhir – akhir ini bahasa Arab merupakan bahasa yang peminatnya cukup besar di Negara Barat. Di Amerika misalnya, hampir tidak ada satu perguruan tinggi pun yang tidak menjadikan bahasa Arab sebagai salah satu mata kuliah bahkan terdapat universitas yang membuka khusus lembaga pendidikan bahasa Arab seperti School of Oriental and African Studies di London (Arsyad, 20 : 1).
Bahasa Arab terkenal dengan kekayaan kosakatanya. Kekayaan kosakatanya ini antara lain disebabkan adanya bentuk tunggal, dual, jamak serta didapati jenis maskulin dan feminim. Diantara kajian yang dilakukan para ahli dalam menyatukan persepsi tentang bahasa ini adalah menyatukan kesamaan pembentukan kata dalam kalimat yang ditinjau dari aspek morfologis. Salah satu aspeknya adalah afiksasi atau pengimbuhan yang dilekatkan pada kata dasar. Pengimbuhan pada kata dasar ini mampu memberikan makna yang beragam sehingga dapat memperkaya kosa-kata dalam suatu bahasa.
Afiks adalah morfem terikat yang dilekatkan pada morfem dasar atau akar (Chaer, 1994 : 29). Afiksasi adalah Imbuhan atau bentuk terikat yang apabila ditambahkan pada kata dasar atau bentuk dasar dapat merubah makna gramatikal (KBBI, 1995 : 10). Penambahan morfem asi, afiksasi adalah proses atau hasil penambahan afiks pada akar atau kata dasar,seperti morfem ber pada kata bertiga, morfem er pada kata gerigi , dan morfen an pada kata ancaman. Pembahasan mengenai afiks dapat di temukan dalam setiap buku linguistik umum dan morfologi. Namun demikian, pembahasan pada buku-buku tersebut masih bersifat kurang menyeluruh dan berbeda-beda.
Dalam bahasa Arab afiks dapat diistilahkan dengan حرف الزيادة / harf-l-ziyādah/, yaitu huruf-huruf tambahan yang masuk dalam sebuah kalimat bahasa Arab sehingga dari penambahan tersebut akan muncul berbagai makna yang berbeda. حرف الزيادة /harf –l-ziyādah/ dalam bahasa Arab ada sepuluh yang dirangkai dalam kalimat (سألتمونيها/ saaltamūnīhā). (Nāşif, 1994 : 8). Dari kesepuluh huruf ziyādah tersebut ada beberapa yang dapat disisipkan dalam kalimat nomina ( اسم/ism/). Perubahan makna ini secara implisit juga memberikan makna tambahan kepada kalimat yang disisipi dengan imbuhan tersebut. Penambahan ini sesungguhnya memperkaya bahasa Arab, sebelumnya mendapat penambahan, bahasa Arab pun sudah kaya.
Makalah ini memfokuskan pembahasannya mengenai peranan afiks (حرف الزيادة / harf-l- ziyādah/) dalam bahasa Arab untuk membentuk makna yang beragam mulai dari makna leksikal maupun makna gramatikal. Bentuk-bentuk afiks yang ada dalam bahasa Arab dan manfaat praktis yang dihasilkan dari adanya proses afiksasi ini dalam membantu kegiatan penerjemahan (alih bahasa).

B. Afiks (harf ziyādah) pada Nomina
1. Afiks (harf –l-ziyādah) pada Nomina / اسم / ‘ism’
Afiks (harf-l-ziyādah) yang berlaku pada nomina (ism) merupakan proses yang terjadi dari verba (fi’l) proses ini adakalanya berlaku pada prefiks/awalan (السابق /as-sābiq/). Infiks/ sisipan (الزيادة /az-ziyādah/) maupun konfiks (السابق و اللاحق /as-sābiq wa al-lāhiq/). Sama halnya dengan verba, afiksasi ini memberikan pengaruh pada makna yang dibentuknya. (Ma’lūf , 1992 : 14)



2. Proses Afiksasi Nomina (ism) dari Bentuk Dasar Verba (fi’l)
2.1 Prefiks (as-sābiq) mim (م)
Prefiks ini dibubuhkan padaاسم فاعل / ism fā’il (nomina pelaku) dan/ اسم مفعول ism maf’ūl (nomina penderita) maupun ism makān (nomina yang menyatakan tempat atau penunjuk tempat) yang dibentuk dari verba empat huruf, lima huruf, dan enam huruf (śulāśǐ mazīd wa rubā’īyy).
a. Prefiks mim pada /اسم فاعل ism fā’il / (Nomina Pelaku).
Pembentukan nomina dari verba empat, lima maupun enam huruf pada ism fā’il (nomina pelaku) dibentuk dengan cara menambahkan prefiks mim (م) yang berharakah dammah diawal kalimat verba tersebut sebagai ganti dari huruf yang ada di depan verba tersebut dan huruf sebelum akhirnya berbaris kasrah. (Yulia, 2008 : 108)
Contoh :
أفعل + م = مـفعل /af’ala/+ prefiks mim (م) = /muf’ilun/
b. Prefiks mim pada / اسم مفعول ism maf’ūl / (Nomina Penderita).
Proses pembentukan ism maf’ūl (nomina penderita) dari verba empat, lima maupun enam huruf adalah dengan menambahkan mim yang berharakah dammah di awal kalimat dan huruf terakhirnya berbaris fathah. (Yulia, 2008 : 114)
Contoh :
أفعل + م = مـفعل /af’ala/ prefiks mim = /muf’alun/

c. Prefiks mim pada / اسم مكانism makān/ (Nomina Penunjuk Tempat)
Pembentukan nomina penunjuk tempat dari fi’l (verba) tiga huruf, empat huruf dan enam huruf dapat dibentuk dengan cara sebagai berikut : (Ni’mah, 1997 : 118).
* Apabila fi’l bentuk dasarnya terdiri dari tiga huruf dan ‘ain fi’lnya (huruf kedua) pada fi’l mudāri’ (verba kala kini) berharakah dammah (pola يفعُل / yaf’ulu/ ), maka huruf ya’ di awal fi’l mudāri’ diganti dengan prefiks mim yang berharakah fathah dan huruf sebelum akhirnya berbaris fathah sehingga menjadi مَفعَل / maf’alun/. Contoh :
كتب- يكتب + م = مكتب
/kataba/’ menulis’ /yaktubu/‘dammah ‘ain mudāri’ + prefiks mim = /maktabun/’tempat menulis’
Penambahan morfem mim di awal kalimat يكتب /yaktubu/’ menulis’ dalam bentuk fi’l mudāri’ menjadi مكتب /maktabun/yang mengandung makna tempat menulis.
- Apabila fi’l bentuk dasarnya terdiri dari tiga huruf dan ‘ain fi’lnya (huruf kedua) pada fi’l mudāri’ (verba kala kini) berharakah fathah (pola يفعَُل / yaf’alu/ ), maka pembentukannya adalah dengan mengganti huruf ya’ di awal fi’l mudāri’ (verba kala kini) dengan prefiks mim yang berharakah fathah sehingga menjadi مَفعَل / /maf’alun/. Contoh :
لعب – يلعَب + م = ملعب
/la’iba/’bermain’ - /yal’abu/ ‘fathah ‘ain mudāri’/+ prefiks mim = /mal’abun/’tempat bermain.’ Penambahan morfem mim di awal kalimat يلعَب/yal’abu/’bermain’ dalam bentuk fi’l mudāri’ menjadi ملعب /mal’abun/ yang mengandung makna tempat bermain.

2.1. Infiks (az-ziyādah) alif (ا)
Infiks (az-ziyādah) yang ditambahkan pada bentuk dasar kata kerja dalam proses afiksasi ism dalam bahasa Arab dibubuhkan pada nomina pelaku (/ اسم فاعلism fā’il) yang dibentuk dari kata kerja /fi’l tiga huruf. Penambahan infiks ini terletak antara huruf pertama dan kedua dari bentuk dasar fi’l /kata kerja tersebut. Adapun huruf sebelum akhirnya berharakah kasrah, sehingga menjadi فـاعل / fā’ilun/. (Al-Hamalāwī, 1953 : 76).
Contoh :
قرأ + ا = قـارء
/qara’a/ ‘ membaca’+infiks alif = /qāri’un/’pembaca’
Penambahan morfem alif pada kalimat قرأ /qara’a/ ‘ membaca’ menjadi قـارء /qāri’un/ yang mengandung makna pembaca.
1.3. Konfiks (as-sābiq wa al-lāhiq) mim dan ta’ marbūtah (م- ة)
Konfiks yang ditambahkan pada bentuk dasar dalam nomina /ism bahasa Arab adalah konfiks (mim dan ta’ marbūtah / م- ة). Konfiks mim dan ta’ marbūtah ini dibubuhkan pada ism yang menunjukkan alat. Pembentukan ism yang menunjukkan alat dengan konfiks ini dibentuk dengan cara mengganti prefiks ya’ pada fi’l mudāri’ dengan prefiks mim yang berharakah kasrah serta huruf kedua dan huruf ketiga. Bentuk dasarnya diberi harakah fathah dan sesudah huruf ketiga bentuk dasarnya tersebut ditambahkan ta’ marbūtah sehingga menjadi فعلة /mif’alatun/. Sebagaimana halnya ism yang menunjukkan alat dengan pola مفعل /mif’alun/ , maka pola مفعلة /mif’alatun/ ini juga tidak ditentukan adanya ketentuan tentang fi’l yang dibentuk dengan pola ini. Penambahan konfiks mim dan’ ta’ marbūtah / م- ة mengubah identitas leksikal disertai perubahan status kategorial nomina deverbal. (Ġulāyainī, 1987 : 190).
Contoh:
كنس + م-ة = مـكنسـة
/kanasa/’ menyapu’ +konfiks mim dan ta’ marbutah = /miknasatun/’sapu’
Penambahan morfem mim dan ta’ marbutah pada kalimat كنس /kanasa/ ‘menyapu’ menjadi مـكنسـة/miknasatun/ yang mengandung makna sapu.

1.4. Konfiks (as-sābiq wa al-lāhiq ) mim dan waw (م-و)
Adapun yang dimaksud dengan gabungan afiks mim dan waw adalah penambahan huruf mim di awal dan huruf waw di tengah kalimat. Gabungan afiks ini dibubuhkan pada ism maf’ūl (nomina penderita) yang dibentuk dari fi’l tiga huruf. Pembentukan ism maf’ūl (nomina penderita) dari fi’l tiga huruf dibentuk cara menambahkan prefiks mim yang berharakah fathah serta huruf kedua bentuk dasar (‘ain fi’l) diberi harakah dammah serta di antara huruf kedua dan huruf akhir diberi sisipan huruf waw berharakah sukūn sehingga menjadi : مـفعـول /maf’ūlun/. (Ġulāyainī, 1987 : 191)
1.5 Konfiks (as-sābiq wa al-lāhiq) mim dan alif (م- ا)
Konfiks mim dan alif merupakan penambahan mim di awal dan alif di tengah kata. Konfiks mim dan alif ini dibubuhkan pada ism yang menunjukkan alat. Pembentukan ism yang menunjukkan alat dengan konfiks mim dan alif dengan cara menambahkan prefiks mim yang berharakah kasrah dan diantara huruf kedua dan huruf ketiga diberi tambahan alif serta huruf kedua bentuk dasarnya diberi harakah fathah sehingga menjadi مـفعـال/mif’ālun/. Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, bahwa dalam penambahan afiks pada ism tidak ditemukan adanya perubahan status kategorial dan berfungsi untuk membentuk nomina deverbal. (Ni’mah, 1997 : 123 ).
Contoh :
فتح + م-ا = مـفتـاح
/fataha/’ membuka’+ konfiks mim dan alif = /miftāhun/’kunci’
Penambahan morfem mim dan alif pada kalimat فتح /fataha/’ membuka’ menjadi مـفتـاح /miftāhun/yang mengandung makna kunci.

3. Proses Afiksasi ism (Nomina) dari Bentuk Dasar Adjektiva
3.1. Prefiks (as-sābiq) hamzah (أ) :
Prefiks hamzah ini berlaku pada / اسم تفضيلism tafdhīl/ yang menunjukkan perbandingan dua benda dimana salah satu dari yang dibandingkan itu memiliki kelebihan. (Al-Hamalāwī, 1953 : 81).
Contoh:
Hamzah + (Adj) = N
أ + كبير= أكبر
Prefiks hamzah + /kabīrun/’ besar’ = /akbaru/’ yang lebih besar’
Penambahan morfem hamzah di awal kalimat كبير /kabīrun/’ besar’ menjadi أكبر /akbaru/’ yang memiliki makna sangat besar’.
3.2 Infiksasi ( az-ziyādah) alif (ا) :
Infiks hamzah berlaku pada ism yang termasuk dalam kategori صفة المشابهة /şifah musyabbahah/ yang terdiri dari beberapa wazan. Salah satu dari wazan dari şifah musyabbahah ini ada yang mendapat tambahan huruf ziyādah alif. (ibid)
Contoh :
(Adj)+Alif + = N
جبن + ا = جبـان
/jabana/ ‘takut’ + infiks alif = /jabānun/ ‘penakut’
Penambahan morfem alif di tengah kalimat جبن /jabana/’ takut’ menjadi جبـان /jabānun/ yang memiliki makna penakut.
3.3. Konfiksasi ( as-sābiq wa al-lāhiq) alif dan nun (ا- ن):
Konfiks ini ditambahkan pada bentuk dasar nomina (ism) tunggal, maka tambahan alif dan nun tersebut akan menjadi dual (مثنى / muśannā), yaitu ism (nomina)yang menunjukkan dua. Proses afiksasinya dilakukan di akhir ism tunggal tersebut. (Yāsīn, 1996 : 47)
Contoh :
كتاب + ا- ن = كتابان
/kitābun /’ sebuah buku’ + konfiks alif dan nun = /kitābāni/’ dua buah buku’
Penambahan morfem alif dan nun pada akhir kalimat كتاب /kitābun/’buku’ menjadi كتابان /kitābāni/’ yang mengandung makna dua buah buku.’
3.4. Konfiksasi (as-sābiq wa al- lāhiq) waw dan nun (و- ن):
Dalam bahasa Arab pembentukan jamak ada tiga, pertama جمع مذكرالسالم /jama’mużakkar-l- sālim/’ jamak laki-laki’, kedua, / جمع مؤنث السالم jama’ muannaś –l-sālim/’ jamak perempuan’, ketiga, / جمع تكسيرjama’ taksīr. Adapun jamak mużakkar-l-sālim adalah jamak yang menunjukkan jamak untuk laki-laki dengan menambahkan waw dan nun pada akhir ism (nomina) tunggalnya. (Yāsīn, 1996 : 47-48)
Contoh:
صائـم + و- ن = صائمـون
/şāimun/’seorang laki-laki yang berpuasa’ + konfiks waw dan nun = /şāimūna/ ‘beberapa laki-laki yang berpuasa’
Penambahan morfem waw dan nun pada kalimat صائـم /şāimun/’seorang laki-laki yang berpuasa’ menjadi صائمـون /şāimūna/ beberapa orang laki-laki yang berpuasa.

3.5. Konfiksasi (as-sābiq wa al-lāhiq) ya’dan nun (ي- ن):
Proses afiksasi ya’ dan nun ini belaku juga pada ism (nomina) yang menunjukkan mušannā dalam status nasab dan kasrah (posisi tempat ‘irab yang mewajibkan baris kasrah atau fathah. Selain pada mušannā , konfiks ya dan nun juga berlaku pada جمع مذكر سالم/ jamak mużakkar sālim yang berada dalam status nasab dan kasrah seperti pada mušannā. Namun bedanya kalau pada mušannā sebelum huruf ya’ berbaris fathah sedangkan pada جمع مذكر سالم/ jamak mużakkar sālim sebelum huruf ya’ berbaris kasrah. (Yāsīn, 1996 : 50).
Contoh :
كاتب +ي– ن = كاتبَيـن
/kātibun/’ seorang penulis laki-laki’ + konfiks ya’dan nun = / katibaini/’dua orang penulis laki-laki’
Penambahan morfem ya’dan nun pada kalimat كاتب /kātibun/’ seorang penulis laki-laki’ menjadi كاتبَيـن / katibaini/ yang mengandung makna dua orang penulis laki-laki.
3.6. Konfiksasi (as-sābiq wa al- lāhiq) alif dan ta’ (ا- ت):
Konfiks alif dan ta’ berlaku pada jamak muannaš-l- sālim yaitu dengan menambahkan afiks di akhir dari ism (nomina) tunggal. Dalam proses pengimbuhannya, apabila huruf terakhir pada ism tersebut terdapat huruf ta’ maka huruf ta’ nya dibuang terlebih dahulu, kemudian langsung dibubuhi afiks alif dan ta’. (Qabsy , 1979 : 45).
Contoh :
طالبة + ا- ت = طالبـات
/Ţālibatun/ ‘ seorang mahasiswi’ + konfiks alif dan ta’ = /Ţālibātun/’beberapa orang mahasiswi’
Penambahan morfem alif dan ta’ pada kalimat طالبة /Ţālibatun/ ‘ seorang mahasiswi’ menjadi طالبـات /Ţālibātun/yang mengandung makna beberapa orang mahasiswi.
C. Makna Gramatikal (غرض معنوي/ġardun ma’nawī/)Afiksasi Nomina (ism) dari Bentuk Dasar Verba (fi’l)
1 . Prefiks (as-sābiq) mim.
Prefiks (as-sābiq) mim apabila bergabung dengan bentuk dasar dan membentuk nomina deverbal (kata benda yang terbentuk dari kata kerja), maka gabungan tersebut menyatakan lima makna: (Al-Hamalāwī, 1953 : 89).
1. Sebagai pelaku ( اسم فاعل/ism fā’il/), yaitu sebuah bentuk nomina yang pengertiannya menunjukkan pelaku dari suatu aksi / fi’l.
Contoh :
د رس + م = مـدرس
/darasa/’ belajar’ + prefiks mim = /mudarrisun/’ guru (orang yang mengajar)’, penambahan morfem mim di awal kalimat /darrasa/’mengajar’ menjadi /mudarrisun/’ yang mengandung makna seorang guru. Maka dalam susunan kalimat :
هو مـدرس ناشط فله راتب كثير
/huwa mudarrisun nāsyitun falahu rātibun kaširun/ ‘dia adalah seorang guru yang rajin dan berhak mendapat gaji yang tinggi’ .
Ism (nomina) dari kata مـدرس /mudarrisun/ merupakan nomina yang berasal dari bentuk dasar verba/ fi’l empat huruf dan setelah melalui proses afiksasi terbentuklah kata مـدرس /mudarrisun/ yang menunjukkan pelaku dari suatu perbuatan.
2. Penderita (اسم مفعول / ism maf’ul/), yaitu sebuah ism /nomina yang menunjukkan sesuatu yang dikenai pekerjaan.
Contoh :
أقطع + م = مقطع
/aqaţa’a/’ memotong’ + prefiks mim = /muqţa’un/’ yang dipotong’
Apabila disusun dalam kalimat menjadi :
هذا الحبل مـقطع على أربعة أقسام
/hażā -l-hablu muqţa’un ‘ala arba’ati aqsāmin/ ‘ tali ini dipotong atas empat bagian.’
Nomina مقطع /muqţa’un/’ merupakan nomina / ism yang berasal dari bentuk dasar verba/ fi’l empat huruf dan kemudian verba tersebut mendapat tambahan prefiks/sābiq mim sehingga menjadi nomina yang menyatakan sesuatu yang dikenai pekerjaan.
3. Menyatakan tempat اسم مكان /ism makān/
Contoh :
لعب + م = ملعب
/la’iba/’ bermain’ + prefiks mim = /mal’abun/ ‘ tempat bermain’
Dalam kalimat dapat disusun menjadi :
الأولاد يلعب في ملعب
/al-aulādu yal’abu fī mal’abin/ ‘anak-anak sedang bermain di tempat bermain’.
Ism/ nominaملعب /mal’abun/ merupakan nomina yang berasal dari bentuk dasar tiga huruf. Kemudian verba/fi’l bentuk dasar tersebut mendapat prefiks /sābiq mim sehingga maknanya menyatakan sesuatu yang menunjukkan tempat.
4. Menyatakan waktu اسم زمان) / ism zamān/(
Contoh:
غرب + م = مغرب
/ġaraba/’ terbenam’ + prefiks mim = /maġrib/’ waktu terbenam’
Dalam kalimat dapat disusun seperti :
حضر الضيف في مـغرب
/hadara –l- daifu fi maġribin/ ‘tamu itu datang pada waktu maghrib.’
Nomina مغرب /maġrib/ pada kalimat di atas merupakan nomina yang berasal dari verba / fi’l tiga huruf. Dengan adanya penambahan prefiks /sābiq mim pada bentuk dasar tersebut, maka maknanya menyatakan masa/ waktu.

5. Menyatakan alat اسم الة)/ ism alat/(
Contoh:
فتح + م = مفتاح
/fataha/’ membuka’ + prefiks mim = /miftāhun/ ‘ kunci’
Dalam kalimat dapat disusun sebagai berikut:
الولد يفتح دولابا بالـمـفتاح
/al-waladu yaftahu dulāban bi -l-miftāhi/ ‘ anak laki-laki itu membuka lemari dengan kunci.’
Nomina miftāhun berasal dari bentuk dasar verba tiga huruf/ fi’l śūlāšī. Bentuk dasar ini kemudian digabungkan dengan prefiks (as-sābiq) mim sehingga maknanya menyatakan alat yang digunakan.
2. Infiks (az-ziyādah) alif
Infiks ( az-ziyādah) alif memiliki 2 makna yaitu : (Ibid).
1. Resiprokal (مشاركة / musyārakah)
Contoh :
ضرب + ا = ضـارب
/daraba/’ memukul’ + infiks alif = /dāraba/’saling memukul’
Dalam kalimat dapat disusun sebagai berikut:
ضـارب علي أحمد
/dāraba ‘aliyyun Ahmada/’ Ali dan Ahmad saling memukul’

Verba/ fi’l ضـارب /dāraba/ merupakan bentuk fi’l/ verba yang berasal dari bentuk dasar tiga huruf/ fi’l śūlāšī . Bentuk dasar tersebut kemudian mendapat tambahan infiks/ziyādah alif. Gabungan infiks tersebut dengan bentuk dasarnya menyatakan makna resiprokal.
2. Nomina Pelaku ( / اسم فاعلism fā’i/l)
Contoh :
رجع + ا = راجع
/raja’a/’ pulang’ + infiks alif = /rāji’un/’ orang yang pulang’

Jika disusun dalam kalimat maka dapat disusun sebagai berikut :
هو راجع الى بيته
/huwa rāji’un ilā baytihi/’ dia orang yang pulang ke rumahnya.’
Nomina/ism راجع /rāji’un/ berasal dari verba dasar tiga huruf/ fi’l śūlāšī . bentuk dasar ini kemudian bergabung dengan infiks alif dan membentuk nomina untuk menyatakan makna pelaku.

3. Konfiks (as-sābiq wa al-lāhiq) mim dan ta’ marbūţah (م- ة)
Konfiks mim dan ta’ marbūţah mempunyai makna alat, contoh:
سطر + م- ة = مسطرة
/şaţara/ ‘ menggaris’ + konfiks mim dan ta’ marbūţah = /misţaratun/’ penggaris’
Jika disusun dalam kalimat maka menjadi :
إشترى التلميذ مسطرة
/isytara -l-tilmiżi misţaratan/’ murid itu membeli penggaris’.
Ism/nomina مسطرة /misţaratun/ merupakan nomina yang berasal dari bentuk dasar verba tiga huruf. Bentuk dasar ini kemudian mendapat tambahan konfiks (م-ة/ mim dan ta’ marbūţah) dan menyatakan alat yang digunakan.

4. Konfiks (as-sābiq wa al-lāhiq) mim dan waw (م-و)
Konfiks mim dan waw mempunyai makna sesuatu yang dikenai perbuatan (مفعول به / maf’ūl bihi/).
Contoh :
سمع + م- و= مسمـوع
/sami’a/’ mendengar’ + konfiks mim dan waw = /masmū’un/’ yang didengar’
Penambahan morfem mim dan waw di awal kalimat سمع/sami’a/’ mendengar’ menjadi مسمـوع /masmū’un/’ yang mengandung makna sesuatu yang didengar.
Jika disusun dalam kalimat menjadi :
صوته غير مـسمـوع
/şautahu ġairi masmū’in/ ‘suaranya tidak dapat didengar’
Nomina مـسمـوع /masmū’un/’ merupakan nomina yang berasal dari tiga verba tiga konsonan. Kemudian verba tiga konsonan itu mendapat tambahan berupa gabungan afiks mim dan waw sehingga maknanya menyatakan sesuatu yang dikenai pekerjaan.

5. Konfiks ( as-sābiq wa-al- lāhiq) mim dan alif (م- ا)
Konfiks mim dan alif apabila bergabung dengan bentuk dasar, maka gabungan tersebut menyatakan makna alat yang digunakan, contoh:
فتح + م – ا = مفتـاح
/fataha/’membuka’ + konfiks mim dan alif = /miftāhun/’ kunci’
Jika disusun dalam kalimat menjadi:
هي تحمل المفتـاح
/hiya tahmilu -l-miftāha/ ‘ dia (perempuan) membawa kunci’
حرث + م- ا = مـحراث
Nomina مفتـاح /miftāhun/ merupakan nomina yang berasal dari bentuk dasar verba tiga huruf. Kemudian bentuk dasar ini mendapat tambahan afiks berupa gabungan afiks mim dan alif. Gabungan tersebut menyatakan alat yang digunakan.

D. Makna Gramatikal (غرض معنوي/ġardun ma’nawī/)Afiksasi Nomina (ism) Berbasis Adjektiva
1. Prefiks (as-sābiq) hamzah : (أ--)
Apabila prefiks/sābiq hamzah bergabung dengan bentuk dasar adjektiva maka gabungan tersebut menghasilkan makna : (ibid).
a. Transitif ( متعدي/ muta’addi/ ).
Contoh:
اكرم علي أبـاه
/akrama ‘aliyyun abāhu/ ‘Ali memuliakan ayahnya’
Adjektiv akrama apabila bergabung dengan prefiks hamzah maka gabungan tersebut menyatakan makna transitif.
b. Menyatakan bersangatan ( المبالغة/ al-mubalaġah/)
Contoh :
أبرد الهواء
/abradu -l-hawā’u/ ‘ udara sangat dingin’
Contoh lain :
إسود شعر علي
/ iswadda sya’ru ‘aliyyin/ ‘ rambut si ‘Ali sangat hitam’
Lazimnya prefiks /sābiq ini apabila bergabung dengan adjektiva digunakan untuk menunjukkan warna. Adjektiva abrada dan iswadda bergabung dengan prefiks hamzah menyatakan makna yang bersangatan.
c. Menyatakan lebih dari (أفضل من /afdalu min).
Contoh:
هو أكبر من أخيه
/ huwa akbaru min akhīhi/’ dia lebi besar dari saudara laki-lakinya’
Contoh lain;
الجزيرة جاوى أصغر من الجزيرة سومطرى
/al-jazīratu Jawā aśġaru min-l- jazīrati sumaţrā/’ pulau Jawa lebih kecil dari pulau Sumatera’
Adjektiva akbara bergabung dengan prefiks/ sābiq hamzah , maka gabungan tersebut menyatakan makna lebih.

2. Infiks (az-ziyādah) alif (-- ا--) :
Apabila infiks alif bergabung dengan bentuk dasar adjektiva maka gabungan tersebut menghasilkan makna : (Syāhin, 1980 : 23).
Pelaku ( اسم فاعل/ ism fā’il)
Contoh:
هو تـاجر امين
/huwa tājirun amīnun/ ‘dia seorang pengusaha yang jujur’

Contoh lain:
هي طـالبة مجتهدة
/hiya ţālibatun mujtahidatun/ ‘ dia seorang mahasiswi yang rajin’

E. Makna Gramatikal (غرض معنوي/ġardun ma’nawī /) Afiksasi Nomina (ism) Berbasis Nomina (ism)
1. Konfiks (as-sābiq wa al- lāhiq) alif dan nun (-- ان) :
Apabila konfiks alif dan nun bergabung dengan bentuk dasar ism/ nomina itu sendiri maka gabungan tersebut menyatakan makna: (Ġulāyainī, 1987 : 195 ).
* dual مـثنـى /muśannā/
Contoh :
الطالبـان يذاكران دروسهما
/aţ-ţalibāni yużākirāni durusahumā/ ‘dua orang mahasiswa itu mengulangi pelajarannya’
Contoh lain:
البنتـان تلعبـان في الحديقة
/al-bintāni tal’abāni ‘fi-l- hadīqati/ ‘ dua orang anak perempuan itu bermain di kebun’
السارقان مقبوضان
/as-sāriqāni maqbūdāni/’dua orang pencuri laki-laki itu ditangkap’

2. Konfiks (as-sābiq wa al-lāhiq) waw dan nun (-- ون) :
المؤمـنون يطيعـون الله ورسوله
/al-mukminūna yuţī’ūna –l-laha wa rasūlahu/ ‘orang-orang yang beriman ta’at kepada Allah dan RasulNya,


حضر المحاضرون قمة المؤتمرالتربوية
/hadara-l- muhādirūna qimmata-l- mu’tamar-l- tarbiyyati/’ para dosen itu menghadiri konferensi puncak pendidikan’
3. Konfiks (as-sābiq wa al-lāhiq) alif dan ta’ (--ات) :
الطالبـات يتعلمن اللغة العربية
/aţ-ţālibātu yata’allamna -l-luġat-l-’arabīyyata/ ‘ para mahasiswi itu belajar bahasa Arab ‘
العاملات يعملن عملا ناشطا
/al’āmilātu ya’malna ‘amalan nāsyitān/ ‘ para pekerja itu bekerja secara sungguh-sungguh’

F. Kesimpulan
Untuk membentuk nomina dalam bahasa Arab dapat dibentuk dari bentuk dasar verba dan adjektiva dengan penambahan afiks. Afiks /harf-l- ziyādah tersebut dapat ditambahkan dari bentuk dasar verba, adjektiva maupun bentuk dasar nomina itu sendiri.
Proses afiksasi dalam bahasa Arab dapat dibentuk dari bentuk dasar verba/fi’l dengan penambahan prefiks/awalan(as-sābiq), infiks/sisipan (az-ziyādah), dan konfiks/awalan dan akhiran (as-sābiq wa al-lāhiq). Prefiks dan infiks yang digunakan untuk membentuk nomina/ism dari bentuk dasar verba/ fi’l terdiri dari prefiks mim dan infiks alif, serta konfiks mim dan ta’, konfiks mim dan waw dan konfiks mim dan alif. Penambahan afiks dari bentuk dasar adjektiva terdiri dari prefiks hamzah dan infiks alif sedangkan penambahan afiks/ ahruf-l- ziyādah dari bentuk dasar nomina/ism terdiri dari sufiks ya syaddah, konfiks alif dan nun, waw dan nun, ya’ dan nun serta alif dan ta’.
Makna gramatikal (غرض معنوي/ġardun ma’nawī /) dari proses afiksasi dari bentuk dasar verba/fi’l memiliki 5 (lima) makna yaitu : (1). Nomina pelaku (ism fā’il), (2). Nomina penderita (ism maf’ūl), (3). Menyatakan tempat (ism makān), (4). Menyatakan masa (ism zamān), dan (5). Menyatakan alat. Makna gramatikal dari infiks alif memiliki 2 makna yaitu: (1). Resiprokal, (2) nomina pelaku. Makna gramatikal dari konfiks mim dan alif menyatakan alat dan makna gramatikal dari konfiks mim dan ta’ marbūţah menyatakan alat. Makna gramatikal penambahan afiks dari bentuk dasar adjektiva yaitu prefiks hamzah memiliki makna : (1). Transitif, (2) bersangatan, (3) lebih. Sedangkan makna gramatikal dari infiks alif menyatakan makna : pelaku, dan penambahan afiks yang berbasis ism/nomina itu sendiri yaitu alif dan nun menyatakan makna dual/muśannā, konfiks waw dan nun menyatakan makna banyak untuk laki-laki (jamak mużakkar) dan konfiks alif dan ta’ yang menyatakan makna banyak untuk perempuan (jamak muannaś).





DAFTAR BACAAN
Al-Hamalāwī, Ahmad.1953. Kitābu Syażā -l-‘Urfi fī Fanni –l-Şarf. Beirūt: Dār el-Kutub ‘ilmīyyah.
Al- Khauli, Muhammad Ali.1982. A Dictionary of Theorical Linguistic (English-Arabic). Libanon : Librarie du Liban.
Al-Wasilah, A.Chaedar.1993. Linguistik Suatu Pengantar. Bandung : Angkasa.
Alwi, Hasan.dkk.1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Edisi ke-3.
Arsyad , Azhari, 2003. Bahasa Arab dan Metode Penggunaannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Chaer, Abdul.1994. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.
Departemen Pdan K. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Ġulāyainī, Muştafā.1987. Jāmi’u -l-Durūsi al-‘Arabīyyati. Beirut: Al-Maktabah al-‘Aşrīyyah.
Hasan, Tamām.1979. al- Luġatu –l-l’Arabīyyati Ma’nāha wa Mabnāha. Beirūt: Al- Hai’ah al-Mişrīyyah al-‘Ammah li al-Kitāb.
Ma’lūf , Louis.1992. al-Munjidu fi -l-Luġah wa -l-‘Alāmi. Beirūt: Dār al-Masyriq.
Nāşif, Hafnā Bek. 1994, Qawā’id al-luġat al-‘Arabĭyyah. Beirut : Maktabah Nahdah.
Nida, E.A.1962. Morphology. Ann: The University of Michigan Press.
Ni’mah, Fuad. 1997. Mulakhkhasu Qawā’idi -l-Luġati-l-‘Arabīyyati. Beirūt : Dār aś-Śaqāfah al-Islāmīyyah.
Qabsy, Ahmad. 1979.Al-Kāmil fĭ an-Nahwu wa şarf wal’irāb. Beirut : Dār Jail.
Syāhin, Taufīq Muhammad. 1980. ‘Awāmiul -l-Tanmīyati li- l-Luġati al-‘Arabīyyati. Kairo: Maktabah Wahbah.
Wāfī, ‘Alī ‘Abd -l-Wāhid.1962. Fiqhu Luġati. Kairo: Lajnah -al-Bayān -al-‘Arabīyyah
Warson, Munawwir. 1994. Qāmūs Munawwir. Ma’had al-Munawwir Krapyak: Yogyakarta
Yulia, Fatma.2008. Al-Lubāb fi ta’lĭm al-luġat al-‘Arabĭyyah. Ciptapustaka Media Perintis : Bandung.
Yāsīn, Hāfiz .1996. Ittihāfu-l-Ţarf fī ‘ilm -l-Şarfi. Suria: Dar al-‘AŞoma’i.

ß Dosen Fakultas Dakwah IAIN SU DPK Panca Budi.

2 Responses to “afiksasi ism dalam bahasa Arab”

  • bocahsastra says:
    15 Oktober 2012 19.31

    assalamualaikum gan...
    gan maw tx ni eh gan punya artikel persamaan dan perbedaan antara afikasi dalam bahasa indonesia dan bahasa arab????
    tolong dijawab gan??

  • m nur qomarudin says:
    24 April 2014 09.41

    artikel yg bagus. jazakalloh khoir

Poskan Komentar