Jumat, 30 Juli 2010

ightanim khamsin qabla khamsin (إغتنم خمس قبل خمس)

PENGHARGAAN PADA WAKTU
By : Fatma Yulia

Dari Ibn ‘Abbas ra mengatakan bahwa Rasulullah Saw mengatakan kepada seorang pemuda dan beliau memberikan pengajaran kepadanya : “ Raihlah lima hal sebelum datang lima hal yaitu : (1) masa mudamu sebelum datang masa tuamu, (2) kondisi sehatmu sebelum datang masa sakitmu, (3) masa kayamu sebelum masa faqirmu, (4) masa lapangmu sebelum masa sibukmu, (5) masa hidupmu sebelum kematianmu. (Hadis Shahih dengan syarat Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberikan peringatan kepada manusia untuk mendayagunakan waktu yang Allah anugerahkan dengan sebaik-baik-baiknya. Penghargaan pada waktu dapat dilihat dari keberkahan waktu tersebut berupa amal-amal yang juga bermanfaat selama waktu itu digunakan. Waktu digunakan dalam arti “ batas akhir kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan suatu peristiwa.” Alquran seringkali menggunakan kalimat waktu dalam konteks kadar tertentu dari satu masa. Dalam surat an-Nisâ’(4) : 103 dijelaskan “ Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban atas orang-orang mukmin yang tertentu waktu-waktunya.” Kata ini memberikan kesan keharusan adanya pembagian teknis tentang masa yang dialami dan yang dilalui seperti detik, menit, jam, hari , minggu, bulan, tahun dan seterusnya. Disamping itu keharusan adanya penyelesaian sesuatu dalam bagian-bagian tersebut agar tidak membiarkannya berlalu dengan hampa dan sia-sia. Rezeki yang tidak diperoleh hari ini, masih dapat diharapkan besok hari, tetapi waktu yang berlalu hari ini tidak mungkin kembali lagi.
Ada lima hal yang dipesankan oleh Rasulullah Saw dalam hadis ini tentang perlunya menggunakan masa hidup ini dengan hal-hal yang penuh manfaat. Kalimat yang disampaikan dalam hadis ini juga cukup sederhana namun memiliki makna yang sangat mendalam. Lima hal yang harus diraih sebelum datang lima hal yang dapat membuat manusia menyesal.
1. Masa muda sebelum masa tua (syabâbaka qabla haramika)

Masa muda merupakan masa yang paling indah karena masa inilah merupakan puncak kesuksesan seseorang apabila dia mampu menggunakannya dalam hal-hal yang bermanfaat. Masa muda masa yang paling baik untuk menuntut ilmu. Imam Syafi’I mengatakan bahwa : hayátul fatá fîl ‘ilmi wattuqâ (kehidupan seorang pemuda itu haruslah dipenuhi dengan kegiatan menuntut ilmu dan bertaqwa). Kegiatan menuntut ilmu harus menjadi prioritas dalam mengisi masa muda. Sebagaimana pepatah Arab : “ at-ta’allum fi shiġār kannaqsyi ‘alal hajar (belajar diwaktu muda seperti mengukir di atas batu), artinya menuntut ilmu di waktu muda memberikan kesan kuatnya ingatan. Sedangkan belajar di masa tua ingatan selalu berkurang. Merenung usia yang sudah dijalankan apakan sudah dilakukan amalan-amalan yang terbaik? Ada perbedaan antara kalimat usia dan umur , dalam bahasa Arab usia disebut sinnun yang berarti gigi, dan dari kata tersebut berasal kalimat sanah yang berarti tahun, dan apabila ditarik dalam bentuk kata kerjanya adalah sanna yang berarti mengikuti. Semua bentuk kalimat ini dapat ditarik kesamaannya bahwa usia itu biasanya ditentukan dengan jumlah gigi mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Dikaitkan dengan tahun bahwa seluruh pertumbuhan itu berlangsung dari tahun ke tahun sehingga dikenal istilah ulang tahun. Dilihat dari bentuk kata kerjanya sanna berarti “mengikuti “ bermakna apakah pertumbuhan itu dikuti dengan kebaikan atau tidak.
Sedangkan kata umur/’umr seakar dengan kata ma’mûr. Ini mengisyaratkan bahwa usia manusia dipermukaan bumi ini harus diisi dengan sesuatu yang memakmurkan jiwa raganya serta melakukan aktivitas positif sehingga dapat memakmurkan bumi sebagaimana diperintahkan Allah Swt (QS. Hûd 11 : 61). Kata ‘umr biasa digunakan untuk waktu yang cukup panjang yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas yang memadai. Apabila waktu muda disia-siakan maka penyesalan yang akan dihadapi ketika usia itu sudah berlalu. Berapa banyak orang mengeluh ketika menyadari bahwa masa mudanya telah berlalu dengan sia-sia, bahkan berharap kalau masa muda itu bisa kembali ia akan mengisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Namun harapan itu hanya merupakan hayalan belaka.
2. Masa Sehat Sebelum Datang Masa Sakit (shihhatuka qabla saqamika)
Ada ungkapan yang menyatakan “ Kesehatan itu harganya sangat mahal”, artinya orang sanggup menghabiskan uang berjuta-juta hanya untuk membuat dirinya sehat, bahkan rela menjual harta bendanya hanya untuk mendapatkan kondisi sehat. Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia termasuk soal kesehatan. Dalam soal makanan, Islam memilihkan makanan yang boleh dimakan dan yang tidak boleh dimakan. Selain itu juga mengatur takaran makanan yang boleh dikonsumsi tidak boleh melebihi batas sepertiga dari kandungan perut sehingga tidak menimbulkan penyakit. Untuk kesehatan fisik Islam menganjurkan olahraga dan puasa untuk mengatur kadar gula dalam darah. Apabila tuntunan Islam tentang kesehatan dilakukan maka penyakit akan menjauh dari tubuh kita. Seringkali ketika dalam kondisi sehat kita tidak teringat untuk melangkahkan kaki ke mesjid ataupun menggerakkan lidah untuk membaca Alquran, namun ketika diuji dengan penyakit maka hati ini ingin ke mesjid begitu juga dengan lidah yang rindu membaca Alquran. Ketika sehat selalu melupakan Allah, namun ketika sakit dalam berbagai kondisi duduk, berbaring maupun berdiri ingat kepada Allah.
Kata sehat sering digabungkan dengan kata ‘afiyah yang berarti bukan hanya kesehatan tetapi juga perlindungan yang menjadikan seluruh anggota tubuh dapat berfungsi sesuai dengan tujuan penciptaannya. Kaki yang sehat adalah yang dapat melangkah dengan baik. Kaki yang ‘afiat adalah kaki yang melangkah menuju arah yang positif karena hanya dengan demikian pemiliknya memperoleh perlindungan dan keselamatan. Selama diberi kesehatan maka kondisi sehat harus dijaga dengan mengatur pola hidup dan pola makan yang sehat dan dianjurkan lebih banyak berpuasa karena Rasulullah Saw menganjurkan puasa agar menjadi sehat (Shumū tashihhū).
3. Masa Kaya Sebelum Datang Masa Fakir (ghinâ’uka qabla faqrika)
Ketika diberi kelapangan rezeki kita diingatkan dengan rezeki tersebut apakah mengandung keberkahan atau tidak. Ketika diberi kelapangan rezeki ini dianjurkan untuk bersedekah dan menginfakkan harta yang direzekikan. Dalam surat At-Thalāq (65:7) Allah mengingatkan orang-orang yang memiliki kelapangan harta : ” Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya; dan sesiapa yang disempitkan rezekinya, maka hendaklah ia memberi nafkah dari apa yang diberikan Allah kepadanya (sekadar yang mampu); Allah tidak memberati seseorang melainkan (sekadar kemampuan) yang diberikan Allah kepadanya. (Orang-orang yang dalam kesempitan hendaklah ingat (bahwa) Allah akan memberikan kesenangan sesudah berlakunya kesusahan.”
Dalam hal ini Rasulullah Saw juga mengingatkan umatnya untuk tidak bersikap boros dan menganjurkan hidup hemat. Kebanyakan manusia akan sukses ketika diuji dengan kesempitan namun ketika diuji dengan kelapangan seringkali gagal dan putus asa. Manakala diuji dengan kelapangan rezeki manusia sering melupakan saudaranya yang membutuhkan bantuan, namun setelah diuji dengan kefakiran hati selalu tergerak untuk membantu bahkan memasang niat berupa nazar kalau diberi kekayaan akan bersedekah. Harta adalah milik Allah , maka Allah berkehendak memberi kelapangan bagi seseorang dan bahkan mengambilnya kembali.
4. Masa Lapangmu Sebelum Masa Sempitmu (Farāglika Qabla Syuglika)
Masa lapang maksudnya adalah ketika memiliki kesempatan yang luas, maka kesempatan itu harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Karena masa sibuk akan segera menggantikan masa lapang tersebut. Pekerjaan yang dikerjakan harus dilakukan dengan segera tanpa menunda-nundanya. Don’t till tomorrow if you can do it today kata-kata bijak yang mungkin sering kita dengar. Hal yang terpenting adalah apabila pekerjaan yang dilakukan mengandung nilai tambah dan dapat diselesaikan dalam waktu yang sama dengan pekerjaan yang sama tanpa nilai tambah. Sebagai contoh sholat jama’ah lebih dianjurkan daripada sholat sendirian karena waktu yang digunakan untuk kedua sholat tersebut sama bahkan tidak berbeda jauh namun nilai tambah berupa pahala jauh lebih tinggi yaitu 27 : 1.
5. Masa Hidupmu Sebelum Kematianmu (Hayâtika Qabla Mautika)
Kehidupan merupakan sarana percobaan bagi manusia untuk melihat diantara manusia tersebut yang terbaik amalannya. (QS. Al-Mulk 67: 2). Bagi manusia yang menyadari bahwa dunia merupakan ladang amal yang hasil panennya akan dituai di akhirat kelak pasti melakukan hal-hal yang bermanfat bagi kehidupan. Manusia yang terlanjur mencintai dunia secara berlebihan (hubban jamman) selalu lupa dengan kematian. Sebaliknya manusia yang putus asa selalu ingin cepat mengakhiri hidupnya di dunia. Padahal kematian itu pasti akan datang dan kedatangannya pun tidak dapat ditangguhkan maupun dipercepat. Hal yang perlu dipersiapkan untuk menyambut kedatangannya adalah bekal yang cukup berupa amal-amal sholeh. Manakala manusia telah meninggalkan dunia ini maka selesailah fungsinya sebagai khalifah di bumi ini. Rasulullah Saw mengingatkan manusia untuk selalu mengisi kehidupan dengan hal-hal yang bermanfaat untuk bekal di akhirat. Setiap pekerjaan yang dilakukan harus mengingatkan akan kematian agar muncul rasa optimis akan pahala yang akan dituai. Begitu juga dengan harta yang dicari harus dengan jalan halal agar pertanggungjawaban di akhirat tidak terlalu berat. Orang yang ingat mati takut memakan ataupun mencari rezeki dengan cara yang tidak halal dan takut menimbun-nimbun harta karena harta tersebut akan tinggal dan terpisah manakala telah berpisah dengan dunia.Harta yang dicari, ilmu yang diajarkan merupakan bekal yang dapat menyelamatkan manusia dari siksa neraka manakala harta tersebut diinfaqkan maupun disedekahkan. Ilmu yang bermanfaat dalam membentuk kemaslahatan umat akan menjadi amalan yang mengalir terus menerus. Dalam surat Al-Munāfiqūn (63 : 10) Alquran menjelaskan tentang sifat manusia yang meminta agar dikembalikan ke dunia supaya mereka dapat berbuat baik dan beramal sholeh walaupun hanya sebentar, namun permintaan ini dijawab Allah dengan ayat selanjutnya(63: 11) bahwa ketika ajal telah ditentukan maka manusia itu tidak dapat menunda-nunda ataupun memperlambatnya.

Wallahu ‘alam bisshawwab.

0 Responses to “ightanim khamsin qabla khamsin (إغتنم خمس قبل خمس)”

Poskan Komentar