Senin, 17 Agustus 2009

Marhaban Ya Ramadhan Mubarak.. ana asyuuf 'ala hudhurik

MENGGAPAI INDAHNYA RAMADHAN
“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS.2: 183).

Alhamdulillah , sungguh sangatlah beruntung orang-orang yang kembali dapat menjumpai bulan yang sangat istimewa di antara bulan-bulan Islam lainnya yaitu bulan Ramadhan. Allah menciptakan waktu sungguh sangat istimewa, mulai dari hari yang sangat istimewa di sepertiga malamnya dimana manusia yang melakukan tahajjud akan Allah istimewakan dirinya di tempat yang tertinggi dan istimewa di hadapan orang-orang yang beriman. Begitu juga dengan minggu yang Allah istimewakan dengan hari Jum’at. Dalam bilangan tahun, Allah mengistimewakan umat manusia dengan bulan Ramadhan. Barangsiapa menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh kegembiraan, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.
Sungguh sangat mulia agama Islam menyambut bulan Ramadhan saja , dosa kita sudah diampunkan, apalagi jika kita mengistimewakan bulan Ramadhan dengan segala amalan dan aktivitas yang istimewa. Maka selayaknya kita bersyukur manakala bulan Ramadhan yang merupakan bulan suci ini dapat kita nikmati dan kita masih diberi kesempatan untuk mengisinya dengan amalan yang sholeh. Pada bulan yang penuh dengan keistimewaan yaitu bulan yang merupakan jamuan Allah kepada orang-orang yang beriman siapapun yang mengisi detik demi detik di bulan Ramadhan dengan perilaku yang istimewa maka niscaya dalam pandangan Allah ia akan menjadi orang yang sangat istimewa. Allah akan menghapuskan dosa-dosanya, menaikkan derajatnya, setiap doa diijabah dan Allah menyediakan surga baginya. Rasulullah Saw bersabda : “ Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala Allah maka diampuni segala dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR Bukhari). Manusia yang istimewa di sisi Allah adalah manusia yang paling taqwa dan ia merupakan orang yang juga paling mulia. Ramadhan merupakan sarana untuk menciptakan pribadi yang paling mulia yaitu pribadi yang muttaqin. Ramadhan akan menjadi lebih berkualitas apabila kita mampu mengisinya dengan segala aktivitas yang istimewa. Dan yang perlu menjadi catatan penting buat kita adalah puasa Ramadhan kali ini haruslah menjadi puasa yang terbaik dari puasa kita sebelumnya, karena jikalau usia kita disampaikan Allah sampai bulan Ramadhan tahun ini maka seharusnya kita mengisinya dengan sebaik-baik amalan. Jangan sampai Ramadhan kali ini lebih menurun kualitas ibadah kita dibandingkan dengan ibadah pada Ramadhan sebelumnya na’uzubillah. Agar Ramadhan kali ini lebih berkualitas maka seharusnya kita menyusun rancangan kegiatan amal-amal ibadah kita hari demi hari agar tidak ada yang luput dari kebaikan.
Selama bulan Ramadhan, Allah mengganti pahala setiap amalan sunat dengan pahala amalan wajib sedangkan amalan wajib Allah melipat gandakan beratus kali lipat. Membaca satu ayat Alquran pada bulan ini pahalanya seakan-akan mengkhatamkan Alquran. Bulan Ramadhan kita jadikan bulan training dan bulan bercocok tanam. Pada zaman Rasulullah SAW bulan ini menjadi bulan prestasi karena pada bulan ini Allah menurunkan Alquran dan berbagai pertempuran umat Islam juga memperoleh kemenangan pada bulan ini. Kita harus menentukan apa yang akan diprioritaskan untuk dilatih pada bulan Ramadhan ini. Diantara rancangan kegiatan yang harus kita perhatikan adalah pengelolaan waktu harus terkendali dengan baik kemudian amal ibadah kita harus semakin meningkat kualitas dan kuantitasnya. Waktu pada bulan Ramadhan adalah waktu yang berharga sehingga tidak ada amal perbuatan yang dilakukan kecuali menghasilkan sesuatu yang terbaik. Apabila kita menyadari bahwa sesungguhnya pada bulan ini kita benar-benar menjadi manusia yang sangat disiplin seperti layaknya tinggal di asrama untuk di training seperti berhenti makan ketika mendengar suara azan dan begitu juga dengan dibolehkannnya makan juga setelah mendengar azan dan kita tidak dibiarkan untuk membuang waktu dengan percuma untuk selanjutnya mempersiapkan diri kita menjalankan sholat tarawih dan tadarusan Alquran. Seluruh aktivitas ini secara otomatis mengatur pola kerja dan waktu kita. Sesungguhnya Allah mendidik kita agar setiap perpindahan waktu dapat dikelola dengan hal yang penuh manfaat karena setiap hari demi hari dari Ramadhan yang kemarin tidak akan pernah kembali lagi dan kita juga tidak akan pernah tahu bahwa kita dapat mendapatkan Ramadhan pada hari esoknya. Mungkin kita dapat menggati ungkapan time is money menjadi time is taqarrub yang berarti waktu merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam segala aktivitas yang Alah takdirkan menjadi bagian dari hidup kita. Prioritas kedua yang harus kita siapkan dalam bulan ramadhan adalah peningkatan kualitas dan kuantitas amal ibadah kita. Bulan Ramadhan menjadi bulan peningkatan mutu sholat kita dengan membulatkan tekad agar sholat pada waktunya dan melatih untuk khusyu’, memperbanyak membaca Alquran baik melalui kegiatan tadarus atau mulai melatih menghapal ayat demi ayat dan mentadabburinya atau memahami makna-maknanya. Selain sholat fardhu marilah melatih diri untuk memperbanyak sholat sunnat baik sholat rawatib , sholat tarawih, sholat Dhuha maupun sholat tahajjud di akhir sepertiga malam, dan mungkin kita dapat mencari ilmu tentang bagaimana cara meningkatkan mutu sholat kita. Prioritas lainnya yang harus kita tingkatkan pada bulan Ramadhan adalah kegemaran bersedekah. Pada bulan ini Allah melipat gandakan pahala orang yang bersedekah termasuk orang yang memberi makanan untuk orang yang berbuka puasa.
Pada bulan ini Allah mencatatkan peristiwa penting selain peristiwa nuzul Alquran yaitu lailat al- Qadar yang dikenal sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan bulan ini dibagi ke dalam tiga keutamaan yaitu permulaannya adalah rahmah (awwaluha rahmah) yaitu mulai dari hari pertama sampai hari kesepuluh , pertengahannya adalah keampunan (aushatuha maghfirah) yaitu mulai dari hari kesebelas sampai hari kedua puluh serta akhirnya adalah terbebas dari api neraka (‘itqun minnaar) yaitu mulai dari hari kedua puluh satu sampai hari yang terakhir. Dan pada sepuluh malam terakhir Nabi menganjurkan agar memperbanyak ‘iktikaf di mesjid.
Namun demikian agar seluruh prioritas yang telah kita canangkan untuk kita laksanakan pada bulan Ramadhan seharusnya kita persiapkan bekal yang sesuai agar dalam pelaksanaannya tidak mengalami kendala. Diantara persiapan yang mungkin dapat kita lakukan adalah menjaga kesehatan dan keistiqomahan hati dalam berbuat. Ramadhan adalah bulan tawadhu’ dan bulan peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah, maka siapapun yang berusaha menjadikan waktu Ramadhan ini istimewa maka ia kan berusaha akrab dengan Alquran, majelis ilmu, menjadi orang yang gemar bersedekah dengan ikhlas dan mampu mengendalikan diri. Hal yang penting juga adalah meningkatkan kualitas akhlak. Akhlak merupakan respon spontan terhadap sesuatu. Hindari hal-hal yang dapat mengurangi nilai puasa. Berhentilah memperdebatkan jumlah rakaat yang bukan merupakan hal yang prinsipil. Namun yang lebih penting adalah mengisi qiyaamulail dengan penuh keikhlasan dan keistiqomahan. Puasa yang berhasil mampu membentuk akhlak kita menjadi akhlak yang baik dengan merespon setiap kejadian apapun dengan sikap yang terbaik kita juga.
Semoga kita bisa mengisi Ramadhan dengan sebaik-baiknya, sehingga Allah berkenan menuntun kita menjadi orang yang berakhlakul karimah dan lulus mendapat ijazah sebagai muttaqin. Amiin ya rabb al-‘alamiin
Wallahu ‘alam bisshawwab

Senin, 02 Februari 2009

Mengembangkan EQ Pada Anak Dan Remaja

Upaya Mengembangkan EQ Pada Anak Dan Remaja
EQ atau sering kita kenal dengan Emotional Quotient merupakan besaran untuk mengukur emosi yang telah dikembangkan para pakar psikologi. Emosi merupakan salah satu sisi lain dari kepribadian, sebagaimana halnya dengan kecerdasan yang sering dinyatakan dalam ukuran IQ (Intelligent Quotient). Dalam terma psikologi, emosi diartikan sebagai kecenderungan untuk memiliki perasaan yang khas/ spesifik bila berhadapan dengan objek tertentu dalam lingkungan. Semua emosi berkaitan dengan peningkatan efisiensi dan energi yang tersedia untuk berbagai tindakan seperti berpikir, berkonsentrasi, memilih dan bertindak. Umpamanya seorang anak yang memiliki IQ musik maka emosinya ia akan cenderung memilih yang berhubungan dengan musik sehingga apabila diminta untuk memperdalam ilmu pasti maka emosi anak tersebut akan kurang bereaksi dengan tepat.
Seorang anak yang ber IQ jauh di atas rata-rata bisa tampil sebagai manusia yang tidak berdaya, tidak efektif bahkan bisa menjadi destruktif karena sisi lain dari kepribadiannya (kemampuan emosional dan sosialnya) tidak dikembangkan. Sebagai contoh anak-anak pada usia bermain (biasanya TK dan SD) memiliki prilaku yang jauh dari tertib apalagi disiplin dan kita sebagai orang dewasa menganggap prilaku mereka sebagai hal yang menyenangkan karena demikian meunjukkkan kepolosan dan membangun kepercayaan diri mereka, sebaliknya setelah masuk SD atau mungkin dari TK terkadang kebebasan mereka dibatasi dengan dipaksa belajar, les, tidak boleh makan di depan TV harus di meja makan, tidak boleh main dan hal-hal lain yang mengekang kebebasan mereka untuk berekspresi dan menuangkan emosional dan sosialnya. Bahkan ada anak yang dipaksa untuk masuk jurusan IPA padahal minatnya pada ilmu sosial dengan alasan IPA bisa dijamin suksesnya untuk masuk jurusan favorit di perguruan tinggi. Akibat nya seorang anak akan dapat dilihat prilakunya tersebut dalam dua bentuk, pertama, anak akan menjadi individu yang tertekan, tidak berinisiatif penurut, dan penakut untuk mengemukan pendapatnya walaupun mereka pandai, kedua mereka bisa menjadi manusia-manusia yang pemberontak, pembangkang dan terkadang menjadi agresif –destruktif.
Belenggu yang selama ini menjadi masalah adanya pemikiran dan sistem pendidikan yang menekankan pada satu sisi yaitu IQ, yaitu IQ ilmu pasti (eksakta) dan bahasa Inggris, sehingga segala daya dan usaha di orientasikan dan difokuskan ke dua bidang ini. Hal-hal lain yang dipandang bisa menghambat anak dari kemahiran dua bidang kajian ini harus dihindari atau dilarang. Anak yang tadinya memiliki IQ gerak tinggi yang berbakat menjadi penari atau olahragawan yang unggul tidak dapat mengembangkan bakatnya, sama halnya dengan yang ber IQ seni rupa dan musik dilarang karena tidak dapat bersaing di perguruan tinggi. Padahal untuk menjadi pemusik dan olahragawan profesional penghasilannya bahakan bisa lebih tinggi dibandingkan sarjana lulusan perguruan tinggi top sekalipun (fenomena masih banyak sarjana yang pengangguran).
Fungsi EQ dalam pengembangan kematangan pribadi individu sebagai pengendali perasaannya terhadap lingkungan dan mampu mengenali emosi orang lain untuk bereaksi dengan tepat. Kematangan pribadi ini berdampak positif dalam mengembangkan hubungan baik dengan orang lain. Seseorang tidak akan cepat tersinggung atau marah bahkan bisa bersikap sportif jika mengalami kekalahan alam pertandingan. Penelitian telah membuktikan bahwa orang-orang dengan EQ yang tinggi lebih mempunyai peluang keberhasilan daripada ber -EQ rendah. Peluang ini akan lebih tinggi lagi jika diikuti dengan IQ yang yang tinggi pula. Kontribusi EQ terhadap prestasi individu biasanya lebih besar daripada kontribusi IQ. Orang tua yang baik tidak akan memaksakan anaknya yang berbakat menjadi guru untuk menjadi ahli ekonomi yang bekerja di lembaga pemerintah misalnya, jika IQ di bidang ekonominya rendah.
Hal yang terpenting sekarang adalah menyiapkan anak-anak dan remaja untuk berkembang secara optimal mengikuti bakat masing-masing. Kuncinya adalah dengan mengembangkan EQ secara optimal pula sehingga mereka menjadi percaya diri, percaya pada orang lain, tidak takut-takut, tidak ragu-ragu atau malu-malu dan tidak mudah tersinggung. Tampilan yang spontan dan penuh kepercayaan diri yang nampak pada anak-anak ketika masih balita harus dipertahankan terus hingga dewasa. Tentu saja seorang makin dewasa maka makin banyak tata tertib yang harus dipatuhi. Cara mendidik yang sehat, kemampuan disiplin dan tertib itu akan tumbuh dengan sendirinya tanpa harus dipaksa atau dikekang. Intinya adalah dengan menumbuhkan akal sehat (reasoning).
Akal sehat tidak sama dengan akal (ratio) yang bisa diukur dengan skala IQ. Akal sehat adalah akal yang dilengkapi dengan pertimbangan-pertimbangan sehat, misalnya apakah baik kita makan dulu sementara orang tua belum makan atau manakah yang lebih baik menyeberang di jembatan penyeberangan yang agak jauh atau langsung saja menyeberang sembarangan agar dekat. Pertanyaan yang mungkin terlintas di pikiran kita bagaimana cara menumbuhkan akal sehat? Caranya bukan dengan serba melarang atau serba mengharuskan (cara otoriter). Juga bukan dengan cara serba membolehkan dan serba mengalah pada kemauan anak. Cara yang tepat adalah cara akal sehat juga.
Cara akal sehat yang yang dilakukan adalah dengan mengembangkan kebiasaan argumentasi atau dialog. Dalam cara argumentasi ini, setiap larangan atau suruhan harus ada alasannya. Setiap alasan itu harus masuk di akal anak. Karena jika alasan belum masuk akal, harus dijelaskan berulang-ulang sampai anak jelas betul. Orang tua tidak boleh mengekang si anak bahkan sebaliknya mengembangkan kemampuan anak untuk berargumentasi dan berdialo dengan benar.
Bahkan dalam metode pendidikan Islam sendiri teknik argumentasi (jidal) dan dialog(niqasy/hiwar) untuk membangkitkan motivasi sekaligus mengantar anak kepada EQ yang tinggi yang akhirnya akan menyebabkan anak bisa berkembang bakat dan matang pribadinya secara optimal. Wallahu’alam

Memperkenalkan Diri Dengan Buku

Pendahuluan
Membaca dan menulis buku bisa jadi merupakan suatu aktivitas yang sangat menyenangkan. Apalagi mampu menunjukkan bahwa buku mempunyai "rasa" dan "aroma" yang bisa membangkitkan selera. Lebih dari itu membaca dan menulis buku dapat mengantarkan seseorang untuk memiliki ketajaman yang luar biasa dalam mengenali dan memperbaiki diri lewat suatu kemampuan, yang dalam istilah Hernowo sebagai "mata baru".Hanya saja, selama ini membaca dan menulis buku selalu identik dengan rasa menjemukan dan melelahkan. Buku yang menjadi sarana utama kegiatan tersebut sama sekali tidak memiliki daya tarik yang memikat. Secara keilmuan, buku boleh saja berisi segudang ilmu. Namun penampilan buku yang kaku menjadi penghambat utama bagi seseorang untuk membaca dan menyusunnya.Buku tidak lebih dari kumpulan teks, buku juga sebenarnya tidak mampu memberikan apa-apa. Ribuan atau bahkan miliaran kata yang ada di dalamnya tidak ada yang bisa memberikan pencerahan secara mempesona. Buku hanya berputar-putar berpanjang-panjang dan sekadar mempermainkan teks. Buku sama sekali tidak mampu melampaui teks. Sekalipun terkadang mampu melukiskan problem-problem manusia yang kompleks, buku tetap saja beku. Tidak ada yang menarik di dalam buku. Fenomena ini sangatlah ironis. Sebab sebagaimana kata pepatah, buku adalah gudang ilmu. Di era internet sekarang ini buku masih menduduki peringkat terbaik sebagai media tranformasi ilmu dan informasi yang lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.Bahkan dalam proses belajar belajar kehadiran buku tetap menjadi prioritas utama dibandingkan dengan sumber belajar lain seperti internet. Bagaimana Membangkitkan Minat Membaca ?Kebosanan dan mengantuk merupakan kultur yang terbangun dalam membaca buku. Karenanya tak heran jika banyak orang yang memilih nonton sinetron daripada membaca buku. Sebab menonton sinetron terasa lebih santai dan menyenangkan. Berbeda dengan membaca buku yang membutuhkan banyak energi dan keseriusan yang tidak jarang justru membuat pusing para pembacanya.Untuk memasuki dunia buku, ada baiknya menyamakan buku itu sebagai "makanan" yang dibutuhkan oleh jasmani manusia agar tubuh menjadi sehat, manusia pun membutuhkan energi khusus yang dapat mengasah ketajaman ruhaninya. Dalam konteks inilah buku dapat menjadi santapan ruhani manusia yang penuh gizi bagi kebutuhan akal dan ruhaninya tersebut.Dr. C. Edward Coffey, seorang peneliti dari Henry Ford Health System terkait dengan gizi buku untuk kebutuhan ruhani manusia ini, mengungkapkan sebuah fakta menarik tentang hubungan buku dengan kesehatan mental. Dalam penelitiannya, ia telah mampu membuktikan bahwa hanya dengan membaca buku, seseorang akan terhindar dari penyakit demensia yang menyebabkan kepikunan apabila kita dapat menciptakan satu pandangan bahwa buku dapat diperlakukan sebagai makanan, sama persis sebagaimana kita memakan makanan jasmani. Terdapat tiga cara agar kita dapat mengonsumsi buku sebagai makanan ruhani, di antaranya adalah: Pertama, agar membaca buku tidak menyebabkan kantuk, buku yang dibaca haruslah buku yang sesuai kegemaran dengan tema-tema yang sangat disukai sebagaimana makanan kesukaan. Kedua, sebelum membaca semua halaman buku, ada baiknya kalau buku-buku tersebut "dicicipi" terlebih dahulu. Bisa dengan jalan mengenali siapa pengarang buku itu atau dengan mencari informasi tentang sesuatu yang menarik. Ketiga, untuk menyelesaikannya, membaca buku dapat dilakukan dengan cara ngemil (sedikit demi sedikit seperti orang yang makan kacang goreng). Dengan jalan ini buku setebal 300 halaman pun dapat diselesaikan dengan santai, yaitu dengan jalan mencari halaman-halaman yang menarik dan bermanfaat dalam buku tersebut. Halaman-halaman ini sajalah yang dibaca dan didalami tidak perlu membaca semua halaman yang ada di dalam sebuah buku.Tiga Hal Membuat Kita Cinta MembacaSubyek potensial yang bisa dikembangkan untuk mengenalkan buku adalah anak-anak. Ada tiga hal yang dapat dijadikan agar subjek potensial yaitu anak-anak tersebut menjadi cinta dalam membaca. Pertama, memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak agar mereka benar-benar dapat melihat orangtuanya sedang membaca buku. Kedua, orangtua harus membagikan informasi-informasi yang bermanfaat yang diperoleh dari kegiatan membaca kepada anak. Ketiga, pada saat membaca buku di rumah sesekali orangtua harus membacanya dengan suara keras supaya anak dapat mendengar suara bacaan yang sedang dibaca. Di samping ketiga cara tersebut, bagi orangtua juga harus membangun suasana yang menyenangkan dalam memperkenalkan buku kepada anak. Ini dapat dilakukan dengan mengajak anak jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat yang berkaitan dengan buku. Misalnya, dua minggu sekali anak diajak untuk "mencicipi" dan melihat jajaran buku yang ada di toko buku atau perpustakaan. Bisa juga dengan membiasakan anak untuk memilih buku bacaan secara bebas sesuai dengan keinginannya. Anak juga harus diberi kebebasan untuk membolak-balik dan bermain-main dengan bukunya sendiri. Mengenalkan buku sejak dini kepada anak ini memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun kebutuhan anak terhadap buku. Pada tahapan ini anak tidak perlu dipaksauntuk segera dapat membaca dalam arti memahami isi buku. Perkenalan ini hanya berfungsi untuk membiasakan anak agar sering bertemu dengan wujud huruf. Dengan cara ini akan lebih mudah untuk mengenali kembali dan menyebutkan bunyi huruf. Lebih dari itu, tahap perkenalan ini dapat membangkitkan potensi dalam bentuk stimulus visual (melihat) huruf dan kesan auditif (mengucapkan) huruf tertentu.Institusi sekolah merupakan suatu lembaga yang dipercaya sebagai tempat belajar membaca. Di sekolah anak mulai dikenalkan dengan huruf. Di sekolah pulalah mereka diajar mengeja dan membaca hingga memahami buku. Namun sayang sekolah tidak mengajarkan agar siswanya memiliki kebutuhan terhadap buku. Sebaliknya membaca justru menjadi kegiatan yang memberatkan. Meskipun perangkat membaca seperti buku bacaan, buku tulis dan juga pena senantiasa berada di dalam tas siswa, namun tidak ditemukan kultur baca siswa sekolah yang mengasyikkan.Fenomena ini merupakan persoalan klasik yang dialami oleh sekolah. Sekolah yang semestinya dibangun untuk mengawal proses perkembangan kepribadian anak justru berkembang menjadi lembaga yang memfrustrasikan. Di sekolah anak dipaksa untuk mengikuti sistem yang dikembangkan sekolah. Padahal belum tentu sistem tersebut sesuai dengan kecenderungan dan cara belajar anak yang bersangkutan. Tak heran jika sekolah justru dirasakan sebagai sesuatu yang membelenggu dan memberatkan.Membaca dengan menghadirkan rasa funMembaca juga perlu menghadirkan rasa fun (kegembiraan). Kegembiraan di sini berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajarinya), dan nilai yang membahagiakan, kegembiraan dalam melahirkan sesuatu yang baru. Penciptaan ini jauh lebih penting daripada segala teknik, metode atau media belajar yang mungkin dipilih untuk digunakan dalam proses pembelajaran.Dengan menghadirkan rasa fun dalam membaca bagi seorang siswa, akan tercipta suatu kebutuhan mereka terhadap sekolah. Sejalan dengan ini akan terbangun pula suatu kebutuhan terhadap buku sebagai sarana yang tidak bisa dipisahkan dari sekolah. Dengan demikian akan tercapai suatu kultur membaca yang mengasyikkan yang dilahirkan dari sistem sekolah yang menyenangkan. Merujuk peta kecerdasan Howard Gardner (yang dikenal dengan kecerdasan majemuk), aktivitas membaca dapat memacu kategori kecerdasan linguistik. Kecerdasan ini merupakan suatu kemampuan menggunakan kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Beberapa tokoh yang mampu memperkenalkan diri mereka berkat kemampuan mengelola kecerdasan linguistik , diantaranya Hilman "Lupus" Hariwijaya, Emha Ainun Najib, Nurcholish Madjid, K.H. Abdullah Gymnastiar, Butet Kertarajasa dan juga Helmi Yahya, Hernowo. Mereka adalah tokoh-tokoh yang mampu menemukan dan kemudian mengembangkan potensi sesuai dengan kecenderungan kecerdasan yang dimilikinya. Mereka mampu menjadi terkenal dengan kerya-karya yang mereka hasilkan , bagaimana dengan diri kita?

Rihlah 'Ilmiyyah dalam Tradisi Islam

Rihlah ‘ilmiyyah dalam Tradisi Intelektual MuslimA. Deskripsi praktik rihlah ‘ilmiyyahRihlah ‘ilmiyyah berasal dari bahasa Arab yaitu rihlah dan “ilmiyyah. Rihlah yang berasal dari akar kata rahila- yarhilu- rihlatan yang berarti berpindah dari satu negara ke negara lain dengan tujuan tertentu.[1] Makna rihlah ini terdapat dalam surat Al-Quraisy : [2]إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِRihlah yang dimaksud pada ayat di atas adalah perjalanan ke luar negara dengan tujuan berdagang. Tradisi ini menjadi sesuatu yang menjadi kebiasaan bangsa Arab dalam mempertahankan kehidupan ekonomi.Alquran juga mengisyaratkan agar manusia itu melakukan suatu perjalanan untuk mempertahankan kehidupan mereka : [3]أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَاAtas dasar perintah ayat inilah maka anjuran untuk melakukan rihlah itu dibolehkan dengan tujuan agar manusia melihat bagaimana perihal negara lain untuk memperoleh pelajaran ataupun untuk menyelamatkan diri dari kebinasaan di tempat tinggal yang lama.Sedangkan kata ‘ilmiyyah merupakan bentuk mashdar shina’iyy yang berasal dari akar kata ‘alima- ya’lamu yang berarti mengetahui.[4] Rihlah ‘ilmiyyah dapat diartikan sebuah perjalanan yang di tempuh ke luar negara atau pun daerah tempat tinggalnya dalam rangka kegiatan keilmuan. Berdasarkan term ini dapat dilihat tujuan dari rihlah ‘ilmiyyah dari dua aspek yaitu untuk menuntut ilmu (thalabaan lil-‘ilm) atau meningkatkan nilai ilmu pengetahuan (rasikh fi’ilm) dan juga dengan tujuan untuk mengajarkan ilmu di berbagai negeri atau negara lain.[5] Ibn Khaldun menjelaskan bahwa rihlah ‘ilmiyyah yang banyak dilakukan bertujuan untuk bertemu dengan guru dalam rangka menambah kesempurnaan pengetahuan dan yang menjadi sebabnya adalah bahwa seseorang itu memperoleh pengetahuan berasal dari adopsi yang mereka dapati dari keutamaan yang ada dalam satu mazhab; yang adakalanya berupa ilmu, pengajaran ataupun ceramah , dan cara lainnya adalah melalui hikayat , verbalisme secara langsung. Berdasarkan metode yang diterapkan ketika itu bahwa metode lisan dan penyampaian secara langsung merupakan hal yang paling dipercaya dan sangat memberikan dampak yang sangat positif dalam pengembangan pengetahuan. Perjalanan mencari ilmu ini merupakan sebuah upaya yang telah berhasil dilakukan ketika itu ada yang memiliki kekuasaan dan kedalaman ilmu dari para guru, disamping itu para pencari ilmu tersebut memperoleh istilah-istilah ataupun ungkapan-ungkapan baru baik dari para guru maupun dari teman-teman yang datang dari berbagai negara sehingga hal tersebut dianggap sebagai bagian terpenting dari sebuah ilmu, maka hal tersebut mendorong secara langsung munculnya berbagai metode dari para guru yang ditemui.[6] Gambaran praktik rihlah ini dalam pendidikan Islam klasik dipraktekkan secara luas oleh para ilmuwan yang hidup pada masa Islam klasik. Dalam mencari contoh tentang aktivitas rihlah ‘ilmiyyah ini maka usaha yang tepat dilakukan adalah menelusuri riwayat hidup para ilmuwan terkemuka tersebut dalam kamus biografi seperti tarajim, thabaqah dan al’alaam dan lain-lain. Kekaguman kita akan muncul manakala melihat mobilitas mereka dalam melakukan rihlah ‘ilmiyyah ini.B. Sampel beberapa ulama yang melakukan rihlah ‘ilmiyyahUntuk melihat dinamika intelektual yang terjalin karena adanya aktivitas rihlah ‘ilmiyyah ini berikut ini dikemukakan sampel beberapa ulama yang pernah melakukan aktivitas tersebut dan mencatatkan kepada kita suatu prestasi yang sangat tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan. Mereka itu adalah: Al-Ghazali :Al- BukhariAbu ‘abd Allah Isma’il ibn Ibrahim al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ju’fi lahir di Bukhara tahun 174H/. meskipun masih kecil beliau telah mulai belajar, seorang tukang tulis Bukhari Muhammad ibn Hatim menceritakan sebuah informasi dari Firabri bahwasannya Bukhari pernah mengatakan bahwa : aku mendapat ilham menghafal hadis sedangkan akau masih belajar di kuttab, lalu ditanya kepadanya berapa usiamu ketika itu? Bukhari menjawab sepuluh tahun atau mungkin juga kurang dari sepuluh tahun. Lalu ia mengatakan bahwa ketika ia berusia enam belas tahun aku telah menghapal kitab karya ibn al-Mubarak dan Waki’ dan aku juga dapat memahami ucapan-ucapan mereka ini yaitu mazhab ra’yi. Masa Al-Bukhari disibukkan dengan aktivitas menuntut ilmu dan mendengar hadis. Maka beliau mulai mendengar hadis dri ulama yang ada di negerinya seperti Muhammad ibn Salam dan Muhammad ibn Yusuf al-Baikandidyyin dan selainnya. Selanjutnya ia meneruskan pendidikanya di Mekkah sambil menunaikan ibadah Haji dan mendengar hadis dari al- Humaidi dan selainnya. Kemudian ia melakukan lawatan ilmiah ke Madinah dan mendengar hadis dari ‘Abd al-‘Aziz al-Awiisi, Mutharrif ibn ‘Abd Allah dan selainnya. Selain di dua kota Haram (Makkah dan Madinah), Bukhari melanjutkan perlajanan ilmiahnya untuk mencari para ahli hadis di berbagai negeri seperti di Khurasan, Syam, Mesir dan beberapa kota di Iraq, beliau juga berulangkali mendatangkan Baghdad dan membaur dengan penduduk yang ada di sana sehingga mereka mengenal dengan kemuliaan dan keahliannya dalam ilmu Riwayah dan dirayah. Al- Bukhari juga mendengar hadis dari Makki ibn Ibrahim dari Balkh, juga dari Merv beliau mendengar hadis dari ‘Ali ibn al- Hasan dan ‘Abd Allah ibn ‘Usman, di Naisabur ia juga mendengar sebuah hadis dari Yahya dan dari ulama ahl ra’yi seperti Ibrahim ibn Musa, di Baghdad selanjutnya beliau mendengarkan hadis dari Syuraih ibn an-Nu’man dan Ahmad ibn Hanbal. Di bashrah ia mendengar hadis dari Abu ‘Ashim an-Nabiil dan Muhammad ibn ‘Abd Allah al- Anshari, sedangkan di Kufah ia mendengar hadis dari Thalaq ibn Ghanam dan Khalad ibn Yahya, di Mesir ia mendengar hadis dari Sa’id ibn kasir ibn ‘Ufair dan tidak itu saja ia juga mendengar hadis dari orang-orang lain sehingga ia menulis seribu delapan puuh hadis, namun yang ia tulis itu telah ia jamin bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman baik dari perkataan maupun perbuatan (lam aktub illa ‘aman qala al-iman qaulun wa’amalun).[7]Ibn JubayrIlmuwan lainnya yang aktif melakukan lawatan ilmiah adalah Ibnu Jubayr (w.614/1217) seorang sejarawan Maroko yang pernah bekerja pada salah seorang khalifah Muwahhidun yaitu Ya‘qub al-Mansur (590-595/1184-1199). Lawatan ilmiah yang pernah ia lakukan antara lain ke Granada tahun 578/1182 dan memperoleh pelajaran fiqh dari Ma‘d Ibn ‘Adnan (w.592/1196), ‘Ali ibn Abi al-‘Aisy (599/1203) ulama Hadis. Di kota Granada Ibnu Jubayr mengarang sebuah kitab ‘Ajaaib al-Buldan wa Ghaib al-Masyaahid (kekaguman sebuah kota dan keajaiban pemandangannya). Rihlah selanjutnya ke Mesir tahun 585/1190 dan diakhiri ke kota Sabtah sekaligus tempat terakhirnya.[8]Asy- Syafi’iiBeliau adalah Muhammad ibn Idris ibn al-‘Abbas ibn Usman in Syafi’, salah seorang ulama fiqh mazhab.Karir pendidikannya dimulai di Kuttab ketika beliau berusia tujuh tahun dan pada usia ini juga beliau telah menghapal Alquran. Namun keberadaannya di kutab tersebut tidaklah memberikan manfaat yang signifikan oleh karena itu beliau meninggalkan kuttab dan pergi ke Mesjidil Haram dan di sana beliau belajar Hadis dan berbagai ilmu bahasa, para gurunya di Mekkah antara lain : Isma’il ibn Qanstatin darinya beliau belajar Alquran kemudian belajar hadis dari Sufyan ibn ‘Ayyinah , Muslim ibn Khalid az-Zanji, Sa’id ibn Salim al-Qadih dan lain-lain. Rihlah ‘ilmiyyah nya dimulai ketika beliau ke Madinah bertemu dengan Imam Malik ibn Anas dan Ibrahim ibn Sa’d al-Anshari juga ‘Abd al-‘Aziz in Muhammad ad-Darawardi, Ibrahim bn Abu Yahya al-Aami untuk belajar hadis darinya, setelah ia matang dengan ilmunya beliau melakukan perjalanan selanjutnya ke Iraq dan tinggal di beberapa kota yang ada di sana. Di Iraq beliau berguru dengan Imam Muhammad ibn al-Hasan sahabat Abu Hanifah dan Abu Yusuf (murid Abu Hanifah). Di Iraq beliau mendengar Hadis dan Fiqh dan Alquran dari Waki’ Ibn Al-Jarrah, Abu Usamah Hammad ibn Usamah yang akeduanya adalah orang Kufi, di Bashrah beliau berguru dengan Ismail ibn ‘Alaih dan ‘Abd al-Wahha ibn ‘Abd al-Majid yang keduanya adalah orang Bashrah. Dari Iraq beliau melakukan perjalanan ilmiyyah ke negara-negara di sekitar Paris dan disana beliau bertemu dengan ulama-ulamanya dan berkeliling ke sebelah Utara ‘Iraq sementara itu usianya ketika itu belum sampai dua puluh tahun. Pada ketika itu juga ia berada di Ramlah dan tidak beberapa lama di Ramlah ia melanjutkan perjalanannya kembali ke Madinah menjumpai Imam Malik dan tinggal di kota Nabi itu sampai meninggalnya Imam Malik. Perjalanan ilmiyyahnya dilanjutkan ke Yaman dan di kota ini beliau belajar ilmu berkuda. Guru beliau ketika berada di Yaman adalah Muthrif ibn Mazin, Hisyam ibn Yusuf “hakim di San’a “ dan ‘Amru ibn Abu Salamah sahabat al-Auza’I, serta Yahya Ibn Hassan. Pada mereka asy-Syafii’ belajar fiqh dan juga mendengar hadis. Keseluruhan jumlah gurunya adalah sembilan belas orang, lima di Mekah, enama di Madinah, empat di Yaman, emapat di Iraq. Semuanya ini dituturkan ar- Raazi dalam manaqib Imam Syafi’i.[9]Muhyiddin Ibn ‘ArabiIbn ‘Arabi (w.638/1240) seorang ilmuwan sufi yang mobilitas perjalanan intelektualnya sangat dinamis. Mulai dari kota kelahirannya Murcia beliau selanjutnya menuntut ilmu ke Maroko pada tahun 564/1174 dan menetap selama 30 tahun 564-594/1174-1198. Setelah menetap selama 30 tahun , ia melakukan perjalanan ilmiah ke beberapa kota di Timur seperti, Mesir, Hijaj dan Baghdad. Di Baghdad ia bertemu dengan ibn ‘Asakir (w.598/1202) dan memperoleh pelajaran tasawuf darinya. Dari Baghdad lawatan ilmiahnya dilanjutkan ke kota Damaskus sekaligus sebagai tempat wafatnya.[10]Ibn Baythar :Ibnu aI-Baythar dilahirkan di Malaga pada akhir abad keenam dan meninggal dunia di Damsyik pada 646H/1248M. Nama lengkapnya ialah Abu Muhammad AbduIIah bin Ahmad ad-Din bin al-Baythar al-Malaki. Beliau terkenal sebagai doktor hewan ahli botani dan farmakologi serta sarjana ilmu tumbuh-tumbuhan. Al-Baythar menuntut ilmu di Seville, Sepanyol dan mengumpul pelbagai jenis tumbuhan di kota tersebut bersama beberapa gurunya seperti Abu al-Abbas an-Nabati, AbduIIah bin Shaleh dan Abu aI-Hajjaj. Ketika berada di Mesir, beliau dilantik oleh aI-Malik al-Kalim Ayyubi sebagai Ketua Ahli Meramu obat. Setelah meninggalkan Qahirah, beliau banyak melakukan ekspedisi ilmiah. Misalnya di Damaskus, al-Baythar bersama muridnya, Ibnu Abi Ashayhi'ah mengumpul pelbagai jenis tumbuhan sebagai bahan penelitian dan perubatan.Antara karya penting al-Baythar ialah; [11]1. AI-Mughnifi al-Adwiya' al-Mufradat adalah sebuah buku mengenai contoh ramuan obat untuk setiap jenis penyakit yang pernah diper-sembahkan kepada al-Malik ash-ShaIih Najm ad-Din Ayyuh.2. Al-jami' li Murradat al-Adwiya' wa al-Ag-hdhiya (Kumpulan obat-obatan mudah) dicetak di Al-Qohirah pada 1291H/1874M. Terjemahan dalam bahasa Perancis oleh L.Leclerc terdapat dalam Notices et Extraits (1877-1883) manakala' ter;emahan dalam bahasa jerman dibukukan oleh J.Sontheimer (Stuttgart, 1840-1841 M). Buku tersebut disusun berdasarkan hasil penyelidikan al-Baythar dan rujukan daripada Yunani purba dan pengetahuan tradisional Arab. ia turut memuatkan sejumlah daftarsecara abjad tidak kurang 1,400 contoh-contoh ubat dan 300 da-ripadanya adalah hasil penemuan beliau. Semua bahan-bahan ramuan diperoleh di negara sepanjang Laut Tengah, Sepanyol dan Syria. Secara umum, ramuan-ramuan ubat tersebut berasal daripada binatang, tumbuh-tumbuhan dan bahan mineral. Di dalam buku tersebut juga terdapat 150 penulis yang merupakan sumber pustaka daripada karyanya seperti Zakariyya ar-Razi, Ibn Sina, al-ldrisi, aI-Ghafiki, Galen dan sebagainya. Dua orang sarjana Barat iaitu Meycrhof dan Sobhy menganggap buku ini adalah karya ciplak daripada Fannakope at-Ghafiki dan beberapa bahan tambahan daripada guru-gurunya. Bahkan ada juga kritikan yang menyatakan 1,000 contoh ramuan yang dijumpai sebenamya telah dikenal pasti oleh penulis-penulis Yunani. Bagaimanapun, telah diakui bahawa a]-]ami' U Murradat al-Adwiya' wa al-Aghdhiya mempunyai pengaruh besar dalam dunia Islam dan Barat.3. Mizan at-Tabib4. Risalah /al-Aghdiya wa al-Adwiya5. Makalah fi al-Limun6. Sebuah buku yang memuatkan komentar terhadap Dioscorides. Kemudiannya buku ini menjadi manuskrip yang berisi daftar 550 jenis obat-obatan yang terdapat dalam buku pertama Dioscorides. Istilah-istilah teknik yang terdapat di dalamnya disertai dengan bahasa Latin dan Berber.7. Ad-Adwiyat al-Basyithah (Ramuan-ramuan sederhana) dicetak dalam bahasa Latin dengan judul simpuda dan diterbitkan di Cremona pada 1758M.Menurut George Sarton, al-Baythar telah menulis banyak karya dalam disiplin ilmu yang dikuasainya dan merupakan karya terbesar sejak zaman Dioscorides hingga pertengahan abad ke-16M.Nuruddin ar-RaniryNur ad-Din Muhammad ibn ‘Ali ibn Hasanji al-Hamid ar-Raniri dilahirkan di ranir sebuah kota pelabuhan tua di Gujarat. Tahun kelahirannya tidak diketahui namun kemungkinan menjelang akhir abad ke-16.pendidikan awalnya diperoleh di Ranir dan kemudian melanjutkan pelajarannya di wilayah Hadramaut, sumber sejarah mengatakan beliau ari Hadramaut kemungkinan besar pergi ke Haramayn sebab menurut al-Hasani dia berada di Mekah dan Madinah pada tahun 1030/1620 atau 1031/1621, ketika ia menjalankan ibadah haji Jawi di sana sebelum kembali ke Gujarat.Abdur Rauf as-SingkiliAbd dal- Ra’uf ibn ‘Ali al- Jawi al-Fansuri as-Singkili merupakan seorang melayu dari Fansur. Tahun kelahiranya tidak dikeyahui secara jelas tetapi setelah Ringkes mengadakan perjalanan ia menyimpulkan bahwa as-Singkili dilahirkan sekitar 1024/1615. pendidikan awalnya diperoleh di desa kelahirannya Singkel, kemudian melanjutkan pelajarannya ke Fansur. Ia melakukan perjalanan ke Banda Aceh ibukota kesultanan Aceh untuk belajar antara lain kepada Hamzah al-Fansuri dam Syam ad-Din as-Sumatrani. Sekitar tahun 1052/1642 as-Singkili berangkat ke Arabia dan belajar ke sejumlah tempat yang tersebar sepanjang rute haji dari Doha di wilayah teluk Persia, Yaman, Jeddah dan akhirnya Haramayn (Mekah dan Madinah). Jadi rihlah ilmiyyahnya di mulai di Doha (Qatar) dan di sini ia belajar dengan ‘Abd al-Qadir al-Mawrir. Setelah meninggalkan Doha as-Singkili melanjutkan pelajaran ke Yaman, terutama di Bayt al-Faqih (ibn Ujay) dan Zabid, meskipun dia juga memiliki guru di Mauza’. Bayt Faqih dan Zabid merupakan pusat-pusat pengetahuan Islam yang sangat penting di wilayah ini. Dari Yaman as-Singkili berangkat ke Jedah dan belajar dengan muftinya ‘Abd al-Qadir al-Barkhali dan dari sisi kemudian ia berangkat ke Mekah dan belajar dengan ‘Ali ibn ‘Abd al-Qadir al-Thabari. Tahap perjalanan ilmiyyah as-Singkili terakhir adalah ke Madinah yaitu kota Nabi dan di kota ini ia dapat menyelesaikan pelajarannya dan belajar dengan Ahmad Qusyasyi sampai ia meninggal pada tahun 1071/1660 bersama khalifahnya Ibrahim al-Kurani,dan selanjutnya menunjuknya sebagai khalifah Syattariah dan Qadariyah.[12]Abdushaamad Al-PalimbaniAbdu Shamad adalah putra Syekh Abdul Jalil bin Syekh Abdul Wahhab bin Syekh Ahmad al-Mahdani (ada yang mengatakan al-Mahdali), seorang keturunan Arab (Yaman) dengan Radin Ranti di Palembang. Syekh Abdul Jalil adalah ulama besar sufi yang menjadi guru agama di Palembang, Tidak dijelaskan latar belakang kedatangannya ke Palembang. Diperkirakan hanya bagian dari pengembaraannya dalam upaya menyiarkan Islam scbagaimana banyak dilakukan oleh warga Arab lainnya pada waktu itu. Tetapi selain sumber tersebut, Azyu-mardi Azra juga mendapatkan informasi mengenai dirinya dalam kamus-kamus biografi Arab yang menunjukkan bahwa Al-Palimbani mempunyai karir terhormat di Timur Tengah. Menurut Azra, informasi ini merupakan temuan penting sebab tidak pernah ada sebelumnya riwayat-riwayat mengenai ulama Melayu-lndonesia ditulis dalam kamus biografi Arab. Dalam literatur Arab, Al-Palimbani dikenal dengan nama Sayyid Abdush Shamad bin Abdur Rahman al-Jawi. Tokoh ini, menurut Azra, bisa dipercaya adalah Al-Palimbani karena gambaran karirnya hampir seluruhnya merupakan gambaran karir Abdush Shamad al-Palimbani yang diberitakan sumber-sumber lain. Dalam pengembaraannya ke Palembang, putra mahkota Kendah, Tengku Muhammad Jiwa, bertemu dengan Syekh Abdul Jalil dan berguru padanya, bahkan mengikutinya mengembara ke berbagai negeri sampai ke India. Dalam sebuah perjalanan mereka, Tengku Muhammad Jiwa mendapat kabar bahwa Sultan Kendah telah mangkat.Tengku Muhammad Jiwa lalu mengajak gurunya itu pulang bersamanya ke negeri Kendah. la dinobatkan menjadi sultan pada tahun 1112 H/1700 M.dan Syekh Abdul Jalil diangkat menjadi mufti Kendah dan dinikahkan dengan Wan Zainab.Tiga tahun kemudian Syekh Abdul Jalill kembali ke Palembang karena permintaan beberapa muridnya yang rindu padanya. Di Palembang ia menikah dengan Radin Ranti dan memperoleh putra, Abdush Shamad. Dengan demikian kemungkinan Abdush Shamad lahir tahun 1116 H/1704 M. Sumber yang menyebutkan silsilahnya sebagai keturunan Arab tidak pernah dikonfirmasikan oleh Al-Palimbani sendiri. Jika keterangan sumber tersebut benar, tentu Al-Palimbani akan mencantumkan nama besar al-Mahdani pada akhir namanya. Ini dapat dilihat dari setiap tulisannya, ia menyebut dirinya Syekh Abdush Shamad al-Jawi al-Palimbani, Kemungkinan dalam dirinya memang mengalir darah Arab tetapi silsilah itu tidak begitu jelas atau ada mata rantai yang tidak bersambung menurut garis keturunan bapak sehingga dia tidak merasa berhak menyebut dirinya keturunan al-Mahdani dari Yaman. Dan barangkali dia lebih merasa sebagai orang Indonesia sehingga mencantumkan 'al-Jawi' dan 'al-Palimbani' di ujung namanya. Mengenai tahun wafatnya juga tidak diketahui dengan pasti. Al-Tarikh Salasilah (silsilah) Negeri Kendah menyebutkan tahun 1244 H/1828 M. Namun kebanyakan peneliti lebih cenderung menduga ia wafat tidak berapa lama setelah meyelesaikan sayr al-salikin (1203 H/1788 M). Argumen mereka, sayr al-salikin adalah karya terakhirnya dan jika dia masih hidup sampai 1788 M kemungkinan dia masih tetap aktif menulis. Al-Baythar - seperti dikutip Azyumardi Azra - menyebutkan ia wafat setelah tahun 1200/1785. Namun Azyumardi Azra sendiri juga lebih cenderung mengatakan ia wafat setelah menyelesaikan sayr al-salikin.Al-Palimbani mengawali pendidikannya di Kendah dan Pattani. Tidak ada penjelasan kapan dia berangkat ke Makkah melanjutkan pendidikannya. Kemungkinan besar setelah ia mendapat pendidikan agama yang cukup di negeri Melayu itu. Dan agaknya sebelum ke Makkah dia telah mempelajari kitab-kitab para sufi Aceh karena di dalam Sayr al-Salikin dia menyebutkan nama Syamsuddin al-Samatrani dan Abdul Rauf al-Jawi al-Fansuri (Abdul Rauf Singkel). Namun sumber lain mengatakan bahwa ia pernah bertemu dan berguru pada Syamsuddin al-Samatrani dan Abdul Rauf Singkel di Makkah.Di Makkah dan Madinah, Al-Palimbani banyak mempelajari berbagai disiplin ilmu kepada ulama-ulama besar masa itu serta para ulama yang berkunjung ke sana. Walaupun pendidikannya sangat tuntas mengingat ragam ulama tempatnya belajar, Al-Palimbani mempunyai kecenderungan pada tasawuf. Karena itu, di samping belajar tasawuf di Masjidil-Haram. ia juga mencari guru lain dan membaca kitab-kitab tasawuf yang tidak diajarkan di sana. Dari Syekh Abdur Rahman bin Abdul 'Aziz al-Magribi dia belajar kitab Al-Tuhfatul Mursalah-nya Muhammad Fadlullah al-Burhanpuri (w. 1030 H/1620 M). Dari Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Madani (w. 1190 H/1776 M} ia belajar kitab tauhid Syekh Mustafa al-Bakri (w. 1162 H/1749 M). Dan bersama Muhammad Arsyad al-Banjari, Abdul Wahab Bugis dan Abdul-Rahman Masri dari Jakarta, mereka membentuk empat serangkai yang sama-sama menuntut ilmu di Makkah dan belajar tarekat di Madinah kepada Syekh Muhammad al-Samman (w. 1162 H/1749 M). Selama belajar pada Syekh Muhammad al-Samman, Al-Palimbani dipercaya mengajar rnurid-murid Al-Sarnmani yang asli orang Arab. Karena itu sepanjarig menyangkut kepatuhannya pada tarekat, Al-Palimbani banyak dipengaruhi Al-Sammani dan dari dialah Al-Palimbani mengambil tarekat Khalwatiyyah dan Sammaniyyah. Sebaliknya, melalui Al-Palimbani-lah tarekat Sammaniyyah mendapat lahan subur dan berkembang tidak hanya di Palembang tetapi juga di bagian lain wilayah Nusantara bahkan di Thailand, Malaysia, Singapura dan Filipina. Al-Palimbani rnemantapkan karirnya di Haramayn dan mencurahkan waktunya untuk menulis dan mengajar. Meski demikian dia tetap menaruh perhatian yang besar terhadap Islam dan kaum Muslim di negeri asalnya. Di Haramayn ia terlibat dalam 'komunitas Jawi' yang membuatnya tetap tanggap terhadap perkembangan sosio-religius dan politik di Nusantara. Peran pentingnya tidak hanya karena keterlibatannya dalam jaringan ulama. melainkan lebih penting lagi karena tulisan-tulisannya yang tidak hanya menyebarkan ajaran-ajaran sufisrne tetapi juga meng-himbau kaum Muslimun melancarkan jihad melawan kolonialis Eropa, dibaca secara luas di wilayah Melayu-lndonesia. Peranan dan perhatian tersebut memantapkannya sebagai ulama asal Palembang yang paling menonjol dan paling berpengaruh melalui karya-karyanya.Tercatat delapan karya tulis Al-Palimbani, dua diantaranya telah dicetak ulang beberapa kali, dua hanya tinggal nama dan naskah selebihnya masih bisa ditemukan di beberapa perpustakaan, baik di Indonesia maupun di Eropa. Pada umumnya karya tersebut meliputi bidang tauhid, tasawuf dan anjuran untuk berjihad. Karya-karya Al-Palirnbani selain empat buah yang telah disebutkan di atas adalah:1. Zuhrah al-Murid fi Bayan Kalimah al-Tauhid, ditulis pada 1178 H/1764 M di Makkah dalam bahasa Melayu, memuat masalah tauhid yang ditulisnya atas perrnintaan pelajar Indonesia yang belurn menguasai bahasa Arab.2. Al-'Uwah al-Wusqa wa Silsilah Ulil-Ittiqa', ditulis dalam bahasa Arab, berisikan wirid-wirid yang perlu dibaca pada waktu-waktu tertentu.3. Ratib 'Abdal-Samad, semacam buku saku yang berisi zikir, puji-pujian dan doa yang dilakukan setelah shalat Isya. Pada dasarnya isi kitab ini hampir sama dengan yang terdapat pada Ratib Samman.4. Zad al-Muttaqin fi Tauhid Rabb al-'Alamin, berisi ringkasan ajaran tauhid yang disampaikan oleh Syekh Muhammad al-Samman di Madinah.Mengenai Hidayah al-Salikin yang ditulisnya dalam bahasa Melayu pada 1192 H/1778 M, sering disebut sobagai terjemahan dari Bidayah al-Hidayah karya AI-Ghazali. Tetapi di samping menerjemahkannya, Al-Palimbani juga membahas berbagai masalah yang dianggapnya penting di dalam buku itu dengan mengutip pendapat AI-Ghazali dari kitab-kitab lain dan para sufi yang lainnya. Di sini ia menyajikan suatu sistem ajaran tasawuf yang memusatkan perhatian pada cara pencapaian ma'rifah kesufian melalui pembersihan batin dan penghayatan ibadah menurut syariat Islam. menyajikan suatu sistem ajaran tasawuf yang memusatkan perhatian pada cara pencapaian ma'rifah kesufian melalui pembersihan batin dan penghayatan ibadah menurut syariat Islam.Sedangkan Sayr al-Salikin yang terdiri dari empat bagian, juga berbahasa Melayu, ditulisnya di dua kota, yaitu Makkah dan Ta'if, 1779 hingga 1788. Kitab ini selain berisi terjemahan Lubab Ihya' Ulum al-D/n karya Al-Ghazali, juga memuat beberapa masalah lain yang diambilnya dari kitab-kitab lain. Semua karya tulisnya tersebut masih dijumpai di Perpustakaan Nasional Jakarta.10. Arsyad al- Banjari :Muhammad Arsyad bin Abd Allah al- Banjari lahir tanggal 15 Shafar 1122H /1710M, pendidikan dasarnya diperoleh di keraton di kota Banjar atas perintah Sultan at-Tahlilillah yang berkuasa di kota Banjar di kala itu dan tidak ada data tentang ilmu apa saja yang diperoleh Al- Banjari dalam lingkungan keraton tersebut serta siapa saja guru yang mengajarinya. Pada usia tiga puluh tahun Al- Banjari melanjutkan pendidikan ke Mekah dengan tujuan menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu dan mukim di sana.[13] Di Mekah al-Banjari banyak bertemu dengan ulama-ulama dari berbagai disiplin ilmu antara lain Syekh Atha’illah bin Ahmad al- Mishri, syekh Ahmad in Abdul Mun’im ad- Damanhuri , Sayyid Abul Faidh Muhmmad Murtadha bin Muhammad az-zabidi, dan lain-lain. Ketika berada di Mekah, al-Banjari juga mendapatkan kesempatan untuk mengajar di Mesjidil Haram.[14] Setelah merasa cukup belajar di Mekah ia bermaksud melanjutkan belajar ke Mesir, sebelum ke Mesir ia singgah di Madinah dan tinggal di rumah Syekh Abdul Karim Samman seorang ulama di bidang tasawuf. Di tempat ini ia memperdalam tasawuf sampai mendapatkan ijazah dan memperoleh kedudukan sebagai khalifah. Saat itu di Madinah baru saja kedatangan seorang guru besar dari Mesir yaitu syekh Muhammad Sulaiman al-Kurdi yang mengajar di Mesjid Nabawi, ia belajar dengan beliau bersama murid-murid yang lain. Dalam pandangan al-Kurdi , al-Banjari merupakan murid yang cerdas sehingga al-Kurdi memberikan apresiasi kepadanya dengan memintanya untuk duduk di tengah-tengah bersama-sama dengan al-Kurdi sementara murid-murid yang lain duduk mengelilinginya. Setelah kurang dari lima tahun belajar di Mekah ia meminta izin untuk pergi ke Mesir namun al-Kurdi kurang setuju dan menganjurkannya supaya ia kembali ke tanah air dan al-Kurdi menyatakan bahwa ilmu yang diperolehnya selama belajar di Haramayn sudah sangat memadai untuk dikembangkan. Dan pada tahun 1186H/1772M ia kembali ke tanah air.[15] Dalam perjalanan pulang al-Banjari singgah di Pulau Penyegat , Riau dan di tempat ini beliau sempat memberikan pengajaran, kemudian ia berangkat ke Betawi dan menjadi tamu ‘Abdurrahman al- Mashri yang juga seorang ulama dan baru saja pulang dari tanah suci. Selama di Betawi al-Banjari mengelilingi masjid-masjid yang ada di sana dan juga memperbaiki arah kiblat beberapa mesjid, karena beliau memang terkenal dengan kepandaiannya di bidang ilmu falak, masjid-masjid tersebut antara lain: masjid Luar Batang, Masjid Pekojan dan Masjid Jembatan Lima. Setelah dua bulan di Betawi al-Banjari kemabali ke Banjar dan sampai di sana pada bulan Ramadhan 1186H bertepatan dengan bulan Desember 1772 M.[16]C. Tujuan dan Fungsinya Dalam Dunia IntelektualMasyarakat Muslim klasik yang melakukan rihlah ‘ilmiyyah pada priode klasik tidak dibatasi oleh adanya sistem kewarganegaraan (citizenship) sehingga mereka bebas melakukan rihlah ilmiyyah dengan menjelajahi berbagai negara tanpa terikat dengan kewajiban mengurus paspor atau visa. Namun demikian tujuan rihlah sebenarnya cukup beragam sesuai dengan perkembangan masyarakat. Diantaranya adalah untuk melaksanakan ibadah haji, berdagang dan menuntut ilmu, bertualang untuk mengembangkan jasmani dan mental dan sebagainya. Beberapa tujuan dari rihlah ‘ilmiyyah adalah :1. Pada masa Rasulullah rihlah bertujuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang hadis dan Alquran serta untuk belajar tentang hukum langsung dari Nabi Saw.2. Pada masa sahabat dan tabi’iin tujuan rihlah ilmiyyah lebih dititik beratkan untuk mencari sanad hadis yang shahih dari sahabat yang memiliki nilai ketsiqahannya dalam meriwayatkan hadis.3. setelah ilmu hadis dibukukan maka lawatan ilmiah lebih ditujukan untuk mencari guru ataupun mendengar hadis untuk selanjutnya diperbincangkan ataupun didiskusikan.4. selain mencari ilmu, lawatan ilmiah juga bertujuan untuk memberikan pengajaran seperti Fasarqi ibn al-Quthami seorang yang memiliki keahlian dalam bidang sastra dan mengetahui ilmu tentang geneologi (nasab) diundang oleh Abu Ja’far al- Manshur untuk mengajarkan anaknya Al- Mahdi tentang Adab.[17]5. Imam Syafi’I mengatakan bahwa tujuan rihlah ilmiyyah adalah tafaqquh fi din [18]Fungsi rihlah ilmiyyah:Diantara fungsi rihlah ‘ilmiyyah adalah : F Memperluas wawasan yaitu dengan rihlah ‘ilmiyyah seseorang dapat memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Pengalaman ini adakalanya untuk mendengarkan ilmu pengetahuan dari guru-guru juga untuk mengadakan penelitian sendiri, mereka mengumpulkan bahan-bahan ilmu bukan dari buku-buku atau dari lisan guru mereka melainkan dari penyelidikan dan pembahasan mereka sendiri. Melakukan rihlah ‘ilmyyaah ke beberapa negeri untuk selanjutnya mencatat apa-apa yang dilihatnya dan selanjutnya dibukukan apa yang telah diselidikinya. Dan buku-buku tersebut menjadi sumber yang asli yang dapat dipertanggung jawabkan.[19]F Mencari seorang guru yang berkualitas. Pada zaman klasik para pelajar pergi melakukan rihlah ‘ilmiyyah manakala dia mendengar bahwa di suatu kota terdapat seorang guru yang baik di bidang kajian yang ditekuninya. Terkadang seorang penuntut ilmu yang telah dinyatakan tamat dari bimbingan seorang guru, direkomendasikan untuk melanjutkan perjalanannya di bawah bimbingan seorang guru lain yang lebih otoritatif (seringkali guru atau teman dari guru pertama). Mengikuti rekomendasi semacam ini, seorang penuntut ilmu kerap harus melakukan rihlah ‘ilmiyyah. Dalam pendidiakan klasik, jumlah dan kaliber guru seseorang sangat diperhitungkan, biasanya melebihi apresiasi orang terhadap lembaga tempat seseorang menjalani pendidikannya. Lawatan ilmiyyah ini dilakukan untuk menambah kesempurnaan pengetahuannya.[20]F Sebagai upaya penyebaran ilmu pengetahuan. Rihlah ‘ilmiyyah berperan besar dalam proses penyebaran informasi dalam tradisi intelektual Muslim klasik. Perpindahan para ulama dari satu tempat ke tempat lain secara otomatis berarti pula penyebaran ilmu pengetahuan. [21][1] Louis Ma’luf , Munjid[2] QS. Al-Quraisy, ayat : 2[3] QS.an-Nisa , ayat: 97.[4] Louis Ma’luf ,[5] Umar Ridha kahhalah, dirasaat al- Ijtima’iyyah fi al-‘ushur al-Islamiyyah,(dimasyq: 1973), h.54.[6] Ibn Khaldun, Muqaddimah ibn Khaldun, Juz: 2, h.285.[7] ‘Abd al-Muhsin al-‘Ibaad, Imam al-Bukhari wakitabuhu jami’ash-Shahih, Juz: 1, h. 3.[8] Az-Zirkli, Al-‘Alaam Qamus Tarajim li Asyhur ar-Rijal min al-‘Arb wa al-Musta‘ribiin wa al-Mustasyriqin, Vol.I, (Beirut: Dar al-Kutub ‘Ilmiyyah, 1987), h.44.[9] Muhammad Idris asy-Syafi’I, al-Umm, Juz: 1, h.7.[10] Abu Faraj ibn al-Jauzi, Al-Muntazam:Fi Tarikh al- Muluk wa al-Umam, Vol.I, (Haydarabad: Da’irah al-Maariif, 1983), h.26.[11] Mehdi Nakoosteen, Kontribusi ….[12] Azyumardi azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulaun Nusantara abad ke-17 dan ke-18, (Prenada Mulia: 2004, 230-231.[13] Keberangkatanannya ke Banjar adalah atas anjuran sultan Tahlilillah. Di bawah patronasenya juga al-Banjari diberikannya rumah sebagai tempat tinggalnya selama belajar di Mekah yang terletak di daerah Syamiah yang dikenal dengan Berhat Banjar. Abu Daudi: Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, (Dalampagar: npb, 1991)h.2-3.[14] Abu Daudi, ibid, h.25-27.[15] H.A.Gazali Usman, Kerajaan Banjar: Sejarah Perkembangan Politik, Ekonomi, Perdagangan dan Agama Islam Banjarmasin : Badan Penerbit Universitas Lambung Mangkurat , 1994, h.[16] Abu Daudi, h. 33-34.[17] Umar Ridha kahhalah, dirasaat al- Ijtima’iyyah fi al-‘ushur al-Islamiyyah,(dimasyq: 1973), h.45.[18] Muhammad Idris asy-Syafi’I, al-Umm, Juz: 1, h.8.[19] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Hidakarya Agung: Jakarta, 1992), h.125.[20] Hasan Asari, Menguak Sejarah Mencari ‘Ibrah, (Citapustaka Media: Bandung, 2006), h.208.[21] J. Pedersen, Fajar Intelektualisme Islam Buku dan Sejarah Penyebaran Informasi di Dunia Arab, terj. Yuliani Lipuo (bandung: Mizan, 1996), h.36.

Eight wisdom from al-Hukama'

DELAPAN PENGETAHUAN DARI SEORANG AHLI HIKMAHFatma YuliaImam al-Ghazali dalam kitab yang berjudul anakku menceritakan sebuah persahabatan dua orang yaitu Syakik yang berasal dari Balkh dengan Hatim seorang yang tuli. Suatu hari Syakik bertanya kepada Hatim : “ engkau telah menjadi temanku selama tiga puluh tahun, apakah yang telah engkau peroleh selama tiga puluh tahun tersebut? Hatim menjawab bahwa aku telah memperoleh delapan pengetahuan yang bermanfaat untukku dan dengan pengetahuan tersebut aku berharap memperoleh keselamatan. Selanjutnya Hatim menjelaskan bahwa ke delapan pengetahuan itu adalah :Pengetahuan pertama: aku telah memperhatikan manusia, dan setiap orang memiliki teman dan kekasih ada teman yang menemaninya ketika sakit dan ada yang menemaninya ketika berada di tepi kubur. Kemudian teman itu akan meninggalkannya sehingga ia hanya tinggal sendiri dan tidak seorang pun yang menemaninya masuk ke dalam kubur. Aku merenungkan tentang hal tersebut dan berkata kepada diri sendiri, “ Teman terbaik manusia adalah yang mengikutinya ketika berada di kubur. Aku tidak menemukan teman yang baik tersebut kecuali kebaikan yang telah aku pilih menjadi teman aku sehingga dapat menjadi cahaya dan teman di dalam kubur yang tidak menyusahkan aku.Pengetahuan kedua, aku melihat manusia mengikuti hawa nafsunya dan selalu memuaskan hasratnya, kemudian aku merenungkan Firman Allah : “ orang yang takut kepada Tuhannya Yang Maha Agung dan ia menahan diri dari hawa nafsunya, sesungguhnya ia akan memperoleh surga sebagai tempat kediamannya.” (QS : 7: 40-41). Aku menyadari bahwa Alquran mengandung kebenaran yang hakiki, sehingga aku mempersiapkan diri untk menentang hawa nafsu. Aku selalu berjaga-jaga untuk berperang dengannya sampai ia dengan suka rela tunduk kepada perintah Allah.Pengetahuan ketiga, aku melihat betapa semua orang berusaha untuk mengumpulkan harta benda dunia untuk disimpan dan digenggam dalam tangannya. Kemudian aku merenungkan firman Allah : “ segala sesuatu yang menyertaimu akan musnah , dan hanya Allah yang kekal abadi” (QS: 55: 26-27). Kemudian setelah itu aku tidak lagi bernafsu kepada dunia dan menghadapkan diri kepada Allah yang Maha kekal. Lalu aku membagi-bagikan kekayaanku kepada orang-orang miskin sehingga mereka dapat beribadah kepada Allah yang Maha kaya.Pengetahuan keempat, aku melihat seseorang yang percaya bahwa karakter dan derajat ditentukan oleh kelompok manusia dan etnis yang mereka banggakan. Yang lain percaya bahwa karakter dan derajat tergantung pada kekayaan dan kedudukan serta jumlah anak yang mereka anggap sebagai harta, sebahagian ada yang mempercayai bahwa derajat yang tinggi itu berasal dari keturunan. Nilai yang mulia disisi Allah adalah ketaqwaan manusia dan kedekatan kepadanya ,sehingga aku memilih untuk dekat kepada Allah. Aku percaya bahwa Alquran adalah kebenaran dan bahwa pendapat serta angan-angan manusia tiada berguna dan kelak akan musnah.Pengetahuan kelima, aku melihat semua orang saling mengecam dan memeras orang lain yang muncul karena iri hati terhadap orang lain. Lalu aku merenungkan Firman Allah : “ Kami telah membagikan rezeki di antara mereka dalam kehidupan dunia ini.” (QS:17: 31) Kemudian aku menyadari bahwa pemberian Allah berasal dari keabadian, sehingga aku tidak merasa iri kepada siapapun dan puas dengan pemberian Allah yang Maha Tinggi.Pengetahuan keenam, aku melihat orang-orang bermusuhan karena berbagai sebab dan maksud. Lalu aku merenungkan Firman Allah : “ Syaithan adalah musuhmu maka jauhilah dia” (QS: al-Maidah: 90). Kemudian aku menyadari bahwa aku tidak boleh bermusuhan kepada siapapun kecuali kepada syaithan.Pengetahuan ketujuh, aku melihat orang-orang berusaha keras untuk mencari makan dan nafkah sehingga ia terjerumus ke dalam godaan dan melakukan hal-hal yang dilarang, menghinakan dan merendahkan diri sendiri. Lalu aku merenungkan Firman Allah : “ Tak seekorpun binatang dibumi ini yang makananannya tidak dijamin oleh Allah (QS: Hud : 6) Kemudian aku pun menyadari bahwa makanan aku yang memberi dan menjamin adalah Allah sehingga aku mencurahkan diri untuk beribadah kepadaNya dan mengabaikan seluruh keinginan yang tidak berasal daripadaNya.Pengetahuan kedelapan, aku melihat setiap orang bergantung kepada makhluk ada yang bergantung kepada dunia dan uang ada yang bergantung kepada emas dan kekayaan dan sebagainya. Lalu aku merenungkan Firman Allah “ Siapa saja yang bergantung kepada Allah , Dia akan mencukupinya, karena Allah akan memberikan apa yang diinginkannya dan Allah akan berkuasa atas segala sesuatu.” (QS: 65: 3). Bertakwalah kepada Allah , Dia tidak akan menelantarkanmu, Allah akan memberikan pahala kepadamu.Wallahu’alam

Buku adalah jendela dunia

BUKU ADALAH JENDELA DUNIA DENGANNYA SEOLAH KITA JELAJAHI DUNIA INI. BERSAMANYA KITA RAIH ILMU-ILMU PENGETAHUAN”“Buku adalah jendela dunia dan membaca adalah kuncinya”, demikian pepatah ini begitu mendunia. sebuah rangkaian kata yang telah melewat dalam telinga masyarakat dunia. Sebuah kalimat yang apabila di kaji lebih dalam akan menemukan makna yang tepat terkait dengan pentingnya aktifitas ini bagi kemajuan sebuah peradaban. sebuah realita bahwa tradisi membaca dikalangan masyarakat Indonesia sampai saat ini masih sangat rendah, terutama untuk masyarakat Indonesia yang notabene berpendidikan rendah. simak beberapa fakta berikut ini:Berdasarkan data yang diberikan Mendiknas, ada lebih dari 200 juta penduduk Indonesia yang melek huruf. Tapi presentase akses masyarakat terhadap Koran hanya 2,8 persen?Tahun 1999 saja , rasio jumlah penduduk dengan surat kabar: Indonesia hanya 1 : 43-satu surat kabar dibaca oleh 43 orang, bandingkan dengan Malaysia (1 : 8,1), Jepang (1 : 1,74), serta lndia (1: 38,14). Negara maju 513 judul buku per satu juta penduduk (Daniel Dhakidae, 1997;187). Dari data statistik di atas dapat kita temui sebuah kenyataan bahwa melek huruf yang tinggi ternyata tidak selalu diikuti dengan bertambahnya jumlah buku dan media teks lainnya. Termasuk kebiasaan membaca buku. Berdasarkan survei yang dilakukan Taufiq Ismail terhadap pengajaran sastra dan mengarang di SMU beberapa negara: Setiap tahun di Amerika, siswa ditugasi membaca novel sastra sebanyak 32 judul, Belanda 30 judul, Prancis 20 judul, Jerman 22 judul, Jepang 15 judul, Kanada 13 judul, Singapura 6 judul, Brunei 7 judul, Thailand 5 judul, sedangkan di Indonesia 0 (nol) judul.Sekolah Dasar yang memiliki perpustakaan hanya sekitar 1 persen, sedangkan SLTP dan SLTA sekitar 54 persen. (Adkhilni, 2004). Pantas saja kalau UNDP (2003) menempatkan minat baca masyarakat Indonesia di urutan ke-39, dari 41 negara yang disurvei. Goenawan Mohamad mengibaratkan bangsa ini telah melangkah terlalu lebar, dari dunia visual wayang menuju dunia visual televisi. Sementara dunia baca terlewatkan. Miskin referensi dan literasi (bacaan).Jumlah buku baru yang diterbitkan pun hanya 0,0009 persen dari total penduduk yang artinya 9 judul buku baru untuk setiap sejuta penduduk. Rata-rata negara berkembang 55 per satu juta penduduk. (www.suaramerdeka.com, 26 Desember 2005) Nah, fakta miris semakin terkuak. hal ini menjadi PR bagi kita semua, khususnya Pemerintah. Bagaimana caranya agar minimal masyarakat Indonesia tidak buta huruf. setelah pemerintah mampu memberantas buta aksara, langkah selanjutnya mengkampanyekan tradisi gemar membaca, bukan malah sebaliknya. Saya tidak akan membahas hal itu terlalu jauh, Fokus saya disini adalah bagaimana caranya agar kita , masyarakat Indonesia memiliki sikap gemar membaca buku. sebenarnya sudak banyak buku yang memberikan trik-trik atau kiat-kiat khusus untuk menumbuhkan minat baca itu sendiri. dan sejatinya tulisan ini adalah bagian dari tujuan penulisan buku tersebut.Ada banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari aktifitas membaca itu sendiri, salah satunya adalah semakin bertambahnya ilmu pengetahuan yang kita dapat. disamping itu membaca juga menjadi salah satu alat yang jitu untuk menghilangkan stress atau paling tidak rasa jenuh setelah sekian hari bergelut dengan dunia kerja. Dengan membaca, rasa jenuh, letih atau tekanan-tekanan yang membuat otak bekerja ekstra seolah lenyap oleh ramuan membaca. Dalam membaca yang tujuan utamanya untuk menghilangkan kejenuhan, maka harus disesuaikan dengan jenis bacaan, baik yang berbobot atau sebaliknya. Untuk tujuan ini, jenis bacaan yang dibutuhkan adalah bacaan yang ringan, dalam arti dapat menghibur pembaca serta membawa pembaca seolah ikut terlibat dalam kehidupan cerita tersebut. Sehingga, cerpen, novel, infotainment atau majalah, yang dalam memahami bacaaan itu tidak terlalu sulit, mudah dicerna oleh akal merupakan bacaan yang tepat dan bersifat menghibur. Dengan sering membaca seseorang dapat mengambil manfaat dari pengalaman orang lain, seperti mencontoh kearifan orang bijaksana dan kecerdasan para sarjana. Keyakinan seseorang akan bertambah ketika dia membaca buku-buku yang bermanfaat, terutama buku-buku yang ditulis oleh penuli-penulis muslim yang saleh. Buku adalah penyampai ceramah terbaik dan ia mempunyai pengaruh kuat untuk menuntun seseorang menuju kebaikan dan menjauhkannya dari kejahatan,Selain itu, membaca juga mempunyai manfaat penting dalam kaitannya dengan peningkatan mutu sumber daya manusia. Dengan gemar membaca, terutama tentang ilmu-ilmu pengetahuan baik alam maupun sosial, maka akan diperoleh berbagai informasi dan pengetahuan yang belum kita ketahui sebelumnya. Sehingga kita tidak tertinggal dari negara-neraga lain. para peraih medali olimpiade sains international adalah siswa-siswa yang kesehariannya berkutat dengan buku. buku apa saja, yang penting otak tidak pernah berhenti terlalu lama dari membaca. Membaca merupakan aktivitas yang mudah sebenarnya, namun begitu sulit untuk meluangkan waktu untuk melaksanakannya. Apalagi, di era globalisasi ini, yang dipenuhi oleh teknologi-teknologi canggih, sehingga membaca tidak lagi menjadi sebuah rutinitas hidup melainkan kerjaan sampingan saja. mungkin itu pulalah salah satu penyebab rendahnya sumber daya manusia Indonesia. Ketidakgemaran membaca membuat kita terasa amat kecil, dunia terasa sempit dikarenakan sedikitnya informasi yang kita peroleh. Padahal,informasi dan ilmu pengetahuan dari waktu ke waktu semakin lama semakin bertambah pesat. Bagaimana dengan kita manusia Indonesia? Akankah kita akan tertinggal jauh dari perkembangan zaman? Kita sebagai manusia, yang diberi akal yang lebih baik dibanding makhluk lain seharusnya mampu menelaah lebih dalam tentang ilmu pengetahuan yang tak pernah habis walaupun kita menggalinya. Dan membaca adalah salah satu sarana untuk mencapai itu semua. Sekarang, tinggal bagaimana cara kita untuk menumbuhkan sikap gemar membaca dimanapun kita berada.Nah, berikut ini beberapa tips atau boleh dikata kiat-kiat yang diberikan oleh kang Hernowo dalam buku Best Seller-nya “Mengingat Makna”.Langkah awal yang harus dilakukan adalah dengan mengubah paradigma (cara pandang) kita dalam memandang buku. Menurut beliau Buku sama saja dengan makanan yaitu makanan untuk ruhani kita. Ini sangat penting dalam rangka memasuki dunia buku. Bayangkan apabila jasmani kita tidak diberi makanan-makanan berigizi. Apa yang akan terjadi? Tubuh kita akan lemas, otomatis akan mempengaruhi aktivitas kita sehari-hari. Begitu pula dengan ruhani kita. Buku adalah salah satu jenis “makanan ruhani” kita yang sangat bergizi, lewat paradigma baru membaca buku dengan menganggap buku sebagai makanan kesukaan kita, sehingga kita dapat memperlakukan buku layaknya makanan tersebut. Maka langkah awal telah selesai. Dilanjutkan dengan mengenali atau melakukan pengenalan dengan buku yang akan kita baca. Bisa dengan mengetahui pengarangnya dahulu atau intisari dari bacaan tersebut. Mintalah kepada seseorang untuk menunjukkan lebih dulu hal-hal menarik yang ada pada buku itu. Langkah terakhir, dapat dilakukan dengan membaca sambil makan-makanan ringan atau dalam istilah “ngemil” ini dimaksudkan supaya pikiran tidak terlalu menegang dan tetap rileks dengan isi bacaan. Apabila kita sudah mengubah paradigma membaca buku seperti di atas dan telah memahami manfaat membaca buku, cobalah membaca buku-buku yang memiliki bobot lebih tinggi. Buku-buku ilmiah adalah contoh paling mudah. Seorang intelektuali bernama dave Meier dalam bukunya yang berjudul, The Accelerated Learning Handbook, mengemukakan beberapa cara mudah dalam membaca buku. Meier menamai tips-tips ini “Metode Belajar Gaya SAVI”Pertama, membaca secara somatis (bersifat refe/tubuh). Ini berarti bahwa, pada saat kita membaca, mencoba untuk tidak hanya duduk boleh dengan berdiri atau berjalan-jalan saat membaca. Gerakkan tangan, kaki dan kepala, setelah itu baca kembali. Kedua, membaca secara auditori (bunyi), cobalah sesekali membaca dengan menyuarakan apa yang kita baca, lebih-lebih apabila ada istilah yang sulit kita pahami. Karena dengan demikian itu, telinga kita akan membantu mencernanya. Ketiga, membaca secara visual (gambar). Ini berkaitan dengan kemampuan kita yang bernama imajinasi atau kekuatan membayangkan. Dengan menggambarkan atau membayangkan sebuah konsep, Insya Allah juga akan mempercepat pemahaman. Keempat, membaca secara intelektual (merenungkan). Ini juga berkaitan dengan kemampuan luar biasa yang kita miliki, kita perlu jeda atau berhenti sejenak setelah membaca, sehingga kita akan dengan mudah menuangkan atau menceritakan kembali apa-apa yang kita baca. Semoga dengan sedikit goresan tinta ini dapat kita peroleh manfaat yang besar. Dan semakin menumbuhkan semangat kita akan membaca agar semakin bertambah ilmu dan kita pun bisa menatap masa depan dengan penuh percaya diri. Insyaallah. “Jadikanlah diri kita sebagai seorang yang haus akan ilmu pengetahuan, raihlah dunia dengan membaca, membaca dan membaca!”