Sabtu, 18 Mei 2013

Daftar Kontak


Bagi yang berminat dengan tulisan saya mohon kontak sebelum mengcopy

لمن أراد أن ينسخ  هذا الدرس يرجى أن يتصل بعنوان الأتي. 


Name:  FATMA YULIA 








Kamis, 09 Mei 2013

Senin, 06 Mei 2013

Dinamika Intelektual Pada Masa Dinasti MUwahhidun (524-667/1126-1269)

TRADISI INTELEKTUAL MUSLIM PADA MASA DINASTI MUWAḤḤIDŪN (Telaah Historis Tentang Dinamika Pendidikan Islam Pada Masa Ya’qūb Al-Manṣūr) A. PENDAHULUAN Selama ini sejarawan hanya tertarik membahas jasa-jasa dalam bidang politik dan militer dinasti-dinasti Islam yang mempunyai nama besar seperti ‘Abbāsīyyah, Amawīyyah dan Fāțimīyyah. Jasa-jasa dalam hidupnya suatu peradaban, budaya serta pendidikan dari dinasti-dinasti kecil nampaknya kurang mendapat perhatian mereka. Hal ini tercermin dri sedikitnya literatur yang membicarakan tentang dinasti-dinasti kecil tersebut. Padahal jika ditelusuri lebih mendalam, dinasti-dinasti kecil yang muncul dalm sejarah Islam memiliki peran yang cukup besar dalam memajukan peradaban Islam. Salah satu dinasti kecil tersebut adalah dinasti Muwaḥḥidūn yang muncul di kawasan Afrika Utara tepatnya Maroko. Dinasti Muwaḥḥidūn yang dibahas dalam buku ini merupakan satu diantara dinasti-dinasti kecil Islam (Mulūk aț-Țawāif) yang pernah berkuasa di Afrika Utara dan Andalusia (Spanyol). Selama lebih dari satu abad (524-667/1126-1269), dinasti ini memainkan peranan yang amat penting dalam sejarah Islamisasi dan perkembangan intelektual umat Islam khususnya di dunia Islam belahan Barat. Bahkan sebagian kemajuan yang berhasil dicapai dunia Barat merupakan hasil transmisi ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui dinamika keintelektualan pada saat dinasti ini berkuasa. Dinasti Muwaḥḥidūn, dlam literatur Barat dikenal dengan Almohad Dynasty pada mulanya merupakan satu gerakan keagamaan yang bertujuan untuk menegakkan tauhid disamping sebagai gerakan tandingan bagi kaum santri (murābițūn) dalam menolak segala bentuk paham antropomorfisme (tajsīm) yang dianut oleh mereka. Gerakan ini didirikan oleh Ibnu Tūmart (w.524/1130), yang berasal dari kabilah Mosamada salah satu kabilah Berber. Dakwah yang didirikan ini selanjutnya berkembang menjadi sebuah gerakan politik yang bertujuan untuk memperkuat eksistensinya sekaligus bersaing di tengah-tengah dinasti lainnya. Penyalahgunaan kekuasaan oleh dinasti Murābițūn memperkuat keinginan kelompok Muwaḥḥidūn untuk menghancurkan kekuasaan Murābițūn dan menggantikannya dengan dinasti mereka yaitu Muwaḥḥidūn. Penamaan dinasti ini dengan Muwaḥḥidūn didasari atas tujuan utama kelompok ini yaitu purifikasi pemahaman tauhid yang telah tercemar ketika itu. dukungan dari pengikutnya merupakan syarat yang cukup menentukan bagi terbentuknya sebuah pemerintahan. Sebagai pencetus dari berdirinya dinasti ini, Ibnu Tūmart memproklamirkan dirinya sebagai pemimpin dengan gelar al-Mahdī. Sebagai pemimpin dinasti, Ibnu Tūmart mulai melakukan ekspansi ke berbagai wilayah Islam keluar dari basis kekuasannya. Keberhasilan dinasti baru ini menaklukkan einasti yang sedang berkuasa ketika itu yaitu Murābițūn merupakan sebuah tahapan penting dalam usaha menyebarkan ajaran Islam yang benar sekaligus untuk membentuk sebuah peradaban bagi masyarakat Berber. Untuk selanjutnya sejarah dinasti ini menjadi catatan sejarah penting diantara dinasti-dinasti Islam lainnya dalam hal perkembangan peradabannya. ‘Abd al-Mu’min penguasa pengganti Ibnu Tūmart mulai melakukan kebijakan politik dengan melakukan perbaikan mulai dari sistem pemerintahan maupun sosial. Kebijakan politik yang dilakuksn antara lain melakukan ekspansi ke wilayah Andalus dan mengganti bentuk pemerintahan selanjutnya dari demokrasi menjadi monarki. Pada masa ‘Abd al-Mu’min kondisi politik dinasti Muwaḥḥidūn semakin kuat dan stabil. Hal ini mempermudah bagi khalifah ketika itu untuk membangun sebuah peradaban Islam, yang antara lain usaha tersebut dilakukan melalui pendidikan. Puncak kemajuan peradaban dari dinasti ini berrlangsung tepatnya pada masa Ya’qūb al-Manṣūr khalifah keempat dari dinasti Muwaḥḥidūn yang mulai berkuasa mulai tahun 590/1184. Puncak peradaban (‘aṣr aẑ-ẑahab) dinasti Muwaḥḥidūn yang berlangsung pada masa Ya’qūb al-Manṣūr didukung beberapa kebijakan yang berupa patronase kepada lembaga-lembaga pendidikan dan para ilmuwannya dalam memperoleh kebebasan dan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Manifestasi dari kebebasan ini, melahirkan para ilmuwan besar dalam berbagai disiplin ilmu. Selanjutnya para ilmuwan ini memiliki produktivitas untuk melahirkan karya-karya baik dalam bidang ilmu keagamaan (al-‘ulūm an-naqlīyyah), maupun ilmu-ilmu filsafat dan alam (al-‘ulūm al-aqlīyyah). Kemampuan para ilmuwan dalam menguasai berbagai ilmu ini dilandasi atas sebuah pandangan yang menegaskan bahwa menekuni satu bidang ilmu pengetahuan dengan mengabaikan yang lain merupakan ketidaksempurnaan intelek manusia. Sebagian ilmuwan ini memilih untuk mempelajari segalanya dan menekuni profesi di bidang hukum, kedokteran, dan filsafat dalam waktu yang bersamaan. Tanpa patronase khusus dalam hal ini khalifah, maka mereka dapat ditugaskan sebagai hakim (qaḥī quḍāt), dokter pribadi khalifah maupun sebagai pengajar bagi anak-anak pembesar. Pada masa itu diskusi (munāẓarah), debat (jadal) dan pandangan-pandangan baru didorong perkembangannya di dalam kerangka kerja (frame work) ajaran Islam yang dapat menambah kesuburan intelektual dan rasionalisme ilmuwannya. Kepemimpinan lembaga pendidikan yang didirikan oleh khalifah juga berada di bawah kontrolnya. Hal ini merupakan sebuah indikasi tindakan politik yang memunyai pengaruh yang besar pada pendidikan tinggi Islam. Lembaga-lembaga pendidikan memiliki syekh (staf pengajar) yang ditunjuk dan diberhentikan khalifah. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut di satu sisi berada dalam lingkungan masyarakat yang berorientasi keagamaan. Sedangkan di sisi lain lembaga pendidikan tersebut melambangkan keunikan dengan didirikannya sebuah pendidikan tinggi pribadi (swasta), yang lepas dari kontrol khalifah. Keadaan demikian memberikan pengertian tentang relasi (hubungan) antara kehidupan agama yang diwujudkan dalam bentuk pendirian lembaga pendidikan untuk melestarikan sebuah paham keagamaan, kehdupan politik dan wujud pelestarian ideologi penguasa dalam kehidupan sosial dengan indoktrinasi ideologi penguasa tersebut kepada rakyatnya. Dalam hal ini aspek sosial, politik dan agama (social-politico-religious) saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan ketatanegaraan. Selain bentuk patronase, faktor lain yang mendukung peradaban di masa itu adalah kesadaran masyarakatnya untuk memajukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Salah satu bentuk usaha tersebut adalah pemberian beasiswa, pemberian kemudahan akses ke perpustakaan, penyediaan buku-buku serta pencanangan kegiatan wajib belajar (ta’līm al-ijbār) bagi seluruh rakyatnya. Pemberian beasiswa mendorong ilmuwan yang ada ketika itu untuk melakukan penelitian, penulisan dan penerjemahan. Beasiswa ini juga diberikan untuk memberikan kemudahan bagi mereka melakukan seluruh aktivitas keilmuan dengan tenang tanpa terganggu dengam pekerjaan mencari biaya hidup. Bagi para pelajar, beasiswa ini juga mendorong terciptanya atmosfir keilmuan sekaligus memberikan kesan positif bagi terciptanya tradisi intelektual. Pendidikan yang diselenggarakan menjadi dinamis dan memberikan keuntungan yang besar bagi pembentukan komunitas ilmiah. Sejarah secara umum menganggap bahwa al-Ma’mūn dengan bayt al-ḥikmahnya atau Niẓām al-Mulk dengan madrasah Niẓāmiyyahnya yang keduanya berada di Timur serta Jami’ Cordovanya yang berada di Barat (Spanyol) sebagai pembangkit era renaisans di Eropa. Namun jika lebih mendalam sesungguhnya kemajuan yang dirasakan dunia Barat sebagian merupakan kontribusi dari perkembangan ilmu pengetahuan masa dinasti Muwaḥḥidūn. Pendapat ini dapat diperkuat dengan melihat hasil-hasil karya ilmuwan Muslim yang berhasil diterjemahkan oleh ilmuwan Kristen ke bahasa Latin. Dalam buku ini akan difokuskan pembahasannya mengenai karakteristik pendidikan Islam yang berlangsung selama era pemerintahan Ya’qūb al-Manṣūr dari dinasti Muwaḥḥidūn. Pemerintahan Ya’qūb al-Manṣūr merupakan titik kulminasi perkembangan pendidikan yang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemunculan dan restrukturisasi lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Eropa. Di samping itu, penelitian ini juga berusaha menelusuri kehidupan ilmuwan-ilmuwan besar dari budaya Islam yang karya mereka sangat terkenal di dunia Barat dan bertahan sepanjang zaman. Buku ini bukan sekedar untukl mengenang zaman keemasan Islam yang pernah berlangsung , tetapi lebih dari itu untuk merekonstruksi elemen-elemen kejayaan Islam tersebut di tengah arus peradaban Barat. Peradaban Barat yang muncul sebagai gambaran terhadap kontribusi yang sangat besar dari umat Islam dam ilmuwannya. Warisan intelektual dan institusional yang ditinggalkan oleh ilmuwan Muslim pada masa klasik tersebut akan ditelusuri dalam mata rantai sejarah perkembangan pendidikan Islam, khususnya masa Ya’qūb al-Manṣūr dari dinasti Muwaḥḥidūn.
B. Asal Usul Dinasti Muwaḥḥidūn Kemunculan dinasti Muwaḥḥidūn (514/1120) dilatarbelakangi oleh sebuah gerakan keagamaan yang bertujuan untuk memberantas suatu paham keagamaan yang berkembang sebelumnya dan dianut pendahulu mereka yaitu dinasti murābițūn. Paham keagamaan tersebut adalah antrofomorfisme (tajsīm) disertai dengan bid’ah , khurafat dan takhayul yang telah merusak kemurnian ajaran Islam. Dinasti ini berada di kawasan Afrika Utara khususnya kawasan Sus sebelah barat daya kota Marākisy (Maroko sekarang) yang didirikan oleh Muḥammad ibn Tūmart. Dinasti ini dikenal juga dengan nama dinasti Berber, yang dalam literatur Barat disebut dengan nama Al-Mohads (Spanyol : Al-mohades). Bersama ‘Abd al-Mu’min ibn ‘Alī al-Kaumī , keduanya kembali ke Marākisy (Maroko) tepatnya di kota Bijaya (Bougie). Kemudian mulai dari kota ini keduanya menyusun strategi dakwah untuk menentang dinasti Murābițūn. Masyarakat di sekitarnya memberikan dukungan kepada Ibnu Tūmart karena melihat kemurnian dari ajarannya. Inti ajaran dari gerakan ini adalah memberikan kesadaran bahwa dunia ini berada pada dimensi kesucian dan penegak ke-Esaan Tuhan, sehingga gerakan ini dinamakan al-Muwaḥḥidūn (berpaham tauhid, mengesakan Tuhan), sebagai pimpinan dari gerakan ini adalah Muḥammad Ibn Tūmart sendiri dengamn gelar al-Mahdī. Kemasyhuran Ibnu Tūmart terdengar oleh Amīr al-Muslimīn Yūsuf ibn Tasyfīn yang menentang kemunculan gerakan ini. Gerakan Muwaḥḥidūn ini dikenal sangat keras dalam menyebarkan ajarannya termasuk kepada golongan Murābițūn karena dianggap ajarannya telah menyimpang. Penyebaran dakwah dinasti Muwaḥḥidūn pada kenyataannya berbenturan ……………………… kota benteng Algeciras (al-Jazīrah al-Khaḍrā’) dari kekuasaan Murābițūn. Menjelang penghujung tahun 541/1146 beliau telah berhasil menguasai ibukota Seville yaitu ibukota Murābițūn di Andalus, sekaligus mengakhiri kekuasaan dinasti Murābițūn di Andalus. Dua tahun berikutnya 543/1148 pihak Muwaḥḥidūn berhasil merebut benteng Consuegra dan menguasai ibukota Cordova, diteruskan dengan kota Granada dari Castille-Leon (551/1156). Pada tahun 566/1170 secara resmi kota Spanyol berada dalam kekuasaan dinasti Muwaḥḥidūn dengan ibukotanya Seville. Selanjutnya wilayah kekuasaan dinasti Muwaḥḥidūn menjadi luas dan membentang dari wilayah Afrika Utara (Maghrib) hingga Semenanjung Iberia. Wilayah kekuasaan yang luas tersebut menjadikan dinasti ini sering disebut dinasti Muwaḥḥidūn di Maghrib dan dinasti Muwaḥḥidūn di Andalus (Daulah al-Muwaḥḥidīn fī al-Maġrib wa al-Andalus). Dimulai dari dua tempat inilah selanjutnya peradaban Islam di Barat mulai berkembang setwlah kejatuhan dinasti Amawīyyah di Andalus. Hasil dari perkembangan ilmu yang berkembang di wilayah ini memberikan inspirasi atas kebangkitan kembali bagi bangsa Eropa dan renaisansnya. Kejatuhan dinasti Muwaḥḥidūn di Andalus ditandai dengan penyerangan aliansi raja Castille Leon, Navarre dan Aragon terhadap pasukan Muwaḥḥidūn pada pertempuran di La Navas de Tolosa 15 Safar 609/17 Juli 1212. Penyerangan ini menyebabkan kekuasaan dinasti Muwaḥḥidūn di Andalus melemah dan kekuasaan amir (gubernur) hanya berbentuk boneka dai pemerintahan pusat di Maroko. Dinasti Muwaḥḥidūn mengalami kejatuhannya ketika terjadi pengusiran umat Islam yang dilakukan penguasa Kristen, setelah berkuasa lebih satu abad ().

Rabu, 22 Desember 2010

UNTAIAN KATA BUAT UMMI

IBU : PENCETAK DAN PEMBINA UMAT

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra:"Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw, lalu bertanya, 'Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku pergauli dengan baik?' Rasulullah menjawab, 'Ibumu'. Dia bertanya lagi, 'Kemudian siapa?' Rasulullah menjawab, 'Kemudian ibumu'. Dia bertanya lagi, 'Kemudian siapa?' Rasulullah menjawab, 'Kemudian ibumu.' Dia bertanya lagi, 'Kemudian siapa?' Rasulullah menjawab, 'Kemudian bapakmu'." (HR. Al-Bukhari).

Petikan hadis di atas mengisyaratkan sebuah pemahaman bahwa kedudukan berbakti kepada ibu berada dalam peringkat utama yang penyebutannya dalam hadis di atas sebanyak tiga kali kemudian disusul dengan berbakti kepada bapak sebanyak satu kali. Mengapa Rasulullah Saw menekankan pentingnya berbakti kepada ibu itu sampai diulang sebanyak tiga kali baru setelah itu kepada bapak? Menurut Ibnu Katsîr bahwa Allah mengkhususkan berbuat baik kepada seorang ibu dikarenakan seorang ibu mengalami proses yang cukup berat ketika mengandung anaknya mulai dari masa kehamilan muda yang harus berperang dengan kondisi tubuh yang rentan sampai usia kehamilan yang sempurna mengalami keletihan dan kepayahan yang berlipat ganda, ditambah lagi ketika akan melahirkan rasa sakitnya semakin besar dan rela mempertaruhkan nyawa demi anak yang dikandungnya selama sembilan bulan agar keluar dari rahimnya dengan selamat. Setelah melahirkan maka tugas lainnya terus menanti yaitu menyapihnya selama dua tahun serta mendidiknya dengan pendidikan yang terbaik.

Selain itu kedekatan seorang ibu kepada anaknya akan terus terasa hangat karena anak itu sebelum hadir ke dunia ini berada dalam alam rahim. Alam rahim yaitu alam yang penuh dengan kasih sayang. Karena Rahim bermakna kasih sayang. Sehingga kedekatan emosional berupa rasa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya akan terus bersemayam pada diri seorang anak sepanjang hidupnya. Atas dasar inilah Rasulullah Saw juga memuliakan seorang ibu dengan mengatakan bahwa : “ surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.” Dalam Islam perbincangan tentang ibu ini mendapat perhatian tersendiri dalam Alquran sebagaimana diisyaratkan dalam surat Luqman, ayat 15, surat Al-Ahqaf ayat 15. Kedudukan seorang ibu dalam Islam sangat tinggi , tidak dapat disetarai oleh isteri maupun anak. Seorang anak harus tunduk kepada ibunya dan bersikap tabah terhadapnya apabila terjadi kemarahan pada diri ibunya. Meskipun kemarahan itu terjadi pada diri seorang ibu namun karena wataknya yang halus dan lembut serta rasa kasih sayangnya maka seorang ibu itu kerap kali mema’afkan kesalahan anak-anaknya sebelum anak-anaknya meminta maaf kepadanya. Bahkan perkataan dan perbuatan buruk anaknya sekalipun tetap diberikan pintu maaf oleh seorang ibu.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa meskipun kita diwajibkan berbuat baik kepada ibu, namun kita dilarang untuk mengikuti agama seorang ibu yang berbeda dengan kita, sebagaimana yang terjadi pada masa Rasulullah Saw seorang sahabat yang bernama Sa'ad bin Malik yang memiliki keyakinan yang berbeda dengan ibunya. Sa’ad sendiri menyadari bahwa sesungguhnya turunnya surat Luqman ayat 15 itu berkaitan dengan yang terjadi pada dirinya. Dia mengakui bahwa dirinya adalah seorang yang berbakti kepada ibunya, maka tatkala dia memeluk Islam, ibunya mengatakan kepadanya untuk meninggalkan agama barunya (Islam). Ibunya juga mengancam jika Sa’ad tidak meninggalkan agama barunya tersebut ia tidak akan makan dan minum sampai ia mati dan Sa’ad akan mendapatkan celaan dengan sebab kematian ibunya sehingga ia dicap sebagai ' pembunuh ibunya'. Sa’ad tetap menjawab dengan penuh kelembutan atas ancaman ibunya tersebut dan mengatakan , 'Jangan kamu lakukan wahai ibuku, karena aku tidak akan meninggalkan agamaku ini untuk siapa pun juga. Maka dia (ibu Sa'ad) mogok makan selama sehari semalam sampai dia kelihatan sudah payah. Kemudian dia tidak makan sehari semalam lagi, maka kelihatan semakin payah. Melihat kondisi ibunya tersebut Sa’ad tetap teguh dalam pendiriannya tersebut dan berkata kepada ibunya 'Hendaklah kamu tahu wahai ibuku, seandainya kamu memiliki seratus nyawa, dan nyawa itu melayang satu demi satu, maka tidak akan aku tinggalkan agama ini karena apa pun juga, maka kalau mau makan, makanlah, kalau tidak, maka jangan makan. ‘. Mendengar tegasnya jawaban Sa’ad ibunyapun akhirnya makan. Kisah kehidupan para sahabat Rasulullah Saw ini dapat dijadikan contoh bahwa berbeda keyakinan dengan orang tua tidak menjadikan kita lantas memusuhinya. Bahkan para Nabi juga banyak yang berbeda keyakinan dengan kedua orang tuanya namun mereka tetap berbuat baik dan mendoakan keduanya ke jalan Hidayah Allah.

Ibu dalam bahasa Alquran disebut dengan “ umm”. Dalam surat Luqman (31) ayat 14 dan surat Al-Ahqâf ayat 15 kata ummuhu yang berarti ‘ibunya’ menggunakan kata umm. Sinonim untuk ibu juga disebut dalam Alquran dengan istilah al-wâlidah (dalam surat an-Nisâ ayat 233) yang menurut al- Biqa’I mengandung arti seorang wanita yang melahirkan. Menurutnya perbedaan antara wâlidah dan umm itu terletak pada konteks fungsi dan tanggung jawabnya. Kata wâlidah dimaksudkan wanita yang melahirkan dan bertanggung jawab untuk menyusukannya. Sedangkan umm maknanya dalam hal mendidiknya menjadi seorang imam dalam segolongan umat.

Quraish Shihab mengatakan bahwa dari kata umm dibentuklah kata imâm dan ummat/ummah. Meskipun dari kata yang sama itu dibentuk kata imam (pemimpin) dan ummat/ ummah namun kesemuanya bermuara pada makna “ yang dituju “ atau “yang diteladani”, dalam arti pandanan harus tertuju pada umat, pemimpin dan ibu untuk diteladani. Umm atau ibu melalui perhatiannya kepada anak-anak , keteladanannya (uswatun hasanah) , serta perhatian anak kepadanya dapat menciptakan pemimpin-pemimpin dan bahkan membina umat. Sebaliknya, jika yang melahirkan seorang anak tidak berfungsi sebagai seorang umm, maka umat akan hancur dan pemimpin (imam) yang wajar untuk diteladani pun tidak akan lahir.

Ketika Alquran menempatkan kewajiban berbuat baik kepada orang tua khususnya kepada ibu pada urutan kedua setelah kewajiban taat kepada Allah, bukan hanya disebabkan ibu memikul beban yang berat dalam mengandung, melahirkan dan menyusui anak. Tetapi juga karena ibu dibebani tugas menciptakan pemimpin-pemimpin umat. Fungsi dan peranan inilah yang menjadikannya sebagai umm atau ibu. Demi suksesnya fungsi tersebut, Allah menganugerahkan kepada kaum ibu struktur biologis dan ciri psikologis yang berbeda dengan kaum bapak. Peranan ibu sebagai pendidik generasi bukanlah sesuatu yang mudah. Peranan itu tidak dapat diremehkan atau dikesampingkan. Namun demikian, ini bukan berarti bahwa ibu harus terus-menerus berada di rumah dan tidak mengikuti perkembangan . juga pada saat yang sama, ia tidak berarti bahwa harus menelusuri jalan yang di tempuh oleh kaum bapak.

Ibnu Hazm seorang ulama tafsir dari Andalusia (Spanyol sekarang) yang hidup sekitar tahun 384-456 H berpendapat bahwa baik dan terpuji apabila seorang ibu atau isteri melayani suaminya, membersihkan dan mengatur rumah tempat tinggalnya, tetapi bukan merupakan kewajibannya. Makanan dan pakaian yang telah siap terjahit untuknya justru menjadi kewajiban bapak menyediakannya. Sebenarnya beliau ingin menekankan pentingnya kewajiban ibu dalam mendidik anak-anaknya. Oleh karena itu, sebagai anak juga harus mengingat jasa-jasa ibu: seteguk ASI yang pernah kita minum, setetes keringat yang pernah dicurahkannya, seuntai kalimat bimbingan yang pernah disampaikannya semuanya tidak akan pernah mungkin diimbangi ataupun terbalas. Kita hanya dapat bermohon dan bermunajat “ Rabbî ighfir waliwâlidayya wa irhamhumâ kamâ rabbâyānì shagīrā.

“Selamat hari Ibu .. kasih ibu sepanjang masa “

Wallâhu ‘alambisshawwâb

Kamis, 05 Agustus 2010

BERBEKAL TAQWA

TAQWA TUJUAN DARI RAMADHAN

Pada tujuannya puasa Ramadhan yang dilaksanakan menjanjikan sebuah harapan. Harapan itu tergambar dalam surah al-Baqarah [2]: 183, di mana didalamnya dicantumkan kalimat “la’allakum tattaquun“. Menurut bahasa Arab kata “la ‘alla” bermakna “tawaqqa ‘uu” atau “rajaa“” yakni pengharapan. Oleh sebab itu. kalimat “la’allakum tattaquuna” diterjemahkan “agar supaya kamu bertakwa” atau “semoga kamu bertakwa“. Maksudnya, berpuasa menjanjikan harapan agar pelakunya lebih bertakwa kepada Allah SWT. Dalam setiap harapan mestilah ada semacam proses atau fase-fase yang harus dilalui untuk tercapainya harapan itu. Proses ini bisa berjalan secara alamiah, sederhana atau bahkan membutuhkan waktu yang lama. Misalnya jika kita menginginkan sebatang besi menjadi sebuah pedang atau sebilah pisau, maka tentu kita harus memprosesnya terlebih dahulu dengan membakarnya, memukulnya, kemudian disirami air. Semakin baik kita memprosesnya dan telaten membentuknya, maka akan semakin baik pula hasilnya. Demikian pula dengan ibadah puasa.
Orang berpuasa pada hakikatnya ia tengah memproses dirinya agar supaya sumber daya manusianya semakin meningkat, bermutu dan berkualitas. Puasa adalah latihan. Latihan lapar agar tahan menghadapi musibah kelaparan atau paling tidak dapat merasakan dan mengerti penderitaan orang-orang yang kelaparan. Latihan sabar agar tabah menghadapi ujian dan cobaan. Latihan menahan dan mengendalikan hawa nafsu agar tidak terjerumus ke jalan yang sesat. Sehingga selesai berpuasa diharapkan dapat beribadah dan bersikap lebih baik serta bekerja lebih giat sebagaimana layaknya orang bertakwa. Takwa secara bahasa artinya adalah al-shiyanah yaitu memelihara, al-hadzru yaitu hati-hati dan al-wiqayah waspada dan menjaga. Sedangkan secara istilah takwa berarti menjaga diri dari murka dan azab Allah dengan tunduk kepada-Nya, melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam kitab Fathul Qadir karya al-Syaukani dikisahkan, Khalifah Umar bin Khattab pernah ditanya tentang takwa, beliau menjawab, “Apakah engkau pernah melalui jalan yang banyak bertaburan duri?”. “Ya pernah” jawab si penanya. “Maka apa yang kamu lakukan?”, Umar kembali bertanya. Penanya menjawab, “Saya akan berjalan dengan berhati-hati”. Lantas Umar berkata, “Seperti itulah takwa”.
Jadi, esensi takwa adalah menghadirkan keagungan Allah SWT’di dalam hati dan merasakan kebesaran serta keMahaan-Nya, kemudian merasa takut terhadap keagungan-Nya dalam artian ingin senantiasa mendekat kepada-Nya dan takut terhadap murka-Nya dalam kaitian berusaha sedaya upaya menjauhi segala larangan-Nya. Sayyid Sabiq dalam kitabnya “Islamuna” menerangkan bahwa takwa bermuatan keyakinan (akidah), pengabdian (ibadah), akhlak atau adab dan berbagai kebajikan (al-birr). Lebih lanjut dia mengatakan bahwa orang yang berhak menyandang sebutan “muttaqin” hanyalah orang yang mampu menahan dan mengendalikan hawa nafsu dan menjauhi semua hal-hal yang syubhat serta berani berjihad di jalan Allah. Dengan demikian, takwa bukan sekedar menjauhi dosa-dosa besar saja, tapi mencakup semua penyelewengan dan penyimpangan meski itu hanya kecil. “Jangan lihat kepada kecilnya dosa yang kamu lakukan, tetapi lihat kepada siapa kamu berbuat dosa“. Jika demikian, muttaqin ialah orang yang paling berprestasi dalam melaksanakan Islam.
Bekal Terbaik
Dalam QS. Al-Baqarah [2]: 197 Allah SWT berfirman yang artinya,”Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal“. Arti ayat di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa takwa adalah sebaik-baik bekal. Karena hanya dengan bekal takwa seseorang bisa sampai ke akhir perjalanan hidupnya dalam keadaan bahagia, ketika bekalnya dibuka dan dipertanyakan di akhir perjalanan, ternyata bekal takwalah yang akan menyelamatkannya. Diantara ciri orang bertakwa menurut beberapa ayat al-Quran :
Iman yang kuat sehingga menumbuhkan amal kebajikan yang banyak, amanah dan tepat janji serta memiliki kesabaran. Allah SWT berfirman yang artinya, “…akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabidan memberikan hartayang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yangmemerlukanpertolongan) dan orang-orangyang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah omng-orangyang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa“. (QS. Al-Baqarah[2]:177)
Adil dalam menyikapi dan memutuskan sesuatu: FirmanAllah SWT yangartinya, “…Berlaku adilah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa..“. (QS. Al-Maidah[5]:8).
Sifat pemaaf sebagaimana dinyatakan Allah SWT, “…dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa…“. (QS. Al-Baqarah[2]:237).
Wallahu’alam bisshawwab

kesehatan

Petunjuk Rasululullah Saw Tentang Pola Makan Sehat
كلوا واشربوا هنيئا مريئا
Rasulullah Saw : “ Barangsiapa menghidupkan sunnahku, sesungguhnya dia mencintaiku, barangsiapa mencintai sesungguhnya dia bersamaku di dalam surga
(HR. Abu Dawud)

Kalau ada manusia di dunia ini yang mengalami sakit hanya satu kali dalam sejarah hidupnya, dialah Nabi Muhammad Saw. Banyak tokoh dunia yang kagum terhadap tingkat kesehatan beliau. Napoleon Bonaparte yang terkenal dengan julukan singa daratan Eropa kagum terhadap kemampuan Rasulullah Saw dalam menjaga kesehatannya. Rasulullah Saw benar-benar memperhatikan kesehatan jasmani dan rohaninya dimulai dari hal-hal yang kecil seperti cara makan dan minum, cara mengunyah makanan, bersiwak, memotong kuku sampai pada cara menyisir rambut. Rasulullah Saw memandang bahwa setiap kegiatan yang dilakukannya adalah ibadah. Disadari ataupun tidak, pola dan cara makan sangat mempengaruhi tingkat kesehatan seseorang. Apabila kita menerapkan petunjuk Rasulullah Saw maka kita akan sehat dan mendapatkan pahala karena melaksanakan sunnah beliau. Petunjuk Rasulullah Saw tentang makan sehat adalah:
1. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan
Sejak kecil, kita sudah diajarkan oleh orang tua agar selalu mencuci tangan sebelum makan. Waktu kecil, kita tidak tahu bahwa kebiasaan mencuci tangan sebelum makan adalah suatu perbuatan yang telah dicontohkan dan dianjurkan Rasulullah Saw, sebagaimana sabdanya : “ Barangsiapa menginginkan agar Allah memperbanyak kebaikan rumahnya, maka hendaklah ia berwudhu ketika santapannya datang dan diangkat.” (HR. Ibnu Majah). Dengan berwudhu, maka kotoran yang menempel pada kulit seperti keringat, debu, kuman, zat kimia berbahaya dan kotoran lainnya akan bersih sekaligus memberikan kesegaran pada tubuh, sehingga makanan yang kita konsumsi akan terasa lebih nikmat. Begitu juga setelah selesai makan, kita dianjurkan untuk berwudhu. Ilmu kedokteran modren mengungkapkan bahwa penyakit luka bernanah yang disertai bengkak di sekitar sela-sela jari disebabkan oleh kotoran yang masih melekat pada sela-sela jari tersebut. Begitu perhatiannya Rasulullah Saw terhadap kebersihan tangan, beliau menganjurkan agar saat bangun tidur pun harus mencuci tangan terlebih dahulu untuk menghindari pencemaran terhadap makanan dan minuman. Sabda beliau : “ Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah ia mencelupkan tangannya ke dalam bejana sampai ia membasuhnya tiga kali. Karena sesungguhnya ia tidak tahu di mana tangannya bermalam (HR. Muslim).
2. Makan sesuai dengan kecukupan gizi
Pola makan yang memenuhi kecukupan gizi lebih mencerminkan jati diri orang mukmin, sedangkan pola makan yang melebihi kecukupan gizi mencerminkan pola makan orang kafir. Rasulullah Saw bersabda : “ Orang mukmin itu makan di satu usus, sedangkan orang kafir makan di tujuh usus.” (HR. Muttafaqun’Alaih). Pola makan yang berlebihan tersebut selain menyerupai pola makan orang kafir, juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Seperti mengakibatkan obesitas (kegemukan), peningkatan kadar gula darah (pencetus diabetes melitus), peningkatan kadar kolesterol darah (pencetus penyakit darah tinggi, jantung, stroke), gangguan pencernaan dan lain-lain. Jika seluruh umat Islam di Indonesia menerapkan pola makan yang dianjurkan Allah dan RasulNya mungkin kita tidak akan temukan adanya kasus busung lapar (gizi buruk) dan pemerintah juga tidak perlu mengimpor beras sampai ratusan ton, sehingga dapat menghemat pengeluaran negara. Karena mereka sadar, daripada menumpuk makanan lebih baik diberikan pada saudaranya, tetangganya atau orang yang masih kekurangan makanan. Selain itu dapat memupuk rasa empati dan solidaritas terhadap sesama.
Dalam mengunyah makanan, Rasulullah Saw betul-betul mengunyah sampai halus. Dalam ilmu gizi, kita dianjurkan untuk mengunyah makanan 30 sampai 40 kali kunyahan. Keuntungan yang akan diperoleh dengan mengunyah makanan sampai halus akan meringankan proses pencernaan, sehingga makanan tersebut akan lebih mudah diserap oleh dinding usus dan akan lebih cepat menghasilkan energi.
3. Membiasakan makan dan minum sambil duduk
Mungkin kita pernah menghadiri suatu acara syukuran ulang tahun atau pernikahan, saat masuk gedung tampak aneka macam hidangan makanan dan minuman yang lezat. Namun sayang, ketika MC (master of ceremony) mempersilahkan kita untuk menikmati hidangan tersebut, namun terkadang tidak disediakan kursi yang disediakan untuk duduk. Dari Anas ra, “ Bahwa Rasulullah saw melarang sesorang minum sambil berdiri.” (HR. Muslim)
4. Larangan makan sambil bersandar
Ketika makan, Rasulullah saw tidak pernah menyandarkan punggungnya pada kursi, sehingga posisi tubuh cenderung condong ke belakang ataupun dalam posisi menyungkur sehingga posisi badan condong ke depan. Pada saat makan posisi tubuh beliau benar-benar tegak lurus. Rasulullah Saw bersabda : “ Aku tidak makan sambil bersandar” (HR. Bukhari dan Muslim). Makan dengan posisi badan tegak lurus adalah cara makan yang paling alamiah. Dengan posisi tersebut, maka makanan akan lebih mudah masuk ke salauran pencernaan, sehingga memperkecil resiko terjadinya sembelit.
5. Makan dengan menggunakan tangan kanan
Rasulullah Saw bersabda kepada Umar bin Salamah, “ Wahai anakku, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang di depanmu.” (HR. Muttafaqun ‘alaih). Mengapa Rasulullah saw menganjurkan kita umatnya agar makan dengan menggunakan tangan kanan? Tujuannya untuk menghindari kemiripan dengan cara makan setan, karena setan biasa makan dengan menggunakan tangan kiri.
6. Rasulullah Saw makan dengan menggunakan tiga jari.
Dari Ka’ab bin Malik, “ bahwasannya Rasulullah Saw makan dengan tiga jari dan beliau menjilatinya sebelumnya mengelapnya “ (HR. Muslim). Ada hikmah yang tersembunyi di balik cara makan dengan menggunakan tiga jari. Dengan menggunakan tiga jari, maka makanan yang terambil dan masuk ke mulut pun akan lebih sedikit. Dengan demikian akan mempermudah mulut dan gigi mengunyah makan. Makanan yang dikunyah pun hasilnya akan lebih halus dan meringankan fungsi alat pencernaan, sekaligus mempercepat proses penyerapan zat gizi dalam usus.
7. Mengkonsumsi buah sebelum makan-makanan padat
Dari Salman bun Amir, Rasulullah Saw bersabda, “ Jika seseorang berbuka, hendaklah dia berbuka dengan kurma. Sekiranya tidak ada kurma, maka hendaklah ia berbuka dengan air. Sesungguhnya air itu bersih lagi suci.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi). Mengapa Rasulullah Saw menganjurkan kepada umatnya agar berbuka dengan buah kurma dan tidak menganjurkan berbuka dengan makanan padat, seperti roti? Padahal roti adalah salah satu makanan kesukaan beliau. Jika ditinjau dari segi ilmu gizi, hadis di atas menjelaskan bahwa buah-buahan sangat baik dikonsumsi ketika perut dalam keadaan kosong atau sebelum makan. Banyak orang yang tidak percaya bahkan takut kalau makan buah pada pagi hari, apalagi dalam keadaan perut kosong. Memang untuk penderita maag, sebaiknya buah dikonsumsi satu jam setelah makan. Buah mengandung antioksidan yang diperlukan tubuh untuk membersihkan racun yang masuk ke dalam tubuh. Buah adalah makanan yang mampu menghasilkan energi lebih cepat, karena jenis gula sederhananya bisa langsung diserap tubuh. Serat yang ada pada buah akan mempercepat proses pembuangan sisa-sisa makanan dari usus besar. Berdasarkan survey dari WHO penduduk Indonesia hampir 80% kurang makan sayur dan buah.
8. Rasulullah Saw melarang mencela dan memaki makanan.
Rasulullah Saw tidak pernah mencela makanan, “ Rasulullah Saw sama sekali tidak pernah mencela makanan. Apabila suka ia makanan dan jika tidak suka maka ia tinggalkan “ (HR. Muttafaqun ‘alaih). Prof. Dr. Masaru Emoto pakar kedokteran alternatif dari Universitas Yokohama, Jepang telah melakukan percobaan tentang pengaruh ucapan, seperti pujian atau makian terhadap penampakan nasi. Pada percobaan tersebut, dia menyiapkan dua buah stoples yang sudah steril. Pada kedua stoples tersebut dimasukkan nasi lalu ditutup. Pada stoples pertama diucapkan kata pujian, seperti kata terima kasih, sedangkan pada stoples kedua diucapkan kata-kata tersebut pada kedua nasi yang ada di dalam stoples tersebut. Maka nasi yang mendapat pujian terima kasih warnanya berubah menjadi kuning dan terjadi fermentasi dengan aroma yang khas. Sedangkan nasi yang mendapat kata makian maka warnanya berubah menjadi hitam dan basi.
Hikmah yang dapat diambil dari percobaan tersebut adalah kita harus mensyukuri setiap makanan yang telah Allah berikan kepada kita sebagai rezekinya. Makanan akan menjadi berkah dan memberikan kesehatan. Namun apabila makanan tersebut dicela maka makanan tersebut tidak akan menjadi berkah bagi tubuh kita. Terkadang apabila kita disuguhkan makanan kita selalu mengucapkan kata-kata yang mengandung keluhan seperti saya tidak boleh makan ini karena asam urat, kolesterol dan semua penyakit kita sebutkan di hadapan makanan tersebut. Padahal kalau kita makanan dengan niat untuk menjadi obat makanan yang kita pantangkan tersebut tidak membahayakan asalkan makanan tersebut dimakan sesuai takarannya dan tidak berlebih-lebihan. Bukankah sebelum makanan kita selalu berdoa agar diberi keberkahan pada makanan kita. Itu berarti makanan apapun yang dipantangkan apabila dimakan dan diawali doa akan memberi kebaikan dan mungkin saja menjadi obat dari seluruh penyakit yang kita rasakan.