Minggu, 14 Maret 2010

Muhammad Saw

Nabi Muhammad Saw rahmatan lil’alamin
Fatma Yulia Rasyid

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِين
الــلّهُــمَّ صَــلِّ وَسَلِّــمْ عـَلىَ سَــيِّدِنَا مُحَمَّد
“ Sesungguhnya Kami mengutusmu ya Muhammad sebagai rahmat untuk semesta alam” (QS. Al-anbiya’: 107)
Setiap tanggal 12 Rabi’ul Awal kita diingatkan kembali dengan hari lahirnya Rasulullah Muhammad Saw sosok yang memiliki kepribadian yang sangat agung. Kelahirannya membawa rahmat bagi semesta alam. Akhlak beliau merupakan akhlak yang sangat agung sebagaimana dijelaskan Allah dalam surat al-Qolam ayat 5 “ Sesungguhnya engkau Muhammad benar-benar memilimi akhlak yang paling mulia “. Bahkan beliau sendiri menyatakan bahwa kehadirannya di bumi semesta ini adalah sebagai duta untuk menyempurnakan akhlak. (“ Sesungguhnya aku diutus ke bumi ini untuk menyempurnakan akhlak). Sosok manusia yang benar-benar super excellent (sangat unggul) dari manusia lainnya di bumi ini. Mendapat gelar yang paling mulia yaitu habibullah (kekasih Allah).
Kepribadian Rasulullah Saw yang agung ini tidak hanya diakui oleh umatnya saja namun umat dari agama lain pun turut salut dan hormat atas kepribadian beliau. Selalu unggul dimana saja berada. Bahkan dengan ketinggian akhlaknya ini membuat orang-orang yang membencinya menjadi mencintainya bahkan melebihi cinta mereka atas diri pribadi mereka sendiri. Sejarah banyak mencatat perjalanan hidup beliau yang penuh dengan nilai-nilai keagungan dan kemuliaan. Dari aspek kehidupan yang sangat sederhana namun memiliki rasa kecintaan yang mendalam kepada orang-orang fakir dan miskin apalagi anak-anak yatim. Rasa sayang beliau terhadap kaum-kaum marginal ini membuat kita seharusnya menitikkan air mata keharuan karena beliau orang yang paling mulia memiliki rasa empati yang tinggi kepada kaum marginal ini sementara kita seharusnya bertanya dimana posisi kita?
Dalam bidang pemerintahan keunggulan Rasulullah Saw tidak ada yang meragukannya, kepiawaian dalam mengatur strategi perang dan menentramkan pihak-pihak yang bertikai serta membuat agama lain merasa tenang dan tentram hidup berdampingan dengan kaum muslimin seperti layaknya saudara mereka sendiri. Meyakinkan kepada pemeluk agama diluar Islam bahwa sesungguhnya arti Islam itu adalah selamat yang berarti selalu memberikan keselamatan dan menjaga keselamatan itu untuk selalu ada bagi siapa saja. Pengakuan dari negara lain yang diluar dari pemerintahan Rasulullah Saw menambah sederetan prestasi beliau dalam memegang tampuk pemerintahan. Nabi Muhammad Saw adalah seorang pemimpin yang begitu mulia akhlaknya. Empat karakter kepemimpinan Rasululllah Saw yang harus diteladani adalah Shiddiq, amanah, tabligh dan Fathonah.
Sebagai pemimpin di keluarga, suami, ayah beliau juga merupakan orang yang sangat terpuji. Berlaku adil kepada para isrinya dan melimpahkan kasih sayang kepada isteri-isterinya dan anak-anaknya. Kasih sayang orang tua ini tidak hanya diberikan kepada anak-anaknya saja namun juga kepada anak-anak yang lain terutama anak-anak yatim. Bahkan kepada seluruh umatnya di alam ini yang ketika beliau akan bertemu dengan Allah masih sempat mengingat umatnya.
Sebagai utusan Allah pembawa risalah untuk umat manusia di seluruh alam semesta beliau berhasil membuktikannya dengan tegaknya Islam sebagai agama yang paling banyak dianut secara mayoritas oleh penduduk bumi ini. Setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik selalu sahut-menyahut dan menggema tiada henti-hentinya kalimat-kalimat thayyibah di seluruh penjuru dunia yang menandakan bahwa Islam merupakan agama yang menyebar di seantero dunia dari megapolitan sampai pelosok-pelosok negeri. Amanah risalah untuk menegakkan Islam sebagai agama satu-satunya yang akan diterima disisi Allah Swt menjadi kenyataan.
Sebagai seorang guru, Rasulullah Saw memiliki ilmu yang sangat luas sebagai tempat bertanya dan memuaskan rasa haus para sahabat akan ilmu pengetahuan selain dari Alquran sebagai sumber ilmu pertama. Tidak ada permasalahan pada waktu beliau hidup yang tidak ada jawabannya. Padahal dari riwayat kependidikannya beliau hanyalah seorang yang ummi namun pengetahuan dan ilmu beliau melampaui para profesor-profesor yang memiliki sederatan gelar akademik yang panjang dan waktu pendidikan yang ditempuh sangat lama pada masa kini. Bahkan apa yang beliau jelaskan pada masa empat belas abad yang lalu menjadi sumber inspirasi dan ide-ide intelektual yang sangat canggih pada masa sekarang ini. Tidak ada yang expired date (kadaluarsa) apa yang pernah beliau sampaikan baik melalui untaian kalimat-kalimat beliau yang dikemas dalam bentuk hadis-hadis ataupun yang menjadi ketetapan dan perbuatan beliau. Semua ajaran yang dikenal dengan ilmu yang beliau sampaikan membawa rahmat bagi siapa yang mau mengikutinya. Metode pengajaran beliau juga merupakan metode yang banyak dicontoh oleh para pakar pendidikan pada masa kini seperti metode diskusi dan ceramah. ”Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat” merupakan sebuah perintah yang menjadi sumber inspirasi bagi pakar pendidikan bahwa sesungguhnya hadis ini menjelaskan bahwa apabila otak kita disibukkan dengan aktivitas berpikir maka kita akan terhindar dari penyakit alzheimer (pikun). Bahkan menurut Dr Diamond mantan kepala Lawrence Hall of Science di Universitas California Berkley Amerika Serikat bahwa sesungguhnya yang membuat seseorang itu lebih tua dari usianya adalah karena berhenti berpikir. Diamond selanjutnya menelusuri kaitan hadis ini dengan otak para ilmuwan yang hidup dalam usia lanjut namun otaknya tetap memproduksi berbagai penemuan yang sangat briliant.
Sebagai hamba Allah, Nabi Muhammad Saw merupakan ahli ibadah yang sangat taat. Meskipun memperoleh jaminan akan masa depannya di akhirat beliau malah menjadikan jaminan tersebut sarana bagi dirinya untuk selalu bersyukur dan tidak melupakan yang Maha Pemberi Jaminan yaitu Allah Swt. Hari-hari beliau tidak pernah luput dari mengingat Allah. Ibadah beliau merupakan ibadah yang sangat sempurna. Seluruh perbuatan Rasulullah ini merupakan bahan pelajaran bagi umatnya bahwa beliau yang sudah dijamin masuk surga tetap menjalankan ibdah dengan tekun lalu bagaimana dengan kita yang sama sekali tidak memiliki jaminan apa-apa?
Sebagai seorang dokter dan pakar kesehatan, Rasulullah Saw merupakan dokter yang paling handal. Seluruh aspek amaliyah yang beliau lakukan mengandung nilai-nilai kesehatan. Mulai dari yang kecil sampai yang besar seluruhnya mengandung unsur kesehatan. ketika makan atau minum beliau menganjurkan agar makan atau minumlah dengan tangan kanan dan mengucapkan Bismillah karena makanan atau minuman yang didoakan akan memberikan kebaikan bagi orang tersebut dan mengukur takaran makanan karena sesungguhnya perut manusia ini merupakan sumber penyakit yang akan bereaksi apabila masuk makanan yang terlalu banyak. Bahkan perintah puasa merupakan sarana kesehatan yang sangat ampuh untuk menyembuhkan berbagai penyakit dalam maupun penyakit jasmani. Sabda Rasulullah Saw : ” Puasalah kamu niscaya kamu akan sehat”. Dalam gerakan sholat yang dilakukan dengan benar sesuai dengan yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw peredaran darah akan lancar dan pergerakan tulang-tulang manusia akan semakin kuat bahkan posisi kepala ketika sujud dapat menyuplai darah dan oksigen ke otak yang ketika diteliti oleh pakar immunilogi dapat mencegah penyakit yang paling ditakuti yaitu stroke bahkan sujud yang dilakukan dengan thuma’ninah dapat membuat cerdas dan kuat hapalan.
Masih banyak lagi aspek-aspek yang belum digali dari kepribadian Rasulullah Saw dan menjadi tugas bagi umat Islam untuk melakukannya. Sosok Rasulullah Saw yang dalam hidupnya langsung menjadi contoh buat umatnya dalam setiap perkataan dan perbuatan seharusnya benar-benar menjadi sosok yang mampu membangun pribadi-pribadi manusia yang unggul masa kini. Mengedepankan akhlak yang mulia dan tetap memiliki integritas yang tinggi kepada kebenaran.
Peringatan lahirnya Rasulullah Saw ini seharusnya tidak hanya dilakukan dalam bentuk seremonial belaka yang terkadang menghabiskan dana yang begitu banyak namun tidak memperoleh hasil yang signifikan untuk perubahan pada diri pribadi maupun masyarakat. Barangkali juga perlu kita memikirkan adanya metode dakwah yang tepat untuk memperingati lahirnya Rasulullah Saw ini walaupun dengan seremonial namun hasilnya bermanfaat.
Selain itu semangat yang harus dimiliki dalam peringatan maulidurrasul (hari lahirnya Rasulullah ini) adalah semangat pengkajian dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman dan mengeksplor (menggali) hadis-hadis Nabi sebagai kontribusi pengembangan ilmu-ilmu sosial, pengetahuan alam dan teknologi sehingga bangsa ini tidak menjadi bangsa yang gemar buat pesta belaka namun mampu melesatkan pengetahuan yang canggih sehingga menjadi bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran surat al-Mujadalah ayat 11 : ” Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang memiliki kapasitas keilmuan”. Peringatan maulidurrasul juga menjadi sarana untuk menelusuri kembali jejak-jejak napaktilas Rasulullah Saw dalam menyebarkan perdamaian dunia. Untuk itu marilah kita memperbanyak membacakan shalawat sebagai kado ulang tahun bagi baginda Rasulullullah Saw yang insyaAllah menjadi syafaat di hari kemudian. ” Allahummashalli wa sallim ’ala sayyidina Muhammadin wa ’ala alihi wa ashabihi wa man tabi’a hudahu ajma’in”

Wallahu ’alam wamuwafiq ila aqwamitthariq

sosok Umar

Merindukan sosok Umar ibn Khattab
Fatma Yulia

حَكَمْتَ فَعَدْلْتَ فَأَمِنْتَ فَنِمْتَ يَا عُمَرُ
“ Engkau memutuskan hukum maka engkau berlaku adil, lalu keamanan negerilah yang membuat engkau tidur wahai Umar”

Petikan kalimat di atas merupakan ungkapan seorang utusan raja Kisra dari Persia ketika ia ingin bertemu dengan Umar ibn Khattab khalifah yang kedua dari khulafaurrasyidin. Kunjungan utusan raja kisra ini ingin melihat bagaimana kepribadian Umar yang digambarkan oleh masyarakat bahwa ia merupakan pribadi yang tawadhu’ namun tegas dan adil. Sepanjang perjalanannya ia mendiskripsikan dalam bayangannya bahwa Umar ibn Khattab Amirul Mukminin ini tinggal di sebuah istana yang sangat megah seperti istana yang dimiliki oleh raja mereka Kisra dan memakai pakaian yang penuh dengan pernak-pernik dari emas dan seluruh kemegahan serta atribut yang selalu menjadi kebanggaan seorang raja. Namun bayangannya tersebut sungguh berlawanan seratus persen, manakala dia melihat sosok Umar khalifah kaum muslimin ini tinggal di rumah seperti rumah masyarakat pada umumnya yang tidak ada tanda-tanda kemewahannya, bahkan tempat tidurnya adalah tanah di bawah pohon dan pakaiannya adalah pakaian layaknya manusia biasa bahkan lebih murah dan lebih sederhana lagi. Tidak dilengkapi dengan emas maupun perhiasan layaknya seorang raja, dan beliau juga tidak melihat para pengawal yang menjaga dirinya sebagai bodyguard (paspampres).
Kenyataan inilah yang membuat utusan tersebut mengucapkan kalimat di atas. Cuplikan kisah ini hanyalah sebahagian kecil saja dari kisah Umar ibn Khattab ra yang sesungguhnya apabila kita banyak membaca dalam buku-buku sejarah Islam tentang kepribadian Umar ibn Khattab ini kita akan merasa kagum bahkan terkadang mungkin kita merasa kecil dan tidak berharga karena antara amanah yang dibebankan sebagai pelayan umat tidak sebanding dengan besarnya tuntutan kemewahan yang diperebutkan.
Umar ibn Khattab ra, selain sahabat Nabi Muhammad saw beliau juga adalah mertua bagi Rasulullah Saw karena menikah dengan anak perempuan Umar ibn Khattab yaitu Hafshah. Umar ibn Khatab memperoleh hidayah masuk Islam di tangan saudara perempuannya yang bernama Fatimah ketika ia mengetahui bahwa adiknya ini telah lebih dahulu beriman kepada Rasulullah Muhammad Saw. Namun hidayah yang Allah berikan kepadanya ini menjadi salah satu sumber kekuatan bagi kaum muslimin. Setelah masuk Islam Umar termasuk sahabat yang sangat istiqomah dalam menjalankan Islam. Abu Dzar al-Ghifari mendengar Rasulullah Saw pernah bersabda “ Sesungguhnya Allah telah meletakkan kebenaran pada lidah Umar dan dia berbicara dengan kebenaran tersebut.” (HR. Ibn Majah dan dishahihkan oleh Albaniyy).
Imam Mujahid mengatakan bahwa “Adalah ‘Umar berpendapat tentang sesuatu, kemudian al-Qur’an turun sesuai dengan pendapatnya tersebut.” Diantara pendapatnya tersebut dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa suatu kali Umar ra berkata, “Aku sesuai dengan Rabb-ku dalam tiga hal apabila aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana jika kita jadikan maqam Ibrahim (tempat berdiri Nabi Ibrahim waktu membangun Ka’bah) sebagai tempat shalat?’, maka turunlah ayat, “Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat” [QS. al-Baqarah (2): 125], kemudian perkataannya yang kedua kepada Nabi Muhammad Saw adalah, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ikut masuk kepada istri-istrimu orang-orang yang baik dan yang fasik, maka perintahkanlah istri-istrimu untuk berhijab”, maka turunlah ayat hijab, “ wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu dan anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu, dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang. [QS. al-Ahzāb (33): 59]. Pernah istri-istri Nabi bersepakat dalam ghīrah (kecemburuan) maka aku berkata, “Jika Nabi menceraikan kalian, boleh jadi Rabb-nya akan memberi ganti untuknya dengan istri-istri yang lebih baik dari kalian”, maka kemudian turunlah ayat [QS. at-Tahrīm (66): 5] (HR. Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim ada tambahan, “Dan dalam masalah tawanan perang Badar).
Ketika beliau menjabat sebagai khalifah banyak prestasi yang beliau torehkan buat sejarah Islam diantaranya yang termasyhur sampai sekarang adalah penanggalan kalender hijriah yang dihitung sejak Rasulullah Saw hijrah ke Madinah.
Dalam bidang pemerintahan baik kebijakan dalam negeri maupun luar negeri juga banyak dilakukannya antara lain pembentukan propinsi yang dikepalai oleh seorang wali atau kita kenal sekarang dengan istilah gubernur, pembentukan berbagai departemen untuk membantu kerja gubernur, penertiban keuangan negara dari praktek-praktek korupsi dengan membentuk badan pengawas keuangan dan perpajakan (muhasabah diwanulmaliyywalkharaj). Kebijakan luar negeri yang dilakukannya antara lain Memiliki rekor terbesar dalam sejarah penaklukkan dengan damai(futuhat) ke berbagai negara di luar Arab pada masa khulafaurrasyidin diantaranya Palestina bahkan sampai ke India pada waktu itu.
Sosok Umar ibn Khattab dari personalitinya dikenal sebagai orang yang sangat adil dan gelar yang disandanganya juga adalah “ al-faruq” yang artinya pembeda bahkan gelar yang sangat populer melekat pada dirinya adalah al’adil. Sehingga kaum muslimin pada saat itu ada yang menyebutnya sebagai khalifah ‘umar al’adil. Keadilannya tersebut bersifat mutlak artinya bukan karena ingin menzhalimi atau bahkan karena rasa cinta kepada sesuatu. Sebuah peristiwa tentang sifat keadilannya ini adalah ketika seorang gubernurnya di Mesir bernama ‘Iyadh bin Ghunam mengkhianatinya dan berlaku tidak amanah maka ia mengirimkan sebuah tongkat dan jubah dari wol serta seekor kambing sebagai sindiran bagi gubernur tersebut untuk kembali menjadi pengembala kambing sebagaimana profesi yang dijalaninya sebelum menjadi khalifah. Atau dalam hal penggunaaan harta negara (baitumal) saja dia meminta izin kepada kaum muslimin untuk menggunakannya, peristiwa ini terjadi ketika beliau sakit dan dokter menyarakannya agar meminum madu sedangkan madu itu hanya ada di baytulmal, maka ia mengatakan : ” jikalau kaum muslimin mengizinkanny akan aku ambil namun jika tidak maka haram bagiku ”. Beliau selalu menegur para gubernur yang dengan semena-mena menggusur rumah penduduk meskipun bukan seorang muslim. Sehingga apabila dia mendengar ada laporan dari masyarakat tentang penggusuran yang semena-mena ini beliau langsung menegurnya dengan keras.
Kisah lainnya yang menceritakan keadilan Umar adalah seorang Mesir dari suku Qibthi yang mengadakan perlombaan pacuan kuda dengan Muhammad ibn ‘Amru ibn ‘Ash seorang anak dari gubernur Mesir, dimana perlombaan tersebut dimenangkan oleh orang Mesir tersebut. Kemenangan ini membuat Muhammad anak gubernur Mesir marah dan memukulnya sambil mengucapkan bahwa dia berani mengalahkan anak seorang pembesar. Ketika Umar ibn Khattab melakukan kunjungan kerja ke Mesir, orang Mesir ini mengadukan perihal masalah yang diadukannya kepada Umar dan dengan segera Umar memanggil gubernur dan anaknya tersebut. Ketika keduanya berada di hadapan Umar, Umar memberikan tongkat kepada orang Mesir tersebut dan menyuruhnya untuk memukul anak gubernur tersebut. Dan umar memperingatkan gubernur Mesir ‘Amru bin’Ash dengan perkataannya yang masyhur “ Kapan engkau menjadikan seorang manusia itu menjadi budak sedangkan dia dilahirkan dari perut ibunya dalam keadaan merdeka?” mendengar hal ini gubernur Mesir dan anaknya ketakutan.
Sifat tawadhu’ Umar ibn Khattab dilihat dari kebebasannya berbaur dengan berbagai kalangan masyarakat mendengar keluhan dan curahan hati mereka dan mencarikan solusi agar hati masyarakatnya menjadi tenang. Beliau juga bekerja sebagai pedagang padahal dia adalah seorang khalifah. Diantara kisah yang sangat masyhur dari ketawadhu’an Umar ibn Khattab adalah ketika ia melakukan inpeksi mendadak (sidak ;kalau bahasa pejabat kita) ke rumah-rumah kaum muslimin pada malam hari pada waktu itu dia mendengar suara tangisan anak-anak dari keluarga miskin yang belum tidur karena kelaparan, melihat hal ini dia menangis dan merasakan dosa yang amat besar atas kelalaiannya ini. Dengan segera ia mengambil sekarung gandum dan memikul sendiri di atas pundaknya untuk selanjutnya memasakkan gandum tersebut sampai keluarga tersebut kenyang dan dapat tertidur dengan tenang yang ini semua dia lakukan sendiri. Keutamaan ibadah ‘Umar tidak diragukan lagi beliau adalah ahli ibadah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash ra berkata, Rasulullah Saw bersabda:“Wahai Ibnu al-Khaththab (‘Umar), demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah setan menemuimu berjalan di satu jalan melainkan ia mengambil jalan lain yang bukan jalanmu” (HR. Bukhari dan Muslim). ‘Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: “ Sesunggguhnya aku melihat setan, jin dan manusia lari dari Umar” (HR. at-Tirmidzi).
Keteladanan yang ditunjukkan oleh ’Umar ibn Khattab ini semata-mata karena beliau mengikuti pribadi orang yang dicintainya yaitu Rasulullah Muhammad Saw sehingga kita juga harus dapat mengikuti apa yang dilakukan oleh para sahabat-sahabat Rasul apalagi kalau kita mendapat amanah menjadi seorang pemimpin. Sekarang tinggal bagaimana para pemimpin kita dapat bersikap dan berlaku sebagaimana ‘Umar ibn Khattab sehingga terwujud keadilan, keamananan dan kesejahteraan. Tentu keadaan inilah yang sangat kita rindukan. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada ulil amri kita agar mereka seandainya saja mereka seperti ’Umar. Ya seandainya mereka seperti Umar...........

Wahu’alam bisshawwab wamuwafiq ilaa aqwaamithariq.

pathologi society

Menjauhi Enam Penyakit Sosial

Fatma Yulia

” Wahai orang-orang yang beriman janganlah segolongan kamu merendahkan(mengolok-olok) golongan yang lain, boleh jadi golongan yang direndahkan itu lebih baik dari golongan yang merendahkan. Begitu juga dengan para wanitanya maka janganlah satu kaum wanita merendahkan kaum wanita yang lain boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari yang merendahkan. Juga janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah kamu memanggil seseorang dengan gelar yang buruk karena sesungguhnya gelar yang buruk itu adalah seburuk-buruk nama setelah beriman. Barangsiapa yang tidak bertaubat maka mereka termasuk orang-orang yang zhalim. Wahai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan dan janganlah kamu menceritakan aib (ghibah)satu sama lain apakah kamu senang memakan bangkai saudaramu sendiri? Tentu kamu akan jijik dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”(QS: Al-Hujuraat : 11-12).

Petikan dua ayat di atas ditujukan kepada orang-orang yang beriman untuk menjaga kehidupan mereka di masyarakat sebagai seorang saudara. Ayat sebelumnya menerangkan bahwa ”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara maka sesama saudara harus saling mendamaikan”. (QS. al-Hujurat ayat 10). Kemudian Allah menjelaskan bahwa untuk menjamin kedamaian antara seorang mukmin yang satu dengan yang lainnya dan mengambil wadah dalam bentuk masyarakat harus menjauhi enam penyakit yang dapat merongrong perdamaian tersebut. Apabila enam penyakit ini terjadi di masyarakat maka dapat meruntuhkan sendi-sendi ukhuwah islamiyyah, prinsip-prinsip keadilan dan demokrasi.. Enam penyakit yang sering terjadi di masyarakat itu adalah :
1. as-Sukhriyyah ( suka menggolok-olok)
Masyarakat unggul yang hendak ditegakkan Islam dengan petunjuk Alquran ialah masyarakat yang memiliki etika luhur. Pada masyarakat itu setiap individu memiliki kehormatan yang tidak boleh disentuh karena ia merupakan kehormatan kolektif. Mengolok-olok individu manapun berarti menolok-olok pribadi umat. Sebab seluruh jamaah itu satu yang berarti satu kehormatan. Melalui ayat ini Allah memberitahukan etika itu tersebut melalui panggilan sayang ” Hai orang-orang yang beriman”. Allah melarang satu kaum mengolok-olok kaum yang lain, sebab boleh jadi laki-laki yang diolok-olok itu lebih baik atau wanita yang diolok-olok itu lebih baik dari wanita yang mengolok-oloknya dalam pertimbangan Allah. Ungkapan ayat ini secara halus mengisyaratkan bahwa nilai-nilai lahiriah yang dilihat laki-laki dan wanita pada dirinya bukanlah nilai hakiki yang dijadikan pertimbangan oleh manusia. Di sana terdapat sejumlah nilai lain yang tidak mereka ketahui dan hanya diketahui Allah serta dijadikan pertimbangan oleh seorang hamba. Terkadang orang kaya menghina orang miskin, orang kuat menghina orang lemah, orang yang sempurna menghina orang cacat, orang pintar menghina orang bodoh, orang yang bisa menghasilkan keturunan menghina orang yang mandul, dan sebagainya. Hal-hal ini merupakan urusan yang berhubungan dengan nilai duniawi yang tidak dapat dijadikan ukuran. Timbangan Allah dapat naik dan turun bukan oleh timbangan duniawi itu.
al-Lumzu ( mencela)
Al-lumzu mengandung makna mencela aib. Alquran menceritakan bahwa orang-orang yang beriman itu seperti satu tubuh, yang berarti barang siapa mencela orang lain maka sesungguhnya ia mencela dirinya sendiri yang dalam ayat ini disebutkan ” anfusakum” yang mengandung makna diri sendiri. Sama halnya dalam ayat tentang larangan membunuh : ” janganlah kamu membunuh diri kamu sendiri” (QS. An-Nisa’(9) : 24 ) yang berati dilarang membunuh satu sama lain. Dalam hadis juga disebutkan bahwa ”Orang mukmin itu seperti seorang manusia yang apabila kepalanya merasa sakit maka seluruh fisiknya juga akan merasakan sakit, dan apabila matanya sakit maka sakitlah seluruh anggota badannya juga ” (HR. Ahmad).
Menurut Dr Wahbah az-Zuhali al-lumzu ini dapat dilakukan dalam bentuk mencemarkan nama baik ataupun membuka aib orang lain melalui bentuk perkataan , perbuatan maupun sekedar dalam bentuk simbol-simbol semata (bisa dalam bentuk gambar-gambar: karikatur, dll). Sifat mencela ini juga dapat merusak sendi-sendi persaudaraan karena terjadi sejalan dengan sifat tercela lainnya yaitu fitnah.

Tanabazul alqab (memberi gelar yang buruk)

Termasuk ke dalam unsur mengolok-olok dan mencela adalah memanggil dengan panggilan yang tidak disukai pemilikinya sehingga ia merasa terhina dan ternoda dengan panggilan itu. Seperti memanggil dengan nama binatang, atau kekurangan yang ada pada fisik seseorang dll. Di antara hak seorang mukmin yang wajib diberikan mukmin lainnya adalah dia tidak memanggilnya dengan sebutan yang tidak disukainya. Di antara kesantunan seorang mukmin ialah tidak menyakiti saudaranya dengan hal semacam itu. Setelah ayat di atas mengisyaratkan nilai-nilai hakiki menurut pertimbangan Allah dan setelah menyentuh rasa persaudaraan bahkan perasaan bersatu dengan diri yang satu konsep selanjutnya adalah menjaga seorang mukmin agar tidak kehilangan sifat yang mulia. Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa seburuk-buruk panggilan adalah panggilan sesudah beriman. Sebagaimana panggilan/gelar-gelar yang buruk dilakukan orang-orang kafir pada masa jahiliyyah ketika melihat banyak orang yang memeluk agama Islam.
Su’uzhann (buruk sangka/ negative thinking)

Berburuk sangka (su’u zhann/ negative thinking) dilarang karena banyaknya buruk sangka dapat menyebabkan dosa sebab manusia tidak akan tahu sangkaannya yang mana yang baik atau malah menimbulkan dosa. Dr Wahbah az-zuhaili menjelaskan bahwa yang tergolong dalam prasangka ini adalah menyangka ahlulkhair (orang yang nyata-nyata berbuat kebaikan, kedamaian dan amanah) disangkakan adalah orang yang tidak baik/pura-pura. Rasulullah Saw mencela perbuatan orang-orang yang berprasangka, : ” Allah melarang orang-orang mukmin berprasangka kecuali dengan prasangka yang baik-baik.(HR. Ibn ’Abbas ra). Hadis lainnya yang diriwayatkan oleh Thabrani menyatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda : ” jika kamu berprasangka, ia tidak akan terwujud”. Hadis ini membebaskan manusia agar senantiasa terpelihara hak-haknya, kebebasannya dan segala ekspresinya sebelum nyata benar perbuatan yang dilakukannya tersebut berisiko hukum. Sangkaan yang terjadi di masyarakat misalnya belum cukup dijadikan landasan penetapan sanksi.
Tinjauan aspek psikologis buruk sangka juga dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh sebagaimana penelitian yang dilakukan dalam studi yang dipublikasikan di psychology and aging, sebuah jurnal dari American psychologycal Association (APA) menunjukkan berpikir positif ikut berperan penting dalam proses memperlambat penuaan. Termasuk faktor keturunan dan kesehatan. artinya berpikir yang baik (husnuzhann) berhubungan erat dengan emosi positif dan kekuatan fisik. Tidak saja dapat membuat lebih tenang tetapi juga efektif memperlambat penuaan.
Studi yang dilakukan ini melibatkan 1558 orang tua keturunan Amerika- Meksiko yang tinggal di bagian barat daya Amerika. Sebelum diadakan penelitian para partisipan(orang yang diteliti) tidak mengalami kerapuhan fisik, kemudian dilakukan penelitian dengan melihat hubungan tingkat pikiran positif dengan kerapuhan fisik. Hasilnya menunjukkan bahwa pikiran yang kurang positif mengalami peningkatan angka kerapuhan fisik hingga 8 persen. Sedangkan pikiran positif tinggi secara signifikan kemungkinan kecil mengalami kerapuhan fisik karena pikiran positif langsung mempengaruhi kesehatan melalui respon kimia dan saraf. Alquran membersihkan hati manusia untuk tetap bersih dan terbebas dari kegelisahan dan kegundahan karena kehidupan akan nyaman dalam masyarakat yang bebas dari prasangka negatif
Tajassus (mencari-cari kesalahan)

Tajassus mengandung arti mencari-cari ’aib orang lain yang merupakan auratnya dan mengekspos aurat yang disembunyikan tersebut kepada khalayak yang sumbernya diperoleh dari data yang didengar dari orang-orang yang benci kepadanya atau langsung mencari tahu ke tempat tinggalnya. Tajassus kadang-kadang merupakan kegiatan yang mengiringi dugaan dan kadang-kadang sebagai kegiatan awal untuk menyingkap aurat dan mengetahui keburukan seseorang. Alquran memberantas praktik yang hina ini dari segi akhlak guna membersikan hati dari kecenderngan yang buruk dengan mengungkapkan aib dan keburukan orang lain. Manusia memiliki kebebasan kehormatan dan kehormatan yang tidak boleh dilanggar dengan cara apapun dan tidak boleh disentuh dalam kondisi apapun. Rasulullah Saw bersabda : ”jika kamu menyelidiki aib manusia berarti kamu mencelakakan mereka atau hampir mencelakakan mereka.” (HR Abu Darda’).
Ghibah (menceritakan aib/ bergosip)

Ghibah yaitu menceritakan keburukan orang lain yang tidak disukainya. Ketika ditanya sahabat kepada Rasulullah Saw tentang ghibah, beliau menjawab : ” menceritakan tentang saudaramu yang tidak kamu sukai, lalu sahabat bertanya bagaimana jika itu benar ada padanya? Rasulullah saw menjawab: ” Jika kamu katakan itu ada pada dirinya maka kamu telh berghibah. Tetapi jika tidak ada padanya berarti kamu telah berdusta tentang dia” (HR. Tirmidzi). Allah mengumpamakan orang yang suka berghibah adalah orang yang suka makan bangkai saudaranya sendiri. Simbolisasi ini mengindikasikan bahwa perbuatan ghibah itu adalah perbuatan haram dan menjijikkan. Ghibah juga dapat merusak tatanan kemuliaan dan kehormatan bagi orang yang melakukannya karena ucapan yang keluar dari lidahnya itu akan kembali juga pada dirinya sendiri.

Keenam penyakit masyarakat ini disampaikan empat belas abad yang lalu yang berarti Alquran memprediksi bahwa penyakit-penyakit ini akan terus mewabah dalam kehidupan manusia kecuali manusia bisa menghindari dan mengobati hatinya agar tidak terjangkit. Apabila masyarakat yang bebas dari penyakit-penyakit ini maka demokrasi yang di agung-agungkan setiap negara pasti terwujud dengan damai dan penuh rahmat sebagaimana yang pernah terjadi empat belas abad silam. Semoga masyarakat kita cepat menyadarinya. Wallahu ‘alam bisshawwab

sindrom facebook

Sindrom Facebook
Fatma Yulia

Dunia media Indonesia akhir-akhir ini sedang disibukkan dengan berita-berita hangat yang berkaitan dengan facebook (baca: fesbuk). Beberapa orang tua kelimpungan anak gadisnya hilang setelah berhubungan melalui media jejaring sosial ini. Peristiwa ini terus terjadi dan hampir setiap hari dalam dua minggu belakangan orang tua antri melaporkan kehilangan anaknya gara-gara fesbuk. Fesbuk menjadi terkenal dan orang-orang tua pun ikut-ikutan menjadi terkenal karena sering muncul dan diwawancari stasiun TV. Fesbuk menjadi sindrom bagi masyarakat Indonesia. Sindrom yang berarti gejala yang terjadi secara serentak yang menandai ketidaknormalan tertentu dan biasanya bersama-sama membentuk pola yang dapat diidentifikasi. Sindrom fesbuk secara revolusi membentuk perilaku masyarakat yang mengenal internet ataupun handphone yang menyediakan fasilitas tersebut untuk tahu benda apa yang disebut fesbuk ini dan menjadi ramai dibicarakan.
Mungkin bagi sebagian orang menganggap tidak terlalu peduli dengan fesbuk sehingga mau ngetrend atau tidak bukanlah menjadi soal. Tetapi bagi sebagian orang yang terkena wabahnya akan menjadi tergila-gila kalau bisa dikatakan terhadap barang baru ini. Fesbuk merupakan sebuah situs jejaring sosial yang mengetengahkan profil atau jati diri seseorang untuk dapat dilihat oleh seluruh dunia untuk mengaksesnya. Melalui media ini seseorang dapat memperkenalkan dirinya atau mencari tau tentang seseorang yang dikagumi atau yang tidak pernah dikenalnya sama sekali. Media ini juga menyediakan ruang untuk menampilkan foto-foto wajah kita agar dilihat oleh manusia di seantero jagat ini. Sehingga secara tidak langsung kita menjadi terkenal dan mensugesti seseorang untuk mengenal kita.
Kita cenderung risih bila dikatakan gak gaul sehingga langsung memuja trend dan mencintai kecenderungan orang banyak. Wabah fesbuk cepat sekali menyebar di tengah masyarakat. Orang seperti kehausan info-info terbaru dan trend-trend sosial. Sekarang ini, internet dianggap simbol kemajuan yang artinya kalau kita gemar berinternet namun tidak memiliki akun jejaring sosial (fesbuk), akan terasa aneh. Tidak heran kalau anak-anak SD pun berbondong-bondong bikin akun (mendaftar menjadi peserta) di fesbuk. Sebagian siswa bahkan tidak sungkan menanyakan akun fesbuk gurunya. Sebab mereka pun sudah risih kalau disebut ketinggalan zaman. Bahkan ibu-ibu baik yang bekerja di kantor meskipun tidak semua atau yang menjadi ibu rumah tangga juga ketularan wabah ini. Bahkan seorang ibu rumah tangga sangking asyik berfesbuk ria lupa mengurus anaknya yang mau sekolah ataupun keperluan lainnya. Bahkan terkadang mampu berlama-lama di depan komputer ataupun berjam-jam memegang handphone sambil tertawa sendiri merupakan salah satu keanehan lainnya dari fesbuk ini. Terkadangpun sholat dikerjakan di ujung-ujung waktu seolah-olah sholatnya dijamak karena tanggung.
Kehadiran fesbuk sebagai jejaring sosial ini tentu saja menuai beragam dampak, baik dampak positif atau negatif, tetapi juga dapat menciptakan satu gerakan sosial untuk menciptakan atau menjatuhkan imej sekelompok orang atau pejabat sekalipun. Contoh dukungan terhadap bibit-chandra (KPK) ataupun terhadap Prita (kasus RS Omni) menjadi sebuah aksi sosial yang fenomenal karena mampu membuat pemerintah jadi turun tangan untuk ikut mengurusnya. Juga yang baru-baru ini terjadi dipampangnya foto bupati dan wakilnya dengan vulgarnya di fesbuk milik sang bupati. Selain fesbuk jejaring sosial lainnya yang membuat masyarakat mampu berevolusi adalah twitter yang punya ambisi yang sama dengan fesbuk yaitu memperkenalkan diri ke khalayak ramai, yang juga banyak menuai dampak seperti kasus luna Maya atau Mario teguh (yang akhirnya menutup situs ini). Sebenarnya sebelum fesbuk, twitter sudah ada situs yang juga mirip-mirip yaitu frenster yang belakangan kurang dikenal karena digusur dengan anak baru yang bernama fesbuk dan twitter.
Tidak dapat dipungkiri memang manfaat fesbuk ini juga dapat dirasakan selain sensasi-sensasi yang dimunculkannya. Bahwa sesungguhnya melalui fesbuk dapat menipiskan jarak psikologis satu sama lain. Istilah lainnya adalah menjalin silaturahmi dengan orang-orang yang sudah lama tidak bertemu untuk selanjutnya merekatkan kenangan masa lalu dengan bercanda berdasarkan cerita masa kini. Tadinya hubungan yang sangat jauh karena terbentang dinding yang tinggi, maka melalui fesbuk bisa saling bertemu dengan menuliskan apa yang menjadi ungkapan hati melalui wall (dinding) yang terdapat pada fitur yang disediakan oleh fesbuk. Bahkan tadinya dibatasi oleh jurang yang lebar sekarang hanya dibatasi oleh pulsa.
Manfaat lainnya juga dirasakan oleh para ustadz, kiyai, tokoh ilmuwan, pejabat negara maupun organisasi massa lainnya. Para ustadz (tentunya yang favorit atau gaul misalnya) memanfaatkan fesbuk sebagai media dakwah dengan menyampaikan pesan-pesan agama atau jadwal pengajian serta seluruh kegiatan-kegiatan keagamaan kepada seluruh jama’aahnya, atau sebagai media tanya jawab seputar persoalan agama. Bahkan Syeikh Ramadhan al-Bouthi ulama karismatik dari Syiria memiliki akun fesbuk yang siap menjawab berbagai pertanyaan seputar masalah agama secara langsung kepada sepenanya pada waktu itu juga seperti seolah-olah kita sedang berada dihadapannya. Pengaruh fesbuk ini juga menambahkan keberanian kita untuk berhadapan langsung dengan tokoh-tokoh agama dunia bahkan berkomunikasi langsung.
Selain itu adapula kelemahannya. Karena tidak selamanya jarak psikologis yang sirna itu dikehendaki, dan tak selamanya kenangan-kenangan yang ada perlu digali-gali lagi. Dan dinding dan jurang psikologis itu, terkadang melayani suatu fungsi, yang kita sadari maupun tidak kita sadari. Sehingga jejaring sosial adalah semacam laboratorium besar, dimana anggotanya adalah kelinci percobaan untuk suatu iklim sosial yang sama sekali baru. Seseorang dengan leluasa menuangkan curahan hatinya bahkan cacian dan makian bagi orang-orang yang tidak disenanginya. Sebenarnya sungguh sangat riskan dan memprihatinkan kalau hal ini terjadi. Sehingga tidak berlebihan orang menyebut fesbuk adalah revolusi. Revolusi, memang sering minta banyak biaya. Biaya yang pertama adalah terkaget-kaget.Termasuk fesbuker (penganut/pemakai fesbuk), kalau tidak hati-hati mengelola keheranan dan keinginannya, bisa dengan mudah kecanduan. Syukur-syukur kalau kecanduannya bisa dikelola, sehingga satu saat sadar untuk kembali memperlakukan modernitas tersebut secara proporsional. Dari koran-koran, media televisi kelihatannya sudah banyak korban yang melibatkan fesbuk mulai dari penculikan, perdagangan manusia,jual beli barang-barang terlarang seperti narkoba sebagaimana modus-modus yang sering ditemukan pihak kepolisian. Para apologis (pembela) fesbuk memang bisa berkilah. Bahwa penculikan, prostitusi, perselingkuhan bisa dengan dan tanpa fesbuk, namun apakah bisa ditampik, bahwa fesbuk dan jejaring sosial, membuka peluang baru yang lebar untuk terjadinya kejahatan-kejahatan tersebut.
Remaja memang labil. Dalam kelabilannya, sangat mungkin fesbuk membuatnya lost in forest, (orang yang sesat di dalam hutan) lalu diculik atau menculik. Seperti kasus-kasus yang sedang terjadi bahkan ketika ditemukan remaja wanita tersebut sudah kehilangan kegadisannya , bahkan sampai melakukan nikah siri. Sehingga pemerintah pun akan mengangkat fenomena nikah siri menjadi sebuah RUU (Rancangan Undang-Undang) yang akan mempidanakan pelakunya, karena imbas dari fesbuk ini. Demikian pula rumah tangga, memiliki saat-saat labil. Berapakah yang lari ke fesbuk dan menemukan pelampiasan atau curhatan yang lebih melegakan ketimbang pasangannya. Untuk selanjutnya menciptakan dosa baru yaitu berselingkuh. Na’udzubillahi min dzalik.
Akhirnya, kita tahu, ada orang yang dianggap atau merasa gila karena tidak ikut fesbuk. Ada pula yang tergila-gila dengan fesbuk, dan ada juga yang melakukan perbuatan gila dengan memanfaatkan fesbuk. Mereka itu semua, gila gara-gara fesbuk. Maka bagi orang tua diharapkan mampu mengontrol aktivitas anak-anak remaja tanpa mengekang kreativitasnya dan kita semua mampu menjadi kontrol sosial agar tidak tergerus dengan trend-trend baru yang menyesatkan.
Wallahu’alam bishshawwab.

Jumat, 11 Desember 2009

afiksasi ism dalam bahasa Arab

AFIKSASI (HARF ZIYĀDAH) PADA NOMINA DALAM BAHASA ARAB
bint_elrasyid@yahoo.com

ABSTRACT
Affixation in Arabic can be formed from the verb stem fi’l by adding prefix (as-sābiq), infix (az-ziyādah) and confix (as-sābiq wa al-lāhiq). Prefix and infix which are used ti form noun ism from the verb stem fi’l consist of prefix mim and infix alif, and confix mim and ta’, confix mim and waw and confix mim and alif.
Adding affix from the adjective stem which consist of prefix hamzah and infix alif while adding affix ahruf-l- ziyādah from the noun stem ism consist of sufix ya syaddah, confix alif and nun, waw and nun, ya and nun, and alif and ta’. Noun in Arabic can be formed from the verb and adjective stem by adding affix. Affix ahruf ziyādah can be added from the verb and adjective stem or noun stem itself. The grammatical meaning of the process of affixation from the verb stem fi’l has 5 (five) points, they are (1). Noun of person (ism fā’il), (2). Noun of object (ism maf’ūl), (3. noun of place (ism makān), (4).noun of time (ism zamān), and (5) noun of thing (ism alat).
The grammatical meaning of infix alif has 2 (two) points, they are (1). Reciprocal, and (2).noun of person. The grammatical of confix mim and ta’ marbūţah states the tool. The grammatical meaning of confix mim and alif states the tool. The grammatical meaning of adding an affix of stem of adjective, that is prefix hamzah has three points, they are ; (1). Transitive, (2). Intensive, (3). Comparative. While the grammatical meaning of infix alif states the person, an adding affixes which based on ism, nouns themselves, those are alif and nun state the dual muśannā, confix waw and nun state the meaning many for masculine (jamak muźakkar)and confix alif and ta state the meaning many for feminine (jamak muannaś).

Keywords: affixation, prefix (as-sābiq), infix (az-ziyādah), confix (as-sābiq wa al-lāhiq), grammatical meaning (ġardun ma’nawī).


Pendahuluan
Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan gagasan, fikiran, dan perasaan. Selain itu, bahasa juga merupakan alat integrasi dan adaptasi sosial sehingga individu dapat saling mengadakan pendekatan baik antar warga yang satu dengan warga yang lainnya maupun terhadap lingkungan sosialnya. Sebagai alat komunikasi, bahasa berperan untuk mengadakan kontrol sosial sehingga setiap individu dapat mempengaruhi individu lainnya melalui keahlian berbicara, menulis dan lain sebagainya. Oleh karena itu, peranan bahasa tersebut begitu besar dalam kehidupan manusia.(Alwi, 1988 : 3).
Bahasa manusia jauh berbeda dengan bahasa makhluk lainnya, karena manusia memiliki bentuk bahasa yang unik. Keunikan bahasa manusia dapat dilihat dari keragamannya. Antara satu kelompok dengan dengan kelompok lainnya memiliki bahasa yang berbeda. Perbedaaan tersebut kemudian menjadi problem dalam berinteraksi satu sama lainnya. Seiring dengan itu, muncul pemikiran untuk mencari persamaan-persamaan universal yang terdapat pada semua bahasa.
Bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan secara luas di planet ini. Bahasa Arab merupakan bahasa utama dari 22 negara seperti Kuwait, Saudi Arabia, Irak, Yordania, Mesir, Sudan dan lain – lain.. Bahasa ini juga merupakan bahasa kedua pada negara-negara Islam karena dianggap sebagai bahasa spiritual Islam. Bahasa Arab tergolong ke dalam rumpun bahasa Semit( Semitic Language) dan memiliki jumlah penutur yang terbanyak di antara bahasa – bahasa Semit lainnya. Pada mulanya Bahasa Arab hanyalah alat komunikasi di antara Bangsa Arab dan kemudian menjadi bahasa agama di dunia Islam setelah turunnya Alquran. Bahasa ini terus mengalami perkembangan dan sejak tahun 1973 di pergunakan sebagai bahasa resmi ke enam di Perserikatan Bangsa-Bangsa di samping bahasa Inggris, Perancis, Rusia, Spanyol, dan Cina (Sumardi, dkk 1974 : 86). Akhir – akhir ini bahasa Arab merupakan bahasa yang peminatnya cukup besar di Negara Barat. Di Amerika misalnya, hampir tidak ada satu perguruan tinggi pun yang tidak menjadikan bahasa Arab sebagai salah satu mata kuliah bahkan terdapat universitas yang membuka khusus lembaga pendidikan bahasa Arab seperti School of Oriental and African Studies di London (Arsyad, 20 : 1).
Bahasa Arab terkenal dengan kekayaan kosakatanya. Kekayaan kosakatanya ini antara lain disebabkan adanya bentuk tunggal, dual, jamak serta didapati jenis maskulin dan feminim. Diantara kajian yang dilakukan para ahli dalam menyatukan persepsi tentang bahasa ini adalah menyatukan kesamaan pembentukan kata dalam kalimat yang ditinjau dari aspek morfologis. Salah satu aspeknya adalah afiksasi atau pengimbuhan yang dilekatkan pada kata dasar. Pengimbuhan pada kata dasar ini mampu memberikan makna yang beragam sehingga dapat memperkaya kosa-kata dalam suatu bahasa.
Afiks adalah morfem terikat yang dilekatkan pada morfem dasar atau akar (Chaer, 1994 : 29). Afiksasi adalah Imbuhan atau bentuk terikat yang apabila ditambahkan pada kata dasar atau bentuk dasar dapat merubah makna gramatikal (KBBI, 1995 : 10). Penambahan morfem asi, afiksasi adalah proses atau hasil penambahan afiks pada akar atau kata dasar,seperti morfem ber pada kata bertiga, morfem er pada kata gerigi , dan morfen an pada kata ancaman. Pembahasan mengenai afiks dapat di temukan dalam setiap buku linguistik umum dan morfologi. Namun demikian, pembahasan pada buku-buku tersebut masih bersifat kurang menyeluruh dan berbeda-beda.
Dalam bahasa Arab afiks dapat diistilahkan dengan حرف الزيادة / harf-l-ziyādah/, yaitu huruf-huruf tambahan yang masuk dalam sebuah kalimat bahasa Arab sehingga dari penambahan tersebut akan muncul berbagai makna yang berbeda. حرف الزيادة /harf –l-ziyādah/ dalam bahasa Arab ada sepuluh yang dirangkai dalam kalimat (سألتمونيها/ saaltamūnīhā). (Nāşif, 1994 : 8). Dari kesepuluh huruf ziyādah tersebut ada beberapa yang dapat disisipkan dalam kalimat nomina ( اسم/ism/). Perubahan makna ini secara implisit juga memberikan makna tambahan kepada kalimat yang disisipi dengan imbuhan tersebut. Penambahan ini sesungguhnya memperkaya bahasa Arab, sebelumnya mendapat penambahan, bahasa Arab pun sudah kaya.
Makalah ini memfokuskan pembahasannya mengenai peranan afiks (حرف الزيادة / harf-l- ziyādah/) dalam bahasa Arab untuk membentuk makna yang beragam mulai dari makna leksikal maupun makna gramatikal. Bentuk-bentuk afiks yang ada dalam bahasa Arab dan manfaat praktis yang dihasilkan dari adanya proses afiksasi ini dalam membantu kegiatan penerjemahan (alih bahasa).

B. Afiks (harf ziyādah) pada Nomina
1. Afiks (harf –l-ziyādah) pada Nomina / اسم / ‘ism’
Afiks (harf-l-ziyādah) yang berlaku pada nomina (ism) merupakan proses yang terjadi dari verba (fi’l) proses ini adakalanya berlaku pada prefiks/awalan (السابق /as-sābiq/). Infiks/ sisipan (الزيادة /az-ziyādah/) maupun konfiks (السابق و اللاحق /as-sābiq wa al-lāhiq/). Sama halnya dengan verba, afiksasi ini memberikan pengaruh pada makna yang dibentuknya. (Ma’lūf , 1992 : 14)



2. Proses Afiksasi Nomina (ism) dari Bentuk Dasar Verba (fi’l)
2.1 Prefiks (as-sābiq) mim (م)
Prefiks ini dibubuhkan padaاسم فاعل / ism fā’il (nomina pelaku) dan/ اسم مفعول ism maf’ūl (nomina penderita) maupun ism makān (nomina yang menyatakan tempat atau penunjuk tempat) yang dibentuk dari verba empat huruf, lima huruf, dan enam huruf (śulāśǐ mazīd wa rubā’īyy).
a. Prefiks mim pada /اسم فاعل ism fā’il / (Nomina Pelaku).
Pembentukan nomina dari verba empat, lima maupun enam huruf pada ism fā’il (nomina pelaku) dibentuk dengan cara menambahkan prefiks mim (م) yang berharakah dammah diawal kalimat verba tersebut sebagai ganti dari huruf yang ada di depan verba tersebut dan huruf sebelum akhirnya berbaris kasrah. (Yulia, 2008 : 108)
Contoh :
أفعل + م = مـفعل /af’ala/+ prefiks mim (م) = /muf’ilun/
b. Prefiks mim pada / اسم مفعول ism maf’ūl / (Nomina Penderita).
Proses pembentukan ism maf’ūl (nomina penderita) dari verba empat, lima maupun enam huruf adalah dengan menambahkan mim yang berharakah dammah di awal kalimat dan huruf terakhirnya berbaris fathah. (Yulia, 2008 : 114)
Contoh :
أفعل + م = مـفعل /af’ala/ prefiks mim = /muf’alun/

c. Prefiks mim pada / اسم مكانism makān/ (Nomina Penunjuk Tempat)
Pembentukan nomina penunjuk tempat dari fi’l (verba) tiga huruf, empat huruf dan enam huruf dapat dibentuk dengan cara sebagai berikut : (Ni’mah, 1997 : 118).
* Apabila fi’l bentuk dasarnya terdiri dari tiga huruf dan ‘ain fi’lnya (huruf kedua) pada fi’l mudāri’ (verba kala kini) berharakah dammah (pola يفعُل / yaf’ulu/ ), maka huruf ya’ di awal fi’l mudāri’ diganti dengan prefiks mim yang berharakah fathah dan huruf sebelum akhirnya berbaris fathah sehingga menjadi مَفعَل / maf’alun/. Contoh :
كتب- يكتب + م = مكتب
/kataba/’ menulis’ /yaktubu/‘dammah ‘ain mudāri’ + prefiks mim = /maktabun/’tempat menulis’
Penambahan morfem mim di awal kalimat يكتب /yaktubu/’ menulis’ dalam bentuk fi’l mudāri’ menjadi مكتب /maktabun/yang mengandung makna tempat menulis.
- Apabila fi’l bentuk dasarnya terdiri dari tiga huruf dan ‘ain fi’lnya (huruf kedua) pada fi’l mudāri’ (verba kala kini) berharakah fathah (pola يفعَُل / yaf’alu/ ), maka pembentukannya adalah dengan mengganti huruf ya’ di awal fi’l mudāri’ (verba kala kini) dengan prefiks mim yang berharakah fathah sehingga menjadi مَفعَل / /maf’alun/. Contoh :
لعب – يلعَب + م = ملعب
/la’iba/’bermain’ - /yal’abu/ ‘fathah ‘ain mudāri’/+ prefiks mim = /mal’abun/’tempat bermain.’ Penambahan morfem mim di awal kalimat يلعَب/yal’abu/’bermain’ dalam bentuk fi’l mudāri’ menjadi ملعب /mal’abun/ yang mengandung makna tempat bermain.

2.1. Infiks (az-ziyādah) alif (ا)
Infiks (az-ziyādah) yang ditambahkan pada bentuk dasar kata kerja dalam proses afiksasi ism dalam bahasa Arab dibubuhkan pada nomina pelaku (/ اسم فاعلism fā’il) yang dibentuk dari kata kerja /fi’l tiga huruf. Penambahan infiks ini terletak antara huruf pertama dan kedua dari bentuk dasar fi’l /kata kerja tersebut. Adapun huruf sebelum akhirnya berharakah kasrah, sehingga menjadi فـاعل / fā’ilun/. (Al-Hamalāwī, 1953 : 76).
Contoh :
قرأ + ا = قـارء
/qara’a/ ‘ membaca’+infiks alif = /qāri’un/’pembaca’
Penambahan morfem alif pada kalimat قرأ /qara’a/ ‘ membaca’ menjadi قـارء /qāri’un/ yang mengandung makna pembaca.
1.3. Konfiks (as-sābiq wa al-lāhiq) mim dan ta’ marbūtah (م- ة)
Konfiks yang ditambahkan pada bentuk dasar dalam nomina /ism bahasa Arab adalah konfiks (mim dan ta’ marbūtah / م- ة). Konfiks mim dan ta’ marbūtah ini dibubuhkan pada ism yang menunjukkan alat. Pembentukan ism yang menunjukkan alat dengan konfiks ini dibentuk dengan cara mengganti prefiks ya’ pada fi’l mudāri’ dengan prefiks mim yang berharakah kasrah serta huruf kedua dan huruf ketiga. Bentuk dasarnya diberi harakah fathah dan sesudah huruf ketiga bentuk dasarnya tersebut ditambahkan ta’ marbūtah sehingga menjadi فعلة /mif’alatun/. Sebagaimana halnya ism yang menunjukkan alat dengan pola مفعل /mif’alun/ , maka pola مفعلة /mif’alatun/ ini juga tidak ditentukan adanya ketentuan tentang fi’l yang dibentuk dengan pola ini. Penambahan konfiks mim dan’ ta’ marbūtah / م- ة mengubah identitas leksikal disertai perubahan status kategorial nomina deverbal. (Ġulāyainī, 1987 : 190).
Contoh:
كنس + م-ة = مـكنسـة
/kanasa/’ menyapu’ +konfiks mim dan ta’ marbutah = /miknasatun/’sapu’
Penambahan morfem mim dan ta’ marbutah pada kalimat كنس /kanasa/ ‘menyapu’ menjadi مـكنسـة/miknasatun/ yang mengandung makna sapu.

1.4. Konfiks (as-sābiq wa al-lāhiq ) mim dan waw (م-و)
Adapun yang dimaksud dengan gabungan afiks mim dan waw adalah penambahan huruf mim di awal dan huruf waw di tengah kalimat. Gabungan afiks ini dibubuhkan pada ism maf’ūl (nomina penderita) yang dibentuk dari fi’l tiga huruf. Pembentukan ism maf’ūl (nomina penderita) dari fi’l tiga huruf dibentuk cara menambahkan prefiks mim yang berharakah fathah serta huruf kedua bentuk dasar (‘ain fi’l) diberi harakah dammah serta di antara huruf kedua dan huruf akhir diberi sisipan huruf waw berharakah sukūn sehingga menjadi : مـفعـول /maf’ūlun/. (Ġulāyainī, 1987 : 191)
1.5 Konfiks (as-sābiq wa al-lāhiq) mim dan alif (م- ا)
Konfiks mim dan alif merupakan penambahan mim di awal dan alif di tengah kata. Konfiks mim dan alif ini dibubuhkan pada ism yang menunjukkan alat. Pembentukan ism yang menunjukkan alat dengan konfiks mim dan alif dengan cara menambahkan prefiks mim yang berharakah kasrah dan diantara huruf kedua dan huruf ketiga diberi tambahan alif serta huruf kedua bentuk dasarnya diberi harakah fathah sehingga menjadi مـفعـال/mif’ālun/. Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, bahwa dalam penambahan afiks pada ism tidak ditemukan adanya perubahan status kategorial dan berfungsi untuk membentuk nomina deverbal. (Ni’mah, 1997 : 123 ).
Contoh :
فتح + م-ا = مـفتـاح
/fataha/’ membuka’+ konfiks mim dan alif = /miftāhun/’kunci’
Penambahan morfem mim dan alif pada kalimat فتح /fataha/’ membuka’ menjadi مـفتـاح /miftāhun/yang mengandung makna kunci.

3. Proses Afiksasi ism (Nomina) dari Bentuk Dasar Adjektiva
3.1. Prefiks (as-sābiq) hamzah (أ) :
Prefiks hamzah ini berlaku pada / اسم تفضيلism tafdhīl/ yang menunjukkan perbandingan dua benda dimana salah satu dari yang dibandingkan itu memiliki kelebihan. (Al-Hamalāwī, 1953 : 81).
Contoh:
Hamzah + (Adj) = N
أ + كبير= أكبر
Prefiks hamzah + /kabīrun/’ besar’ = /akbaru/’ yang lebih besar’
Penambahan morfem hamzah di awal kalimat كبير /kabīrun/’ besar’ menjadi أكبر /akbaru/’ yang memiliki makna sangat besar’.
3.2 Infiksasi ( az-ziyādah) alif (ا) :
Infiks hamzah berlaku pada ism yang termasuk dalam kategori صفة المشابهة /şifah musyabbahah/ yang terdiri dari beberapa wazan. Salah satu dari wazan dari şifah musyabbahah ini ada yang mendapat tambahan huruf ziyādah alif. (ibid)
Contoh :
(Adj)+Alif + = N
جبن + ا = جبـان
/jabana/ ‘takut’ + infiks alif = /jabānun/ ‘penakut’
Penambahan morfem alif di tengah kalimat جبن /jabana/’ takut’ menjadi جبـان /jabānun/ yang memiliki makna penakut.
3.3. Konfiksasi ( as-sābiq wa al-lāhiq) alif dan nun (ا- ن):
Konfiks ini ditambahkan pada bentuk dasar nomina (ism) tunggal, maka tambahan alif dan nun tersebut akan menjadi dual (مثنى / muśannā), yaitu ism (nomina)yang menunjukkan dua. Proses afiksasinya dilakukan di akhir ism tunggal tersebut. (Yāsīn, 1996 : 47)
Contoh :
كتاب + ا- ن = كتابان
/kitābun /’ sebuah buku’ + konfiks alif dan nun = /kitābāni/’ dua buah buku’
Penambahan morfem alif dan nun pada akhir kalimat كتاب /kitābun/’buku’ menjadi كتابان /kitābāni/’ yang mengandung makna dua buah buku.’
3.4. Konfiksasi (as-sābiq wa al- lāhiq) waw dan nun (و- ن):
Dalam bahasa Arab pembentukan jamak ada tiga, pertama جمع مذكرالسالم /jama’mużakkar-l- sālim/’ jamak laki-laki’, kedua, / جمع مؤنث السالم jama’ muannaś –l-sālim/’ jamak perempuan’, ketiga, / جمع تكسيرjama’ taksīr. Adapun jamak mużakkar-l-sālim adalah jamak yang menunjukkan jamak untuk laki-laki dengan menambahkan waw dan nun pada akhir ism (nomina) tunggalnya. (Yāsīn, 1996 : 47-48)
Contoh:
صائـم + و- ن = صائمـون
/şāimun/’seorang laki-laki yang berpuasa’ + konfiks waw dan nun = /şāimūna/ ‘beberapa laki-laki yang berpuasa’
Penambahan morfem waw dan nun pada kalimat صائـم /şāimun/’seorang laki-laki yang berpuasa’ menjadi صائمـون /şāimūna/ beberapa orang laki-laki yang berpuasa.

3.5. Konfiksasi (as-sābiq wa al-lāhiq) ya’dan nun (ي- ن):
Proses afiksasi ya’ dan nun ini belaku juga pada ism (nomina) yang menunjukkan mušannā dalam status nasab dan kasrah (posisi tempat ‘irab yang mewajibkan baris kasrah atau fathah. Selain pada mušannā , konfiks ya dan nun juga berlaku pada جمع مذكر سالم/ jamak mużakkar sālim yang berada dalam status nasab dan kasrah seperti pada mušannā. Namun bedanya kalau pada mušannā sebelum huruf ya’ berbaris fathah sedangkan pada جمع مذكر سالم/ jamak mużakkar sālim sebelum huruf ya’ berbaris kasrah. (Yāsīn, 1996 : 50).
Contoh :
كاتب +ي– ن = كاتبَيـن
/kātibun/’ seorang penulis laki-laki’ + konfiks ya’dan nun = / katibaini/’dua orang penulis laki-laki’
Penambahan morfem ya’dan nun pada kalimat كاتب /kātibun/’ seorang penulis laki-laki’ menjadi كاتبَيـن / katibaini/ yang mengandung makna dua orang penulis laki-laki.
3.6. Konfiksasi (as-sābiq wa al- lāhiq) alif dan ta’ (ا- ت):
Konfiks alif dan ta’ berlaku pada jamak muannaš-l- sālim yaitu dengan menambahkan afiks di akhir dari ism (nomina) tunggal. Dalam proses pengimbuhannya, apabila huruf terakhir pada ism tersebut terdapat huruf ta’ maka huruf ta’ nya dibuang terlebih dahulu, kemudian langsung dibubuhi afiks alif dan ta’. (Qabsy , 1979 : 45).
Contoh :
طالبة + ا- ت = طالبـات
/Ţālibatun/ ‘ seorang mahasiswi’ + konfiks alif dan ta’ = /Ţālibātun/’beberapa orang mahasiswi’
Penambahan morfem alif dan ta’ pada kalimat طالبة /Ţālibatun/ ‘ seorang mahasiswi’ menjadi طالبـات /Ţālibātun/yang mengandung makna beberapa orang mahasiswi.
C. Makna Gramatikal (غرض معنوي/ġardun ma’nawī/)Afiksasi Nomina (ism) dari Bentuk Dasar Verba (fi’l)
1 . Prefiks (as-sābiq) mim.
Prefiks (as-sābiq) mim apabila bergabung dengan bentuk dasar dan membentuk nomina deverbal (kata benda yang terbentuk dari kata kerja), maka gabungan tersebut menyatakan lima makna: (Al-Hamalāwī, 1953 : 89).
1. Sebagai pelaku ( اسم فاعل/ism fā’il/), yaitu sebuah bentuk nomina yang pengertiannya menunjukkan pelaku dari suatu aksi / fi’l.
Contoh :
د رس + م = مـدرس
/darasa/’ belajar’ + prefiks mim = /mudarrisun/’ guru (orang yang mengajar)’, penambahan morfem mim di awal kalimat /darrasa/’mengajar’ menjadi /mudarrisun/’ yang mengandung makna seorang guru. Maka dalam susunan kalimat :
هو مـدرس ناشط فله راتب كثير
/huwa mudarrisun nāsyitun falahu rātibun kaširun/ ‘dia adalah seorang guru yang rajin dan berhak mendapat gaji yang tinggi’ .
Ism (nomina) dari kata مـدرس /mudarrisun/ merupakan nomina yang berasal dari bentuk dasar verba/ fi’l empat huruf dan setelah melalui proses afiksasi terbentuklah kata مـدرس /mudarrisun/ yang menunjukkan pelaku dari suatu perbuatan.
2. Penderita (اسم مفعول / ism maf’ul/), yaitu sebuah ism /nomina yang menunjukkan sesuatu yang dikenai pekerjaan.
Contoh :
أقطع + م = مقطع
/aqaţa’a/’ memotong’ + prefiks mim = /muqţa’un/’ yang dipotong’
Apabila disusun dalam kalimat menjadi :
هذا الحبل مـقطع على أربعة أقسام
/hażā -l-hablu muqţa’un ‘ala arba’ati aqsāmin/ ‘ tali ini dipotong atas empat bagian.’
Nomina مقطع /muqţa’un/’ merupakan nomina / ism yang berasal dari bentuk dasar verba/ fi’l empat huruf dan kemudian verba tersebut mendapat tambahan prefiks/sābiq mim sehingga menjadi nomina yang menyatakan sesuatu yang dikenai pekerjaan.
3. Menyatakan tempat اسم مكان /ism makān/
Contoh :
لعب + م = ملعب
/la’iba/’ bermain’ + prefiks mim = /mal’abun/ ‘ tempat bermain’
Dalam kalimat dapat disusun menjadi :
الأولاد يلعب في ملعب
/al-aulādu yal’abu fī mal’abin/ ‘anak-anak sedang bermain di tempat bermain’.
Ism/ nominaملعب /mal’abun/ merupakan nomina yang berasal dari bentuk dasar tiga huruf. Kemudian verba/fi’l bentuk dasar tersebut mendapat prefiks /sābiq mim sehingga maknanya menyatakan sesuatu yang menunjukkan tempat.
4. Menyatakan waktu اسم زمان) / ism zamān/(
Contoh:
غرب + م = مغرب
/ġaraba/’ terbenam’ + prefiks mim = /maġrib/’ waktu terbenam’
Dalam kalimat dapat disusun seperti :
حضر الضيف في مـغرب
/hadara –l- daifu fi maġribin/ ‘tamu itu datang pada waktu maghrib.’
Nomina مغرب /maġrib/ pada kalimat di atas merupakan nomina yang berasal dari verba / fi’l tiga huruf. Dengan adanya penambahan prefiks /sābiq mim pada bentuk dasar tersebut, maka maknanya menyatakan masa/ waktu.

5. Menyatakan alat اسم الة)/ ism alat/(
Contoh:
فتح + م = مفتاح
/fataha/’ membuka’ + prefiks mim = /miftāhun/ ‘ kunci’
Dalam kalimat dapat disusun sebagai berikut:
الولد يفتح دولابا بالـمـفتاح
/al-waladu yaftahu dulāban bi -l-miftāhi/ ‘ anak laki-laki itu membuka lemari dengan kunci.’
Nomina miftāhun berasal dari bentuk dasar verba tiga huruf/ fi’l śūlāšī. Bentuk dasar ini kemudian digabungkan dengan prefiks (as-sābiq) mim sehingga maknanya menyatakan alat yang digunakan.
2. Infiks (az-ziyādah) alif
Infiks ( az-ziyādah) alif memiliki 2 makna yaitu : (Ibid).
1. Resiprokal (مشاركة / musyārakah)
Contoh :
ضرب + ا = ضـارب
/daraba/’ memukul’ + infiks alif = /dāraba/’saling memukul’
Dalam kalimat dapat disusun sebagai berikut:
ضـارب علي أحمد
/dāraba ‘aliyyun Ahmada/’ Ali dan Ahmad saling memukul’

Verba/ fi’l ضـارب /dāraba/ merupakan bentuk fi’l/ verba yang berasal dari bentuk dasar tiga huruf/ fi’l śūlāšī . Bentuk dasar tersebut kemudian mendapat tambahan infiks/ziyādah alif. Gabungan infiks tersebut dengan bentuk dasarnya menyatakan makna resiprokal.
2. Nomina Pelaku ( / اسم فاعلism fā’i/l)
Contoh :
رجع + ا = راجع
/raja’a/’ pulang’ + infiks alif = /rāji’un/’ orang yang pulang’

Jika disusun dalam kalimat maka dapat disusun sebagai berikut :
هو راجع الى بيته
/huwa rāji’un ilā baytihi/’ dia orang yang pulang ke rumahnya.’
Nomina/ism راجع /rāji’un/ berasal dari verba dasar tiga huruf/ fi’l śūlāšī . bentuk dasar ini kemudian bergabung dengan infiks alif dan membentuk nomina untuk menyatakan makna pelaku.

3. Konfiks (as-sābiq wa al-lāhiq) mim dan ta’ marbūţah (م- ة)
Konfiks mim dan ta’ marbūţah mempunyai makna alat, contoh:
سطر + م- ة = مسطرة
/şaţara/ ‘ menggaris’ + konfiks mim dan ta’ marbūţah = /misţaratun/’ penggaris’
Jika disusun dalam kalimat maka menjadi :
إشترى التلميذ مسطرة
/isytara -l-tilmiżi misţaratan/’ murid itu membeli penggaris’.
Ism/nomina مسطرة /misţaratun/ merupakan nomina yang berasal dari bentuk dasar verba tiga huruf. Bentuk dasar ini kemudian mendapat tambahan konfiks (م-ة/ mim dan ta’ marbūţah) dan menyatakan alat yang digunakan.

4. Konfiks (as-sābiq wa al-lāhiq) mim dan waw (م-و)
Konfiks mim dan waw mempunyai makna sesuatu yang dikenai perbuatan (مفعول به / maf’ūl bihi/).
Contoh :
سمع + م- و= مسمـوع
/sami’a/’ mendengar’ + konfiks mim dan waw = /masmū’un/’ yang didengar’
Penambahan morfem mim dan waw di awal kalimat سمع/sami’a/’ mendengar’ menjadi مسمـوع /masmū’un/’ yang mengandung makna sesuatu yang didengar.
Jika disusun dalam kalimat menjadi :
صوته غير مـسمـوع
/şautahu ġairi masmū’in/ ‘suaranya tidak dapat didengar’
Nomina مـسمـوع /masmū’un/’ merupakan nomina yang berasal dari tiga verba tiga konsonan. Kemudian verba tiga konsonan itu mendapat tambahan berupa gabungan afiks mim dan waw sehingga maknanya menyatakan sesuatu yang dikenai pekerjaan.

5. Konfiks ( as-sābiq wa-al- lāhiq) mim dan alif (م- ا)
Konfiks mim dan alif apabila bergabung dengan bentuk dasar, maka gabungan tersebut menyatakan makna alat yang digunakan, contoh:
فتح + م – ا = مفتـاح
/fataha/’membuka’ + konfiks mim dan alif = /miftāhun/’ kunci’
Jika disusun dalam kalimat menjadi:
هي تحمل المفتـاح
/hiya tahmilu -l-miftāha/ ‘ dia (perempuan) membawa kunci’
حرث + م- ا = مـحراث
Nomina مفتـاح /miftāhun/ merupakan nomina yang berasal dari bentuk dasar verba tiga huruf. Kemudian bentuk dasar ini mendapat tambahan afiks berupa gabungan afiks mim dan alif. Gabungan tersebut menyatakan alat yang digunakan.

D. Makna Gramatikal (غرض معنوي/ġardun ma’nawī/)Afiksasi Nomina (ism) Berbasis Adjektiva
1. Prefiks (as-sābiq) hamzah : (أ--)
Apabila prefiks/sābiq hamzah bergabung dengan bentuk dasar adjektiva maka gabungan tersebut menghasilkan makna : (ibid).
a. Transitif ( متعدي/ muta’addi/ ).
Contoh:
اكرم علي أبـاه
/akrama ‘aliyyun abāhu/ ‘Ali memuliakan ayahnya’
Adjektiv akrama apabila bergabung dengan prefiks hamzah maka gabungan tersebut menyatakan makna transitif.
b. Menyatakan bersangatan ( المبالغة/ al-mubalaġah/)
Contoh :
أبرد الهواء
/abradu -l-hawā’u/ ‘ udara sangat dingin’
Contoh lain :
إسود شعر علي
/ iswadda sya’ru ‘aliyyin/ ‘ rambut si ‘Ali sangat hitam’
Lazimnya prefiks /sābiq ini apabila bergabung dengan adjektiva digunakan untuk menunjukkan warna. Adjektiva abrada dan iswadda bergabung dengan prefiks hamzah menyatakan makna yang bersangatan.
c. Menyatakan lebih dari (أفضل من /afdalu min).
Contoh:
هو أكبر من أخيه
/ huwa akbaru min akhīhi/’ dia lebi besar dari saudara laki-lakinya’
Contoh lain;
الجزيرة جاوى أصغر من الجزيرة سومطرى
/al-jazīratu Jawā aśġaru min-l- jazīrati sumaţrā/’ pulau Jawa lebih kecil dari pulau Sumatera’
Adjektiva akbara bergabung dengan prefiks/ sābiq hamzah , maka gabungan tersebut menyatakan makna lebih.

2. Infiks (az-ziyādah) alif (-- ا--) :
Apabila infiks alif bergabung dengan bentuk dasar adjektiva maka gabungan tersebut menghasilkan makna : (Syāhin, 1980 : 23).
Pelaku ( اسم فاعل/ ism fā’il)
Contoh:
هو تـاجر امين
/huwa tājirun amīnun/ ‘dia seorang pengusaha yang jujur’

Contoh lain:
هي طـالبة مجتهدة
/hiya ţālibatun mujtahidatun/ ‘ dia seorang mahasiswi yang rajin’

E. Makna Gramatikal (غرض معنوي/ġardun ma’nawī /) Afiksasi Nomina (ism) Berbasis Nomina (ism)
1. Konfiks (as-sābiq wa al- lāhiq) alif dan nun (-- ان) :
Apabila konfiks alif dan nun bergabung dengan bentuk dasar ism/ nomina itu sendiri maka gabungan tersebut menyatakan makna: (Ġulāyainī, 1987 : 195 ).
* dual مـثنـى /muśannā/
Contoh :
الطالبـان يذاكران دروسهما
/aţ-ţalibāni yużākirāni durusahumā/ ‘dua orang mahasiswa itu mengulangi pelajarannya’
Contoh lain:
البنتـان تلعبـان في الحديقة
/al-bintāni tal’abāni ‘fi-l- hadīqati/ ‘ dua orang anak perempuan itu bermain di kebun’
السارقان مقبوضان
/as-sāriqāni maqbūdāni/’dua orang pencuri laki-laki itu ditangkap’

2. Konfiks (as-sābiq wa al-lāhiq) waw dan nun (-- ون) :
المؤمـنون يطيعـون الله ورسوله
/al-mukminūna yuţī’ūna –l-laha wa rasūlahu/ ‘orang-orang yang beriman ta’at kepada Allah dan RasulNya,


حضر المحاضرون قمة المؤتمرالتربوية
/hadara-l- muhādirūna qimmata-l- mu’tamar-l- tarbiyyati/’ para dosen itu menghadiri konferensi puncak pendidikan’
3. Konfiks (as-sābiq wa al-lāhiq) alif dan ta’ (--ات) :
الطالبـات يتعلمن اللغة العربية
/aţ-ţālibātu yata’allamna -l-luġat-l-’arabīyyata/ ‘ para mahasiswi itu belajar bahasa Arab ‘
العاملات يعملن عملا ناشطا
/al’āmilātu ya’malna ‘amalan nāsyitān/ ‘ para pekerja itu bekerja secara sungguh-sungguh’

F. Kesimpulan
Untuk membentuk nomina dalam bahasa Arab dapat dibentuk dari bentuk dasar verba dan adjektiva dengan penambahan afiks. Afiks /harf-l- ziyādah tersebut dapat ditambahkan dari bentuk dasar verba, adjektiva maupun bentuk dasar nomina itu sendiri.
Proses afiksasi dalam bahasa Arab dapat dibentuk dari bentuk dasar verba/fi’l dengan penambahan prefiks/awalan(as-sābiq), infiks/sisipan (az-ziyādah), dan konfiks/awalan dan akhiran (as-sābiq wa al-lāhiq). Prefiks dan infiks yang digunakan untuk membentuk nomina/ism dari bentuk dasar verba/ fi’l terdiri dari prefiks mim dan infiks alif, serta konfiks mim dan ta’, konfiks mim dan waw dan konfiks mim dan alif. Penambahan afiks dari bentuk dasar adjektiva terdiri dari prefiks hamzah dan infiks alif sedangkan penambahan afiks/ ahruf-l- ziyādah dari bentuk dasar nomina/ism terdiri dari sufiks ya syaddah, konfiks alif dan nun, waw dan nun, ya’ dan nun serta alif dan ta’.
Makna gramatikal (غرض معنوي/ġardun ma’nawī /) dari proses afiksasi dari bentuk dasar verba/fi’l memiliki 5 (lima) makna yaitu : (1). Nomina pelaku (ism fā’il), (2). Nomina penderita (ism maf’ūl), (3). Menyatakan tempat (ism makān), (4). Menyatakan masa (ism zamān), dan (5). Menyatakan alat. Makna gramatikal dari infiks alif memiliki 2 makna yaitu: (1). Resiprokal, (2) nomina pelaku. Makna gramatikal dari konfiks mim dan alif menyatakan alat dan makna gramatikal dari konfiks mim dan ta’ marbūţah menyatakan alat. Makna gramatikal penambahan afiks dari bentuk dasar adjektiva yaitu prefiks hamzah memiliki makna : (1). Transitif, (2) bersangatan, (3) lebih. Sedangkan makna gramatikal dari infiks alif menyatakan makna : pelaku, dan penambahan afiks yang berbasis ism/nomina itu sendiri yaitu alif dan nun menyatakan makna dual/muśannā, konfiks waw dan nun menyatakan makna banyak untuk laki-laki (jamak mużakkar) dan konfiks alif dan ta’ yang menyatakan makna banyak untuk perempuan (jamak muannaś).





DAFTAR BACAAN
Al-Hamalāwī, Ahmad.1953. Kitābu Syażā -l-‘Urfi fī Fanni –l-Şarf. Beirūt: Dār el-Kutub ‘ilmīyyah.
Al- Khauli, Muhammad Ali.1982. A Dictionary of Theorical Linguistic (English-Arabic). Libanon : Librarie du Liban.
Al-Wasilah, A.Chaedar.1993. Linguistik Suatu Pengantar. Bandung : Angkasa.
Alwi, Hasan.dkk.1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Edisi ke-3.
Arsyad , Azhari, 2003. Bahasa Arab dan Metode Penggunaannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Chaer, Abdul.1994. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.
Departemen Pdan K. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Ġulāyainī, Muştafā.1987. Jāmi’u -l-Durūsi al-‘Arabīyyati. Beirut: Al-Maktabah al-‘Aşrīyyah.
Hasan, Tamām.1979. al- Luġatu –l-l’Arabīyyati Ma’nāha wa Mabnāha. Beirūt: Al- Hai’ah al-Mişrīyyah al-‘Ammah li al-Kitāb.
Ma’lūf , Louis.1992. al-Munjidu fi -l-Luġah wa -l-‘Alāmi. Beirūt: Dār al-Masyriq.
Nāşif, Hafnā Bek. 1994, Qawā’id al-luġat al-‘Arabĭyyah. Beirut : Maktabah Nahdah.
Nida, E.A.1962. Morphology. Ann: The University of Michigan Press.
Ni’mah, Fuad. 1997. Mulakhkhasu Qawā’idi -l-Luġati-l-‘Arabīyyati. Beirūt : Dār aś-Śaqāfah al-Islāmīyyah.
Qabsy, Ahmad. 1979.Al-Kāmil fĭ an-Nahwu wa şarf wal’irāb. Beirut : Dār Jail.
Syāhin, Taufīq Muhammad. 1980. ‘Awāmiul -l-Tanmīyati li- l-Luġati al-‘Arabīyyati. Kairo: Maktabah Wahbah.
Wāfī, ‘Alī ‘Abd -l-Wāhid.1962. Fiqhu Luġati. Kairo: Lajnah -al-Bayān -al-‘Arabīyyah
Warson, Munawwir. 1994. Qāmūs Munawwir. Ma’had al-Munawwir Krapyak: Yogyakarta
Yulia, Fatma.2008. Al-Lubāb fi ta’lĭm al-luġat al-‘Arabĭyyah. Ciptapustaka Media Perintis : Bandung.
Yāsīn, Hāfiz .1996. Ittihāfu-l-Ţarf fī ‘ilm -l-Şarfi. Suria: Dar al-‘AŞoma’i.

ß Dosen Fakultas Dakwah IAIN SU DPK Panca Budi.

makalah linguistik

مُقَابَلَةُ الْجَمْعِ فِي اللُّغَتَيْ الْعَرَبِيَّةِ وَاْلإِنْكِلِيزِيَّةِ

bint_elrasyid@yahoo.com

Sebagaimana lazimnya bahasa-bahasa di dunia, di dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris pun dijumpai bentuk jamak. Bentuk jamak dalam bahasa Arab ada dua macam, yakni jamak salim (jamak qiyasi) dan jamak taksir (jamak ghair qiyasi). Sedangkan dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan regular plural dan irregular plural. Jamak salim dalam bahasa Arab dibagi kepada dua yaitu jamak mudzakkar salim dan jamak muannats salim sedangkan jamak regular plural tidak ada pembagiannya. Jamak Salim dan regular plural adalah jamak yang memiliki kaidah baku dan mudah ditandai sedangkan jamak taksir dan irregular plural adalah jamak yang tidak beraturan sehingga pembentukkannya hanya berdasarkan sima’I (pendengaran ) dari masing-masing pemilik bahasa tersebut. Pembentukan jamak salim dalam bahasa Arab adalah dengan menambahkan waw dan nun atau ya dan nun pada akhir kata benda yang dijamakkan, sedangkan pembentukan jamak muannas salim dengan menambahkan alif dan ta’ di akhir kata benda yang dijamakkan. Sedangkan regular plural dengan menambahkan “s” atau “es”. Sedangkan irregular plural dan jamak taksir berbeda-beda cara penambahan jamaknya. Perbandingan kedua jamak dalam dua bahasa ini memberikan inspirasi untuk melihat keistimewaan dari salah satu keduanya.

Keyword: jamak qiyasi, jamak ghair qiyasi, regular plural, irregular plural, perbandingan



المقـدّمــة

فمن المعروف أنّ اللغة العربية هي اللغة الإسلام وجزء منه منذ بزوغ فجر الإسلام بها نزّل القران الكريم دستور المسلمين وبها تحدّث خاتم النبيّبن والمرسلين ثم أنها أقدم لغة حية في العالم لم يعترها التغيير والتبديل فكان طوال أربعة عشر قرنا من الزمان وعاء للحضارة الإسلامية العالمية في مشارق الأرض ومغاربها كما أنه فوق هذا كله اكتسبت اللغة العربية مكانة دولية بين اللغات المعروفة حيث انها احدى اللغات المعترفة بها رسميا في المنظّمات الدّوليّة.
فكذلك ايضا اللغة الإنكليزية فإنها قررت كلغة الدولية بأن يكون سائر البلاد في العالم لازم يستخدم هذه اللغة كوسيلة الإتصال بين البلد الواحد الى البلد الأخر وكانت ايضا لغة العالم على اعتبارها مستخدم في مجال التربية و التكنولوجيات الحديثة والمعاصرة ومستخدم كلغة الثانية الواجبة في المدارس والمعاهد من المرحلة الإبتدائية حتى المرحلة الجامعية فاستفاد الطلبة المعاهد في إندونسيا الة المواصلة بينهم عند مخاطبة اليومية.
ولهذا أخذت الكاتبة الموضوع في هذا البحث حول صيغ الجمع في اللغة العربية و الإنكليزية لتحليل المقابلة بينهما.و تركز الباحثة الإهتمام الى صيغ الجمع في العربية بجمع المؤنث و المذكر السالمين وجمع التكيسر و يركز البحث في الإنكليزية حول الجمع القياسي (regular plural) ومختلف الأصول (irregular plural) وجمع المركب (compound plural).

أ- صِيَغُ الْجَمْعِ عِنْدَ الْعَرَبِيَّةِ
¨ تعريف الجمع :
الجمع لغة: اسم لجماعة الإنسان والجمع مصدر من قولك جمعت الشيئ ويجمع على الجموع وقد استعملوا ذلك في في غير الناس فقالوا : جماعة النبات.[1] وأمّا في اصطلاح النحو هو الإسم الذي يدلُّ على اثنين فأكثر من اثنين إمّا بزيادة معيّنة على صورة مفردة في أخره مثل : مُعلِّمٌ + وْن = مُعَلِّمُونَ او مُعَلِّمٌ + يْن = مُعَلِّمِيْنَ او مُعَلِّمَةٌ + ا+ت = مُعَلِّمَاتٌ, او بتغيير في الحركات مثل : أَسَدٌ= أُسُدٌ أو بنقص أحد حروف المفرد مثل نفس = أنفس.[2] ويتفرَّقُ تعريف الجمع عند اللغويين بأن يقولوا الجمع مادلّ على اثنين فأكثر بأن يشمل المثنى ويؤيد مذهبهم شواهد كثيرة فصيحة و منها ((وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ)) فقد قال تعالى ((لِحُكْمِهِمْ)) مريدا اثنين اي داود و سليمان.[3]

¨ أَقْسَامُ الْجَمْعِ فِي الْعَرَبِيَّةِ:
ينقسم الجمع في العربية الى قسمين: الجمع القياسي ويسمي أيضا جمع السلامة او جمع التصحيح والجمع غير القياسي. جمع القياسي او جمع السلامة ينقسم الى جمع المذكر السالم وجمع المؤنث السالم والمراد بهما نحو مُسْلِمُوْنَ ومُسْلِمِيْنَ مما يلحق آخره واو مضموم ما قبلها أو ياء مكسور ما قبلها ونون مفتوحة علامة للجمع وايضا مُسْلِمَاتٌ مما يلحق آخره ألف وتاء للجمع ، فالأول مقيس في صفات العقلاء الذكور نحو مسلمون وضاربون، وفي أسمائهم الأعلام مما لا تاء فيه نحو زيدون ومحمدون فيما سوى ذلك كثبون وأوزان سماعيّ.والثاني للمؤنث كثمرات وهندات ومسلمات وطلحات وللمذكر الذي لا تكسير له نحو سجلات وقَلَّما يجامع فيه المكسر نحو بوانات وبون. وحق كل واحد منهما أن يصح معه نظم المفرد فلا يتغير عن هيئته إلا في عدة مواضع. ذلك التغيير قياس نحو أعلون وأعلين، فإن الألف تحذف لملاقاتها الساكن في غير الحد خارج الوقف ونحو قاضون وقاضين فإن الياء تحذف لمثل ذلك لأن الأصل قاضيون وقاضيين في التضاعف الثقل وهو تحرك المعتل مع اجتماع الكسر والضم في الأول وهو مع توالي الكسرات حكماً في الثاني وهي كسرة الضاد وكسرة الياء ونفس الياء لأنها أخت الكسرة يسكن المعتل بالنقل فيلاقي الساكن على الوجه المذكور فتحذف، ومنها نحو مسلمات في مسلمة فإن التاء تحذف احترازا عن الجمع بين علامتي التأنيث ومنها الهمزة من ألف التأنيث الممدودة فإنها تبدل واواً لذلك ومنها الألف المقصورة كيف كانت فإنها تبدل ياء للصورة ومنها العين من فعلة وفعلة وفعلة فإنها تفتح أو تحرك بحركة الفاء إذا كانت اسما والعين صحيحة كتمرات وسدرات وغرفات ويجوز التسكين في غير المفتوحة الفاء وأما نحو أخو بيضات رائح منأوب فإنما يقع في لغة هذيل.[4] ويسمى بجمع السلامة ليسلمه عن التغيير عند ما أضيف بعلامة الجمع. وأمّا جمع غير القياسي فهو جمع التكسير وهو لا يسلم عند تغييره من المفرد الى الجمع.
1 - جَمْعُ اْلمُؤَنَّثِ السَّاِلمِ :هو ما دلّ على أكثر من اثنين بسب زيادة معينة في أخره أغنت عن عطف المفردات المتشابهات في المعنى والحروف والحركات بعضها على بعض وتلك الزيادة هي الألف والتاء في أخره ومفرد هذا الجمع قد يكون مؤنثا لفظيا فقط نحو: معاوية = معاويات او مؤنثا معنويا فقط نحو: زينب = زينبات او مؤنثا لفظيا ومعنويا معا نحو : مُدَرِّسَةٌ = مُدَرِّسَاتٌ
¯ فيجمع الأسماء بجمع المؤنث السالم على تسعة الأشياء كما يلي:
أوّلا, أعلام المؤنث مثل: مريم, زينب وغيرهما.
ثانيا, ما ختم بالتاء مثل: خديجة, طالبة ويستثنى من ذلك إمرأة وأمَّةٌ فلا تجمع بالألف والتاء بل جمعه على نِسَاءٍ وأمم.[5]
ثالثا, ما ختم بألف التأنيث المقصورة مثل : سَلْمَى, هُدَى.
رابعا, ما ختم بألف التأنيث الممدودة, مثل: صَحْرَاء و حَسْنَاء.
خامسا, صفة المذكر غير العاقل مثل : جِبَالٌ شَاهِقٌ جمعه جِبَالٌ شَاهِقَاتٌ
سادسا, مُصَغِّر مذكر مالا يعقل مثل : دريهم = دريهمات
سابعا, صفة المؤنث مثل : مُرْضِعٌ = مُرْضِعَاتُ
ثامنا, كل اسم أعجمي لم يعرف له جمع أخر مثل : تكْنُولُوجِيّ = تكْنُولُوجِيَّات
تاسعا, المصدر المجاوز ثلاثة أحرف مثل : إجتهادة = إجتهادات
¯ القواعد الثابتة لجمع المؤنث السالم: فطريقة للجمع المؤنث السالم هي:
- إذا كان الإسم بلا تاء زيدت عليه ألف وتاء مثل : زينب + ا-ت = زينبات.
- إذا كان الإسم مختوما بالتاء حذفت هذه التاء ثم زيدت عليه الألف و التاء مثل: طالبة = طالب + ا- ت ß طالبات
- إذا كان الإسم مقصورا عومل كما يعامل المقصور في التثنية فتقلب ألفه يائيا فيما زاد فيه على ثلاثة, مثل : حُبْلَيَات وكبريات. وإذا كان الإسم ممدودا فيعامل معاملةَ الممدود في التثنية فنقول حسناوات تقلب الهمزة بالواو جمع من حسناء وإمّا المنقوص فتردّ ياؤه فنقول في قاض عَلَمًا للمؤنث قاضيات.[6]
وأمّا علامته الإعرابية ان يرفع بالضمّة الظاهرة في أخره وينصب بالكسرة نيابة عن الفتحة ويجيز الكوفيون نصب الجمع المؤنث السالم بالفتحة ولكن رأيهم ضعيف. لذلك من الأفضل عدم اتباعه,[7] ويجر بالكسرة مع التنوين في كل صورة ان لم يكن هناك مانع من التنوين كالإضافة و " ال" التعريف.
و جُمِعَ الإسمُ المركب تركيبا إضافيا بجمع صدره دون عجزه مثل : سيّدة الحسن = سيّدات الحسن و أمّا المركب تركيبا اسناديا او تقييدا فيبقان على حالهما و يجمعان باستعمال كلمة " ذوات"مثل: زاد الجمل ß ذوات زاد الجمل.[8]

2- جَمْعُ اْلمُذَكَّرِ السَّاِلمِ هو اسم ناب عن ثلاثة فأكثر بزيادة واو ونون في حالة الرفع او ياء ونون في حالتي النصب و الجر وبقي مفرده على حاله بعد الجمع ولم يدخل على حروفه تغيير.[9] وجد النحاة لهذا الجمع صيغتين أيضا موزعتين بين القبائل منهم من كانوا يؤثرون الصيغة التى بالواو نحو " مُسْلِمُوْنَ " في كل الحالات وهؤلاء هم القبائل البدوية الذي رمز لهم في الرواية القديمة باسم قبيلة تميم والأخرون كانوا يؤثرون الصيغة التى بالياء " مسلمين " وهؤلاء سكان الحجاز وهم قريش ثم خص النحاة الصيغة الأولى بالرفع و الصيغة الأخرى بحالتى النصب و الجر.

الأسماء الذي تجمع جمع المذكر السالم
¯ فيجمع الأسماء بجمع المذكر السالم ويسمى أيضا شروط الإسم لجمعه ويطرد على شيئين :
أولا, الأعلام لمذكر عاقل بشرط خلوه من التاء مثل : طلحة, حمزة ومن التركيب مثل : سيبويه.
ثانيا, الصفة لمذكر عاقل بشرط ان يكون خالية من التاء مثل : عالم ودلالة على التفضيل مثل : أكرم و أفضل.[10]
¯ القاعدة الثابتة لجمع المذكر السالم
أما طريقة الجمع لجمع المذكر السالم فهي بريادة الواو والنون على مفرده في حالة الرفع والياء والنون في حالتي النصب والجر, ويكسر ما قبل الياء او يضمّ, وتكون النون مفتوحة في جميع حالات الإعراب.
مثل: حضر الفنَّانُوْنَ – إنّ الله يحبّ المُحْسِنِيْنَ
ويستثنى ذلك جمع المقصور والمنقوص والممدود. وكذلك العلم المنتهى بالواو والنون مثل: حمدون وسعدين و العلم المركب تركيبا اسناديا او تركيبا تقييدا فقد يجمع بطريقة مباشرة ان كان المركب تركيبا مزجيا او باستعمال " ذوو" او "ذوي", مثل:
سيبويهß سيبويهون
معد يكربß معد يكربون
حمدون ßذوي حمدون
وان كان المركب تركيبا اضافيا فيجمع صدره دون عجزه, [11] مثل:
عبد الرحمن ßعبدون الرحمن ß عبدو الرحمن
عبد اللطيف ß عبدون اللطيف ß عبدو اللطيف
تحذف نون جمع المذكر السالم للإضافة.

جَمْعُ التَّكْسِيْرِ: تعريفه هو ما دلّ على ثلاثة فأكثر وله مفرد يشاركه في معناه وأصوله مع تغيير يطرأ على صيغتة عند جمع مثل : كتب وأنفس جمع من كتاب و نفس.[12] وقال ابو المنعم سيد عبد العال في النحو الشامل عن جمع التكسير هو ما تغير صيغة الواحد عند جمعه إما بزيادة فيه مثل: صِنْوٌß صِنْوَانٌ وإما بنقص في عدد حروفه مثل: تُخْمَةٌ ß تُخَمٌ وإما بتعديل في شكل المفرد مع زيادة فيه مثل : رَجُلٌß رِجَالٌ او بنقص وتبديل مثل : رَسُوْلٌ ß رُسُلٌ او بنقص الأحروف وزيادة مع تبديل في شكل المفرد مثل : غُلاَمٌ ß غِلْمَانٌ وكل جمع يصيب مفرده تغيير عند جمعه بنقص اوتبديل شكل اي ضبط الحركات.[13]
وأما جمع التكسير بالنسبة لفظه ينقسم الى أربعة أضرب احدها: ما لفظ واحده اكثر من لفظ جمعه مثل : كتاب ß كتب. وثانيه : ما لفظ جمعه أكثر من لفظ واحده مثل : مَسْجِدٌ ß مَسَاجِدُ. وثالثه : ماواحده وجمعه سواء في عدد الحروف لا في الحركات مثل : أَسَدٌ ß أُسُدٌ. ورابعه : ما واحده وجمعه سواء في عدد الحروف و الحركات مثل : الفُلْكُ للواحد و الجمع.

ب- صِيَغُ الْجَمْعِ عِنْدَ الْإِنْكِلِيزِيَّةِ
تسعى الكاتبة في هذا البحث الى وضع تحليل صيغ الجمع في اللغة الإنكليزية و تشمل هذه صيغ الجمع على ثلاثة أقسام جمع القياسي(regular plural) وغير قياسي او ما يسمى بمختلف الأصول (irregular plural) وجمع المركب (compound plural)
وتعريف الجمع في الإنكليزية هي: اسم او صيغة الكلمة التى تستعمل فيما اكثر من واحد. والجمع من كلمة " child" اي " children" .[14] وقال ماريو باي عن طريقة او قاعدة في تشكيل الجمع بقوله : إن أسماء الإنكليزية تشكل جموعها عادة على طريقتين: 1- طريقة بإضافة "s" او "es" او "ies" او "ves" بعد إحلال من "f" وهذه طريقة تسمى جمع القياسي. 2- طريقة التى أحيانا قليلة عن إضافة "en" او "nen" وهذه طريقة تسمى جمع غير القياسي او مختلف الأصول.[15]

ب-1- صيغة جمع القياسى(regular plural) :
أمَّا الجمع القياسي هو جمع الذي يشكل في جمعه بإضافة "s" "es" او "ies" او "ves" مباشرة في اخره.
وتجمع بإضافة "s" في مواضع التالية:
- الأسماء التى تنتهى بحرف "y " وتسبق بالحركات (vowel) ,مثل:
Bay à bays
Boy à boys
Key à keys
- الأسماء التى تنتهى بحرف "y"فالجمع مباشرة عدم التغيير بحرف "i" كما يعامل الأسماء على العادة, مثل:
Germany à two Germanys
- الأسماء التى تنتهى بحرف "o" وتسبق بحرف الحركات(vokal) المتتابعة, مثل:
Studioàstudios
Zooà zoos
- الكلمة النَّحْتُ (pemendekan)وهي: إنتزاع الأصوات الكلمة من كلمتين فأكثر,وهي مثل:
VIP àVIPs (very important persons)
MP à MPs (member of Parliaments)
- الأسماء التى تنتهى بحركات الصامتة "e", مثل:
Collapse à collapses
Size àsizes
College à colleges
- الأسماء التى تنتهى بحرف "o" وتستبق بحرف الصامتة(konsonan), مثل:
Mosquito à mosquitos
Piano à pianos
وتجمع بإضافة"es" في المواضع التالية :
- الأسماء التى تنتهى بأحروفch, sh,ss,x, s, zz, : مثل:
Fox àfoxes
Gas àgases
Buzz àbuzzes
Church à churches
Class àclasses
Slash àslashes
- الأسماء التى تنتهى بحروف "f" او "fe", تقلب هذان الحرفان (v) وإضافة "es" مباشرة, مثل:
Thief àthiev àthieves
Wife àwiv àwives
Knife à kniv àknives
- الأسماء التى تنتهى بحروف "y" وتسبق بحرف الصامتة و يقلب حرف "y" بحرف "i" وإضافة "es" مباشرة, مثل:
Army àarmi àarmies
Lady àladi àladies
Sky àski àskies
- الأسماء التى تنتهى بحروف"o" وتسبق بحرف الصامتة مثل:
Hero à heroes
Mango à mangoes
Potato à potatoes
ب-2- صيغة جمع غير القياسي او مختلف الأصول (irregular plural): باطل قانون بحكم خروجه عن قاعدة او اوضاع مقررة . [16] فإنّما قاعدة مقررة لجمع الإسم في الإنكليزية بإضافة "s" كما في السابق. وتجمع بجمع غير القياسي فيما يلى:
- تغيير الحركات من المفرد, مثل:
Man à men
Woman à women
Footh à feeth
Goose àgeese
Mouse à mice
- إضافة "en" او "nen" في صيغة الجمع فهذه صيغة عدده قليلة, مثل:
Ox à oxen
Child à children
Brother à brethren
Cow à kine
- الأسماء التى تكون صيغته في المفرد و الجمع نفس الصيغة ويميزهما من سياق الكلام, مثل:
المفرد
الجمع
Deer
Deer
Sheep
Sheep
Cattle
Cattle
Dozen
dozen

ب-3- جمع الإسم المركب (compound plural): ماتتركب من كلمتين او اكثر من صدر الكلمة.[17] وينقسم جمع اسم المركب الى ثلاثة أنواع كما يلى:[18]
1- االأسماء المركبة كانها كلمة واحدة وتعرف بإستعمال الشَّرْطَةِ(-)اولا أما الطريقة في جمعها اما أن يكون بإضافة "s" في اخر الكلمة او كلاهما, مثل:
الجمع
المفرد
Boy- friends
Boy- friend
Maid-servants
Maid- servant
Gentlemen- ushers
Gentleman-usher
2- الأسماء المركبة تتركب من (اسم + حرف الجر+اسم) وتستعمل الشرطة في تركيبها, وأما الطريقة في جمعها ان يكون إضافة "s" او "es" في صدر الكلمة مثل :

المفرد
الجمع
Lady-in-waiting
Ladies- in-waiting
Father- in-law
Fathers-in-law
Coat-of-mail
Coats-of-mail
3- الأسماء المركبة تتركب من ( فعل + "er" يصبح الفعل اسما+ ظرف) باستعمال الشرطة, وأما الطريقة في جمعها كما يعامل جمع السابق على طريقة جمعها بإضافة "s" في صدر الكلمة مثل :

الجمع
المفرد
Runners-up
Run + er+ up = runner-up
Lookers-on
Look + er + on = looker-on
Passers- by
Pass + er + by = passer-by
Hangers-on
Hang + er + on = hanger-on
ج- دِرَاسَةُ مُقَابَلَةِ صِيَغِ اْلجَمْعِ فِي اللُّغَتَيْ الْعَرَبِيَّةِ وَ الْإِنْكِلِيْزِيَّةِ
تمّ البحث حول صيغتي الجمع في العربية والإنكليزية في الشرح السابق فتقدم في هذا الباب معرفة مقابلة الجمع التى تشمل فيها المعادلة و المختلفة لديهما بوجه موجز.
ج-1 المقابلة في الجمع القياسي بين اللغتين :
تبدأ هذه المقابلة لعامة شكل الجمع في أوله بهذه الطريقة حتى تقرر طريقة الجمع اللغتين وهي بإضافة الواو و النون رفعا او الياء والنون نصبا وجرا او بإضافة الألف و التاء مزيدتين في العربية. وإما بإضافة "s" او "es" او "ies" او "ves" في الإنكليزية. إنّ الجمع القياسي في العربية يسمى ايضا جمع السلامة. يشمل جمع السلامة الى نوعين جمع المذكر و المؤنث السالمين اللذين يبقيان حاله عند الجمع وسلامتهما من التغيير ويدخل جمع القياسي في العربية جنسان اي تذكير و تأنيث ولهما الشروط المخصوصة في شكلها. وقسم اللغويون والإنكليزيون في الجنس الأسماء وهي ثلاث طوائف من الأسماء لكل منها سلوكه اللغوي الخاص اسماء للمذكر والأسماء لما هو محايد (netral) والماد المحايد لا هو من التأنيث ولا التذكير.[19]

1-1- المعادلة حول الجمع القياسي بين اللغتين فهي:
¤ تضاف علامة الجمع في أخرمن صيغة المفرد مباشرة وسلامتهما من التغيير في صيغة المفرد الى الجمع, مثل :
العربية
الإنكليزية
مسلم +و+ن= مسلمون
مسلم+ ي+ن= مسلمين
مسلمة+ا+ت= مسلمات
Tomato + es = tomatoes
Girl + s = girls
Boy + s = boys

¤ يعادل جمع المؤنث السالم المقصور و المنقوص والممدود والسالم من المعتل بجمع الإنكليزية بإضافة "es" في الأسماء التى تنتهى بحرف "y" احلال "i" او الأسماء التى تنتهى بحرف "f" او "fe" بإحلال حرف "v" مثل:
العربية
الإنكليزية
المقصور:صلاة = صلوة(ا+ت) = صلوات
الممدود: حسناء= حسناو(ا+ت) = حسنوات
Sky—y—I + es--- skies
Lady—y—i+ es---ladies
Knive---fe---v+ es—knives
Thief---f---v+ es---thieves

¤ توجد عليهما الجنس من التذكير و التأنيث , مثل:
العربية
الإنكليزية
محمّد (علم للمذكر)+ (و+ن) =محمّدون
طالبة (الدالة على الإناث)+ (ا+ت) = طالبات
Fathers (nouns of masculine) + s = fathers
Girl (nouns of feminim) + s = girls

1-2- الفوارق بينهما كما يلي:
¤ إنّ جمع القياسي في العربية تشكل جمعه مما يتعلق بعلامة الإعراب كجر ورفع ونصب مثل : المسلمون الصالحون ( مرفوع بالواو) ولا يوجد في الإنكليزية.
¤ يوجد الجنس المحايد (netral) في قواعد اللغة الإنكليزية على أسماء غير العاقل في القسم الخاص مثل: door-à doors (لايدري جنسه مذكر ومؤنّث).
و تدخل الكائنات او الأشياء في العربية الى جمع المؤنث السالم او التكسير أكان الدال على اللفظ المؤنث المجازي مثل : عين ß أعين, و الحقيقي , مثل: حجرة او مذكر الحقيقي مثل: رجل ß أرجل وأيضا المجازي, مثل: باب ß أبواب.
¤ لاتوجد علامة التأنيث في قواعد الإنكليزية كما في الجمع المؤنث السالم بإضافة التاء التأنيث او الألف الممدودة مثل: طالبة وتلميذة, و حسناء. وتعرف التأنيث و التذكير في الإنكليزية من ناحية المعنى و التحقيق.وكان الجمع في قواعد اللغة العربية ما أكثر من اثنين ولكن في الإنكليزية ما أكثر من واحد.
¤
ج-2 مقابلة جمع التكسير وجمع غير القياسي (irregular plural) بين اللغتين

وأما مقابلة في هذا البحث باعتبار معادلتهما كما يلي:
¤ خروجهما من القواعد المقررة في شكل الجمع على القواعد العامة, إما بزيادة الحروف عند الجمع , او بنقص عدد حروفه, او بتغير الحركات عند اللغة العربية. وكان خروج شكل الجمع في الإنكليزية بإضافة "en " او " nen"و تغيير الحركات(vowel/vocal letter) مع نقص الحروف في الجمع , وتغيير الصفري (zero change) بأن يكون مفردا و جمعا نفس الصيغة, و تغيير الحركات(vowel/vocal letter) فقط, مثل:
العربية
الإنكليزية
زيادة الحروف: صنو = صنوان
نقص الحروف: رسول = رسل
تغيير الحركات: أَسَدٌ = أُسُدٌ
إضافة "en " = Child = children
إضافة " nen" = Cow = kinen
تغيير الحركات مع نقص الحروف في الجمع = Mouse = mice
تغيير الصفري = Deer = deer
تغيير الحركات = man= men

وأما الفرق بينهما كما يلي :
¤ الفرق في استعمال العدد اي كانت العلاقة بين العدد و المعدود في اللغة العربية من اوضح الدلائل على خروج الظواهر اللغوية في المنطق العقلي لأن إذ نعد الأقل من العشرة نميز العدد بالجمع فنقول: ثلاثةُ رجالٍ ولكن مع الأعداد التى فوق العشرة نكتفى بالمفرد فنقول : مائةُ رجلٍ او واحدةُ وعشرونَ بنتًا. واختلاف فيه جمع غير القياسي لدي الإنكليزية فقد تجمع معدوده مع كل الأعداد فيما عدا الواحد فنقول:

Three children
Thousand children
فلا تتغير معدوده او اسم الذي بعده.
¤ يشكل جمع التكسير في العربية بأوزان كثيرة مقيسة وامّا في الإنكليزية (irregular plural) عدده قليل ولا بدّ ان تحفظ لأنه لا يملك أوزان مخصوصة كما في جمع التكسير لدي العربية.

ج-3- مقابلة جمع المركب عند اللغتين
ويصطلح المركب عند الإنكلزية بكلمة "compound" و في العربية هي ما تتكون من كلمتين ولهما مقابلة كما يلي:
¤ ان يكونا من كلمتين بمعنى واحد
¤ ان يكون جمع في صدر او عجز مباشرة
¤ يوجد في الإسم المركب عند العربية فرق بين الإسم العاقل وغيره ويبيِّن المذكر و المؤنث ويجمع الإسم المركب بإضافة "s" في الإنكليزية سواء كان للعاقل او غيره
¤ تزاد كلمة " ذوو" او " ذات" في الإسمي المركبي المجزي و الإضافي عند العربية وتضاف علامة الجمع في الإنكليزية إما قياسيا اوغيره في صدر او عجز او كلاهما.

العربية
الإنكليزية
ابن عباس = بنو عباس
سيبويه = سيبويهون
سيدة الحسن = سيدات الحسن
ابن = بنو = للعاقل وبنات = للعاقلة
ذو = ذوو = لمذكر عاقل, ذات =ذوات = للمؤنث العاقلة وجمع غير العاقلة
برق نحره = ذوو برق نحره
شاب قرناها = ذوات شاب قرناها

Father-in-law = fathers- in- law
Runner- up = runners- up
Boy-friend = boy- friends
Lady –in- waiting = ladies- in- waiting
Man- driver – men- driver


ومن هذه المقابلة نعرف أنّ اللغة العربية والإنكليزية لهما معادلات والمختلفات وكذلك نحث لإستقراء العلوم التى تتعلق بالقواعد الأخرى حتى نتدققَ في تنمية وتنشير اللغة الأجنبية.









الخـلاصــة

ومما ألقت الباحثة في الشرح السابق من هذا البحث يمكن لها أن تخلِّص الأمور الأتية لكي يستطيع ان يقرأها كل قارئ الذي يريد معرفة مقابلة الجمع بين اللغتي العربية والإنكليزية كما يلي:
¤ ينقسم الجمع في العربية الى ثلاثة أقسام فهي جمع المذكر والمؤنث السالمين وجمع التكسير ويسمى جمع المذكر والمؤنث السالمين بجمع السلامة او جمع القياسي وجمع التكسير بجمع غير القياسي.
¤ ينقسم الجمع في الإنكليزية الى ثلاثة أقسام فهي (regular plural) وجمع غير القياسي (irregular plural), وجمع المركب (compound plural)
¤ كانت المقابلة حول الجمع بين اللغتين أنّ في العربية جمع ما أكثر من اثنين او اثنتين وأما في الإنكليزية ما أكثر من واحد. وكان للجمع القياسي قواعد مخصوصة في شكل الجمع واما جمع غير القياسي فإنه خروجا من القواعد المقررة.



















المقتبسات


õ Dosen Fakultas IAIN
[1] عزيزة فوال بابتي, المعجم المفصل في النحو العربيّ, (دار الكتب العلمية , بيروت, 1992, ص: 415).
[2] إميل بديع يعقوب و ميشال عاصى , المعجم المفصل في اللغة والأدب , (دار العلم للملايين, بيروت, 1982: ص. 51).
[3] نفس المرجع ,القران الكريم سورة الأنبياء اية 79.
[4] السكاكي, مفتاح العلوم, دت, ص:27
[5] مصطفى غلاييني , جامع الدروس العربية , المكتبة العصرية: بيروت, لبنان, 1987, ص: 67)
[6] عبد الله درويش , دراسات في علم الصرف , مكتبة الطالب الجامعي, مكة المكرمة, 1987, ص: 137)
[7] عبد المنعم سيد عبد العال , النحو الشامل, مكتبة النهضة المصرية , دت, ص: 64)
[8] إ ميل بديع يعقوب و ميشال عاصى , ص : 54.
[9] إبراهيم أنيس , من أسرار اللغة , المكتبة الأنجلو المصرية, لبنان , 1985, ص: 272
[10] مصطفى غلاييني , جامع الدروس... ص: 17.
[11] حضرات حفني بك ناصف , كتاب قواعد اللغة العربية , ص: 42.
[12] محمد ابن أحمد عبد البارى الهدل, كواكب الدرية , اوسها كلوارك, سمارنج, دون السنة, ص: 33.
[13] عبد المنعم سيد عبد العال , النحو الشامل , المكتبة النهضة المصرية , دت, ص:71).
[14] As Hornby with AP Cowie,et.al, Oxford Advanced Leaner’s Dictionary Of Current English, oxford university, 1987,:h. 643.
[15] ماريو باي , أسس علم اللغة, عالم الكتب , القاهرة, 1987, ص: 107.
[16] حارث سليمان فاروق , معجم القانون , مكتبة لبنان ساحة رياضة الصلح : بيروت, 1991 ص: 387.
[17] A. Merriam Websters, Webster’s third New International Dictionary of English Language, Unabridged, G&C Merriam Company Publishers: Springfield Massachusets, 1966, h.27.
[18] AJ. Thomson and AV Martinet, A Practical English Grammar, Oxford University Press: London, 1986, h. 27-29.
[19] محمد حسن عبد العزيز, الوضع اللغوي في الفصحى المعاصرة , دار الفكر العربي, القاهرة, 1992و ص: 216.